Malut, Investigasi.News-, Suatu malam di Sanana, selepas shalat isya dan makan malam, saya duduk di sebuah warung kopi tak jauh dari rumah saya. Seorang kawan datang dan berujar santai, “Tulisan-tulisanmu sekarang bagus dan tajam sekali, Pak Mohtar. Tapi hati-hati, orang bisa salah paham. Karena saya dengar ada yang mengatakan urus saja kampusmu, jangan urus pemerintahan daerah.” Ucapan itu terdengar ringan, tapi menyimpan luka yang dalam di ruang nalar publik kita. Mengapa kritik terhadap kebijakan pemerintah dianggap sebagai tindakan mencampuri urusan yang bukan wilayah akademisi?
Di Kepulauan Sula, negeri kecil dengan semangat sosial yang kuat, kita sering menyaksikan bagaimana fanatisme tumbuh dalam bentuk yang halus: loyalitas tanpa logika. Banyak yang lebih memilih diam atau membenarkan kekuasaan ketimbang mengajukan pertanyaan kritis. Padahal, dari sinilah awal mula kebekuan berpikir lahir. Fanatisme pelan-pelan menjelma menjadi tembok yang menghalangi arus dialog dan membungkam kesadaran.
Sebagai seorang pendidik, saya tidak bisa tinggal diam melihat nalar publik dikungkung oleh perasaan takut untuk berpikir berbeda. Kampus bukanlah menara gading yang steril dari realitas sosial. Ia adalah ruang untuk menghidupkan kesadaran kritis, menumbuhkan daya nalar, dan memelihara kejujuran intelektual agar tidak mati oleh tekanan politik atau fanatisme sempit.
Fanatisme, dalam pandangan filosofis, adalah bentuk keterasingan manusia dari kebenaran. Ia mematikan kemampuan rasional dan menutup ruang perdebatan sehat. Dalam keadaan demikian, yang berkuasa bukan lagi argumentasi, melainkan emosi; bukan kebenaran, melainkan pembenaran. Dan di situlah akal sehat publik kehilangan arah.
Saya menulis bukan untuk menyerang siapa pun, tetapi untuk menjaga kesadaran kita agar tidak larut dalam euforia loyalitas yang membutakan. Kritik yang jujur tidak lahir dari kebencian, melainkan dari cinta terhadap daerah ini. Sebab mencintai Sula berarti berani berbicara demi perbaikannya, bukan hanya memujinya tanpa berpikir.
Mereka yang fanatik sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang hidup dalam “penjara pikiran”. Penjara yang tak kasat mata, namun membelenggu kesadaran agar tunduk pada figur dan kepentingan tertentu. Dalam penjara itu, kritik dianggap dosa, dan keberanian berpikir dianggap penghianatan.
Namun, sejarah tidak pernah berpihak pada mereka yang membungkam nalar. Ia selalu berpihak pada yang berani berpikir, walau sendirian. Sebab kebenaran sejati tidak butuh barisan pengikut, melainkan hati yang tulus dan pikiran yang jernih.
Saya sadar, posisi seorang akademisi sering kali tidak populer di mata penguasa. Tapi kebenaran tidak diukur dari banyaknya tepuk tangan. Ilmu pengetahuan lahir dari keberanian mempertanyakan, bukan dari kenyamanan membenarkan. Ketika akal tunduk pada kekuasaan, di situlah awal kemunduran peradaban dimulai.
Fanatisme yang membelenggu bukan hanya soal politik, tetapi soal keberanian manusia untuk berpikir bebas, jujur, dan bertanggung jawab. Sebab di atas semua perbedaan, yang kita butuhkan hari ini bukan keseragaman pikiran, melainkan kejernihan hati untuk melihat kebenaran tanpa takut kehilangan posisi sosial.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling keras membela kekuasaan, tetapi siapa yang tetap jujur di tengah tekanan. Fanatisme boleh mengikat lidah dan menutup telinga, tapi ia takkan pernah membungkam nurani yang berpihak pada kebenaran.
Karena pada waktunya, suara yang lahir dari kejujuran intelektual akan menembus dinding tebal fanatisme itu sendiri dan dari sanalah, peradaban Sula yang berakal sehat akan menemukan kembali jiwanya.
Penulis: DR. Mohtar Umasugi, S.Ag., M.Pd.I



