Malut, Investigasi.News-, Seakan menjadi “kebiasaan” setiap jelang hari raya, linimasa media sosial acapkali dipenuhi ucapan seragam; “Selamat Idul Fitri”, “Taqabbalallahu minna wa minkum”, dan “mohon maaf lahir dan batin”. Saat mana gema takbir, tahlil, dan tahmid juga bertransformasi menjadi teks, gambar, dan video yang beredar cepat di ruang digital.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal penting, ekspresi keagamaan umat Islam kini tidak lagi terbatas pada ruang ritual, tetapi telah mengalami perluasan ke ruang virtual yang serba instan.
Di satu sisi, hal ini patut diapresiasi. Media sosial telah menjadi medium baru yang memungkinkan umat Islam tetap terhubung, menyapa, dan menjalin silaturahmi meskipun terpisah oleh jarak. Ucapan-ucapan keagamaan menjadi jembatan komunikasi yang murah, cepat, dan menjangkau luas. Dalam konteks masyarakat modern yang mobilitasnya tinggi, kehadiran ruang digital jelas memberi kemudahan yang tidak bisa diabaikan.
Namun demikian, fenomena ini mengundang pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana ekspresi keagamaan tersebut merefleksikan kedalaman spiritual umat Islam? Apakah ia benar-benar lahir dari kesadaran batin setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan, atau sekadar menjadi rutinitas kultural yang diulang setiap tahun tanpa refleksi?
Secara teologis, takbir (Allahu Akbar), tahlil (La ilaha illa Allah), dan tahmid (Alhamdulillah) bukanlah sekadar ungkapan verbal. Ketiganya merupakan inti dari kesadaran tauhid, suatu sikap singkretisme yang bermakna pengakuan atas keagungan, keesaan, dan segala pujian bagi Allah. Takbir yang dikumandangkan pada malam Idul Fitri, misalnya, bukan hanya simbol kemenangan, tetapi juga penegasan bahwa manusia kembali pada posisi hakikinya, yakni makhluk yang lemah di hadapan Tuhan Yang Maha Besar.
Demikian pula ungkapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” yang secara harfiah berarti “semoga Allah SWT menerima amal ibadah kami dan kalian”. Ungkapan ini mencerminkan kerendahan hati seorang mukmin yang tidak pernah merasa pasti atas diterimanya amal. Sementara “mohon maaf lahir dan batin” menunjukkan kesadaran etis bahwa hubungan antar manusia perlu dipulihkan sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah.
Masalahnya muncul ketika ungkapan-ungkapan tersebut direproduksi secara massif di media sosial. Dalam karakter media yang serba cepat dan repetitif, ekspresi keagamaan berpotensi mengalami pergeseran makna (dari yang semula reflektif menjadi sekadar performatif). Ucapan Idul Fitri dapat dengan mudah disalin, ditempel, dan dibagikan tanpa keterlibatan emosional maupun spiritual yang memadai. Pada titik ini, religiusitas berisiko berubah menjadi simbol belaka.
Pertanyaan kritisnya: apakah setiap takbir yang kita unggah benar-benar lahir dari kesadaran spiritual? Apakah setiap permohonan maaf yang kita kirimkan mencerminkan ketulusan hati? Ataukah semua itu sekadar basa-basi digital yang mengikuti arus kebiasaan kolektif?
Puasa Ramadan sejatinya adalah proses pembentukan diri. Ia melatih kejujuran, pengendalian hawa nafsu, empati terhadap sesama, dan kesadaran akan kehadiran Tuhan. Jika proses ini berjalan dengan baik, maka Idul Fitri seharusnya menjadi momentum transformasi dan bukan sekadar perayaan. Dengan kata lain, kemenangan yang dirayakan bukan hanya kemenangan simbolik, tetapi kemenangan etis dan spiritual.
Namun realitasnya tidak selalu demikian. Media sosial seringkali menjadi ruang dimana identitas keagamaan ditampilkan untuk mendapatkan pengakuan sosial. Ucapan Idul Fitri bisa menjadi bagian dari “panggung” identitas tersebut. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa seseorang religius, santun, dan peduli. Dalam situasi ini, batas antara ketulusan dan pencitraan menjadi kabur.
Meski demikian, tidak tepat pula jika seluruh ekspresi digital dianggap sebagai bentuk ketidaktulusan. Banyak orang yang memang memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk menyambung silaturahmi, terutama ketika pertemuan fisik tidak memungkinkan. Dalam hal ini, media sosial memiliki fungsi sosial yang penting: menjaga hubungan, menyebarkan kebaikan, dan memperluas jaringan komunikasi.
Akan tetapi, perlu disadari bahwa silaturahmi dalam Islam tidak berhenti pada pertukaran pesan. Ia mengandung dimensi kehadiran, empati, dan keterlibatan emosional. Silaturahmi adalah relasi yang hidup—yang tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan dan diwujudkan. Oleh karena itu, komunikasi digital seharusnya diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti dari interaksi sosial yang lebih mendalam.
Fenomena maraknya ucapan Idul Fitri di media sosial juga dapat dibaca sebagai gejala komodifikasi agama di era digital. Simbol-simbol keagamaan dikemas secara sederhana, diproduksi secara massal, dan dikonsumsi secara cepat. Akibatnya, makna yang semula mendalam berisiko mengalami penyederhanaan. Idul Fitri, yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan penyucian diri, dapat tereduksi menjadi sekadar euforia tahunan.
Di sinilah pentingnya sikap reflektif. Umat Islam perlu kembali menimbang: apakah ekspresi keagamaan yang ditampilkan benar-benar mencerminkan kondisi batin, atau hanya mengikuti arus sosial? Apakah ucapan maaf yang dikirimkan telah diiringi dengan kesediaan untuk memperbaiki hubungan secara nyata? Apakah takbir yang dilantunkan telah menghadirkan kesadaran akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?
Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik—momentum untuk mengevaluasi diri setelah sebulan berpuasa. Jika Ramadan telah membentuk pribadi yang lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli, maka ekspresi keagamaan, baik di dunia nyata maupun digital, akan memancarkan ketulusan yang autentik.
Sebaliknya, jika tidak ada perubahan yang berarti, maka seluruh ucapan dan simbol itu hanya akan menjadi formalitas tanpa makna.
Pada akhirnya, tantangan umat Islam di era digital bukanlah memilih antara dunia nyata dan dunia maya, tetapi bagaimana menghadirkan kedalaman makna dalam keduanya. Media sosial boleh menjadi ruang ekspresi, tetapi substansi tetap harus berakar pada kesadaran spiritual. Dengan demikian, Idul Fitri tidak berhenti sebagai euforia digital, melainkan menjadi perayaan keikhlasan yang benar-benar hidup dalam sikap dan perilaku.
Di sanalah letak kemenangan yang sesungguhnya. Kemenangan atas raihan puncak tertinggi pendakian berkah, rahmah dan maghfirah ramadhan, juga ketawad-dhuan diri pada singkretisme hamba terhadap Tuhan serta kesadaran akan pentingnya etos sosial kemanusian.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Wajo AR
Akademisi IAIN Ternate,
Sekretaris Jenderal PP-HPMS.




