Malut, Investigasi.News-, Suroso (Ketua Kelompok Tani Desa Fukweu) Kecamatan Sanana Utara, di Kabupaten Kepulauan Sula-Maluku Utara, mendukung penuh kebijakan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena menurutnya telah meningkatkan penghasilan para Petani, yakni penjualan sayur-mayur mudah laku, selain dijual melalui tengkulak, juga dari SPPG rutin membeli hasil pertanian untuk kebutuhan bahan baku MBG yang memerlukan penyediaan bahan pangan berupa hasil pertanian dari para Petani di Sula.
Kepada investigasi, Suroso mengatakan potensi hambatan terkait peningkatan hasil pertanian yaitu musim kemarau, karena faktor cuaca sehingga petani keterbatasan air untuk perawatan tanaman, selain itu Bibit, Pupuk dan Pestisida juga menjadi masalah yang kerap dihadapi para Petani, namun demikian hal tersebut diatas sering mendapatkan solusi maupun dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Dinas terkait.
“Peralatan teknis seperti alat bajak yang sering rusak juga menghambat kami para Petani untuk membuka lahan baru, sehingga perlu perhatian lebih dalam lagi dari Pemda Sula melalui Dinas terkait, yakni Dinas Pertanian untuk melakukan pendampingan”, ujar Suroso.
Menurutnya, kapasitas produksi pangan selama dua bulan panen untuk kacang panjang sebanyak 100 ikat dan Buncis 20 Kilo dengan panen 1 minggu sebanyak tiga kali, bersamaan dengan kacang panjang, ketimun sebanyak 25-85 kilogram dengan panen petik sebanyak tiga kali seminggu, sedangkan untuk sayuran jenis Sawi sebanyak 300 Kg, jagung sebanyak 250 Kg satu kali panen, sementara untuk sayur Terong 40 Kg dalam seminggu 3 kali panen, Cabe Rawit 60 Kg panen petik seminggu tiga kali, Cabe Rawit kecil 40 Kg dengan waktu petik satu minggu sekali, Tomat 160 Kg dengan waktu panen seminggu tiga kali, untuk buah Semangka 1 Ton tiga kali panen, sayur Kangkung 60 Kg dalam waktu seminggu sekali petik, Bayam Merah 60 Kg seminggu sekali panen dan Bayam Hijau 60 Kg seminggu sekali panen.
“Pada intinya frekuensi panen berbeda sesuai jenis komoditas”, pungkas Suroso.
Sedangkan untuk faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan MBG sejauh ini belum ditemukan penolakan dari kelompok tani terhadap Program MBG, namun demikian perlu dukungan serius dari Pemda dengan mengajak kami untuk duduk bersama guna menciptakan ketahanan pangan di daerah.
“Sehingga para Petani bisa diarahkan terkait kebutuhan atau permintaan pasar, agar bertani sesuai dengan target maupun keinginan Petani, satu lagi yang terpenting, yaitu bertanam hasil pertanian cepat terjual”, tandasnya.
Kepada media ini Suroso mengatakan, bahwa dirinya bersedia mengajak anggotanya untuk menjaga produktivitas serta membangun komunikasi dengan Pemerintah Daerah, khususnya Bupati dan SPPG, maupun pihak terkait.




