Kota Malang – Dewan Kampung Nuswantara (DKN) bersama 10 (sepuluh) organisasi kemasyarakatan (ormas) serta perwakilan pengemudi angkutan kota (angkot) di Malang Raya menggelar konferensi pers dan pernyataan sikap bersama di Gedung GKB IV Pascasarjana, Kampus II Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kota Malang.
Kegiatan ini diselenggarakan untuk merilis hasil Survei Persepsi Publik sekaligus menyampaikan deklarasi dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat terhadap rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Koridor 2 Malang Raya dengan rute Terminal Talangagung Kepanjen – Terminal Hamid Rusdi – Terminal Arjosari.
Tim Riset Independen memaparkan hasil penelitian yang menggunakan metode Purposive Random Sampling terhadap 750 responden pengguna angkutan umum di Malang Raya, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar 3,57 persen.
Hasil survei tersebut menghasilkan beberapa temuan utama sebagai berikut:
- Dukungan Masyarakat Sangat Tinggi (90,9 Persen)
Sebanyak 54,5 persen responden menyatakan setuju dan 36,4 persen menyatakan sangat setuju terhadap kehadiran Trans Jatim Koridor 2 sebagai solusi untuk mengurai kemacetan serta menyediakan moda transportasi publik yang aman, tepat waktu, dan terjangkau. - Dukungan terhadap Sistem Angkot Feeder (100 Persen)
Seluruh responden, terdiri atas 63,6 persen yang menyatakan setuju dan 36,4 persen yang menyatakan sangat setuju, mendukung penuh gagasan pengalihan fungsi angkutan kota (angkot) menjadi angkutan pengumpan (feeder) modern dari kawasan permukiman dan sekolah menuju halte bus utama. - Penyelarasan Rute Permukiman dan Sekolah (90,9 Persen)
Usulan integrasi rute feeder yang melintasi kawasan Sawojajar, Oro-Oro Dowo, Soekarno-Hatta (Suhat), Sukun, Bumiayu, serta kawasan sekolah dinilai sangat tepat sasaran dalam mendukung mobilitas harian masyarakat. - Respons Pelaku Transportasi dan Solusi Koperasi (100 Persen Bersedia)
Dari 23 persen sampel responden yang berprofesi sebagai sopir angkot dan pengemudi ojek daring, mayoritas, yakni 87,8 persen, menilai bahwa kehadiran Trans Jatim tidak akan berdampak negatif terhadap pendapatan mereka.

Ketua Dewan Kampung Nuswantara (DKN), Ach Harun Al Rasid, mengatakan bahwa Trans Jatim Koridor 2 bukan sekadar proyek transportasi, melainkan kebutuhan dasar masyarakat Malang Raya untuk memperoleh akses mobilitas yang layak dan manusiawi.
“Jadi, wajar jika hasil survei membuktikan bahwa kekhawatiran akan terjadinya konflik sosial di jalanan tidak beralasan. Sebab, 100 persen sopir angkot siap mendukung skema feeder selama kesejahteraan mereka dijamin melalui koperasi,” ujar Harun mewakili Konsorsium Ormas.
Melalui rilis tersebut, DKN menyampaikan tiga desakan utama kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah daerah se-Malang Raya, yaitu:
- Kepastian Legalitas Koperasi
Segera merumuskan payung hukum serta skema pendanaan yang dapat menjamin pendapatan harian para pengemudi angkot yang beralih menjadi pengemudi angkutan feeder. - Manajemen Trayek Bebas Tumpang Tindih (Overlapping)
Menetapkan jalur permukiman dan kawasan sekolah sebagai wilayah operasional eksklusif angkutan feeder agar tidak terjadi tumpang tindih dengan koridor utama Bus Trans Jatim. - Sosialisasi dan Pendampingan
Membuka ruang dialog secara berkelanjutan bersama komunitas pengemudi angkutan lokal guna memastikan proses transisi operasional berjalan lancar dan kondusif di lapangan.
DKN berharap hasil survei ini dapat menjadi dasar pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait pengoperasian Trans Jatim Koridor 2 sehingga tercipta sistem transportasi publik yang terintegrasi, modern, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat serta para pelaku transportasi lokal.
adv/Guh




