Banner iklan

Sekolah Tatap Muka Dilanjutkan, Pemkab Solsel Terus Pantau Perkembangan Kabut Asap

More articles

Padang Aro – Pemerintah Kabupaten Solok Selatan terus memantau perkembangan kabut asap yang terjadi sejak satu bulan terakhir. Perkembangan kondisi ini juga berdampak pada penyesuaian proses belajar mengajar di seluruh sekolah yang ada di Solok Selatan.

Pemerintah kabupaten telah beberapa kali menyesuaikan pelaksanaan proses belajar, dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk tingkat SD/MTs dan SMP/MTs. Untuk tingkat SMA/sederajat pun juga mengikuti kebijakan yang sama.

Pekan lalu pun, tepatnya Kamis (15/10/2026), seluruh siswa dipulangkan lebih cepat dan melaksanakan PJJ sejak Jumat hingga Selasa (16-20/10/2026) pekan ini.

Sekretaris Daerah Solok Selatan Dr. Syamsurizaldi mengatakan perkembangan cuaca akibat kabut asap ini sangat dinamis. Kebijakan pemerintah pun juga akan mengikuti perkembangan cuaca yang ada.

“Situasi kabut terkini memang agak tebal setelah hujan hampir di seluruh wilayah Solok Selatan, yang bertepatan juga dengan kembali dimulainya proses belajar tatap muka,” kata Syamsurizaldi ketika dihubungi, Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, pemerintah kabupaten akan terus mengevaluasi kondisi kabut asap terkini dan menyesuaikan kebijakan yang diperlukan, terutama untuk besok Kamis (22/10/2026) pagi.

Untuk saat ini pemerintah kabupaten tetap memberlakukan pembelajaran tatap muka dengan beberapa catatan sesuai dengan edaran terbaru. Dimana seluruh warga sekolah diminta untuk mengenakan masker saat berangkat, selama belajar, dan saat pulang.

Evaluasi Pelaksanaan PJJ

Kepala Dinas Pendidikan Solok Selatan Hamudis menerangkan bahwa bersamaan dengan pemantauan kondisi cuaca, juga dilakukan evaluasi pelaksanaan PJJ beberapa waktu terakhir. Evaluasi ini juga melibatkan Kantor Kementerian Agama Solok Selatan.

“Dari hasil evaluasi PJJ yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kemenag, ternyata PJJ tidak efektif untuk memastikan anak tidak terpapar kabut asap. Sebab masih banyak yang keluyuruan keluar rumah, bahkan tanpa mengenakan masker,” terang Hamudis secara terpisah.

Padahal, menurutnya pelaksanaan belajar dari rumah harus dipastikan siswa tetap terhubung dengan sekolah dan tetap belajar atau mengerjakan tugas secara terstruktur.

Selain itu, laporan dari beberapa orang tua siswa secara langsung juga mengeluhkan kemampuan untuk mendampingi siswa selama belajar dari rumah. Kendalanya seperti anak tetap keluyuran di luar rumah atau tetap di dalam rumah tapi lebih sibuk dengan gadget ketimbang belajar.

“Sehingga dari evaluasi itu, makanya pembelajaran tatap muka tetap dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sebagaimana edaran yang disampaikan,” terangnya.

Di sisi lain, kondisi kabut asap yang kian tebal hingga mengganggu jarak pandang dan pernapasan sejak pagi ini, padahal Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) justru menurun pagi ini disebabkan karena hujan yang terjadi di pagi hari.

Plt. Kepala Dinas Perkim-LH dan Perhubungan Alfino Sendra menjelaskan hujan membuat kabut asap terasa semakin tebal di Solok Selatan. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi polusi udara kiriman dan efek perubahan kelembapan drastis akibat air hujan.

“Saat hujan membasahi tanah Solok Selatan yang hangat, air tersebut menguap kembali ke udara dan meningkatkan kelembapan secara drastis. Uap air yang melimpah ini langsung menempel pada partikel asap (PM2.5) yang sudah menggantung di atmosfer, bertindak seolah-olah seperti ‘em’ yang mengikat partikel tersebut menjadi butiran kabut basah yang jauh lebih besar dan padat,” terangnya.

Jika hujan yang turun hanya berupa rintik-rintik atau hujan dengan intensitas ringan-sedang, air tersebut tidak cukup kuat untuk mencuci (membilas) polutan keluar dari atmosfer. Sehingga bukannya membersihkan udara, hujan ringan justru menambah massa air pada partikel asap sehingga menghalangi cahaya dan memperpendek jarak pandang.

Menurut pantauan BMKG terkait situasi terkini di Sumatera Barat, asap yang menyelimuti Solok Selatan merupakan asap kiriman dari kebakaran hutan di provinsi tetangga, yakni dari Jambi dan Sumatera Selatan. Hujan lokal mendinginkan suhu udara di permukaan tanah. Jadi ketika udara di bawah dingin tetapi lapisan udara di atasnya tetap hangat, tercipta lapisan inversi.

Lapisan ini bertindak seperti ‘tutup panci’ raksasa yang mengunci kabut asap tetap berada di bawah dekat permukaan jalan dan tidak bisa naik ataupun ditiup angin. (DEno)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest