PAPUA – Aktivis Papua, Yerri Basri Mak, mengapresiasi film dokumenter _Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita_. Menurutnya, film itu berhasil mengangkat suara dan keluhan masyarakat adat Papua terkait persoalan tanah ulayat, hutan adat, dan ruang hidup masyarakat asli Papua.
Yerri menilai dokumenter tersebut tidak hanya menampilkan sisi budaya Papua, tetapi juga menggambarkan realitas yang dihadapi masyarakat adat akibat pembukaan lahan skala besar di wilayah Papua Selatan.
Dalam narasi film, sejumlah suku adat seperti Marind, Yei, Awyu, dan Muyu disebut menghadapi ancaman hilangnya hutan adat serta ruang hidup akibat ekspansi proyek perkebunan dan program strategis berskala besar di wilayah Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi.
Yerri mengatakan dokumenter itu menjadi gambaran keresahan masyarakat yang merasa tanah adat mereka terus dibabat dan sumber penghidupan warga perlahan menghilang.
“Film ini menyampaikan suara masyarakat Papua yang selama ini mengeluhkan pembabatan hutan adat dan hilangnya lahan milik masyarakat. Ini bukan hanya soal budaya, tetapi tentang kehidupan masyarakat adat yang sedang menghadapi tekanan besar,” ujar Yerri dalam keterangannya.
Ia menegaskan karya dokumenter seperti _Pesta Babi_ penting sebagai media edukasi publik sekaligus ruang penyampaian aspirasi masyarakat adat secara damai dan terbuka. Menurutnya, persoalan tanah dan hutan adat di Papua perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak.
Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu juga menyoroti dampak pembukaan lahan besar-besaran yang dikaitkan dengan proyek perkebunan, bioetanol, dan program ketahanan pangan di Papua Selatan.
Yerri berharap pemerintah pusat maupun daerah dapat lebih mendengar suara masyarakat adat serta memastikan perlindungan terhadap tanah ulayat dan keberlangsungan hidup masyarakat asli Papua.
Jhon



















