Pidie Jaya, Investigasi.News – Jalan protokol di jantung Kota Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, seolah kehilangan tuan. Lubang menganga dan badan jalan yang rusak dibiarkan begitu saja, sementara kendaraan dan warga terus dipaksa mempertaruhkan keselamatan setiap kali melintas.
Ironisnya, kerusakan tersebut bukan berada di pelosok atau kawasan terpencil. Jalan yang dikeluhkan warga justru berada di depan Mapolsek Meureudu, hanya sekitar 100 meter dari Pendopo Bupati dan Wakil Bupati Pidie Jaya. Lokasinya berada di jalur utama keluar-masuk pusat Kota Meureudu yang setiap hari dipadati kendaraan.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: seberapa lama lagi jalan yang disebut warga telah memakan banyak korban itu akan dibiarkan? Apakah pemerintah harus menunggu jatuhnya korban yang lebih parah sebelum bergerak?
Menindaklanjuti keluhan masyarakat, Kontributor Investigasi.News melakukan pemantauan langsung ke lokasi pada Senin (24/8/2026). Hasilnya, kerusakan jalan terlihat nyata. Sejumlah lubang menganga di badan jalan dan menjadi ancaman serius, terutama ketika hujan turun dan genangan air menutupi lubang sehingga sulit terlihat pengendara.
Padahal, jalur tersebut merupakan akses vital masyarakat. Pada jam-jam kerja, arus kendaraan cukup padat. Pengendara sepeda motor, termasuk perempuan dan anak-anak, harus melintas di antara lubang yang sewaktu-waktu dapat membuat kendaraan kehilangan keseimbangan.
Bagi warga sekitar, persoalan ini bukan lagi sekadar soal jalan rusak. Ini sudah menyangkut keselamatan manusia.
Fauzan, salah seorang warga yang berada tidak jauh dari lokasi, mengaku sudah berkali-kali menyaksikan pengendara terjatuh akibat kondisi jalan tersebut. Menurutnya, jumlah korban sulit dihitung karena kejadian sudah terlalu sering terjadi.
“Banyak sekali, Bang, sudah jatuh korban. Apalagi musim hujan. Malam hari ada yang sampai tangannya patah. Saya sendiri kadang sudah malas membantu karena sudah sering sekali warga jatuh,” ujar Fauzan.
Kesaksian tersebut diperkuat Mustafa, petugas parkir yang beraktivitas tidak jauh dari lokasi. Ia mengaku pernah melihat seorang ibu bersama anaknya terjatuh hingga mengalami luka dan lecet akibat lubang yang tertutup genangan air.
“Ada ibu-ibu jatuh, Bang, sampai luka. Dia dan anaknya lecet ketika hujan karena lubangnya tidak terlihat, tertutup air,” jelas Mustafa.
Kesaksian warga itu menunjukkan satu persoalan yang tidak bisa dianggap sepele. Kerusakan jalan bukan hanya mengganggu kenyamanan lalu lintas, tetapi telah berubah menjadi perangkap yang mengintai keselamatan pengguna jalan.
Mita, warga yang kerap melintasi kawasan tersebut, menilai kondisi jalan protokol di pusat kota seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Menurut saya sangat disayangkan. Jalan di pusat kota, jalan protokol, berlubang seperti ini dibiarkan sekian lama. Seharusnya pemerintah peduli, apalagi sudah banyak warga yang jatuh sampai patah dan luka,” ucapnya.
Sementara itu, Julkifli meminta pemerintah tidak menjadikan persoalan anggaran atau kewenangan sebagai alasan untuk membiarkan kondisi jalan semakin parah.
Menurutnya, pemerintah harus segera mengambil langkah nyata sebelum kerusakan tersebut kembali memakan korban.
“Saran saya pemerintah segera memperbaiki. Jangan dibiarkan dulu sampai ada korban meninggal baru diperbaiki. Jangan berdalih ini dan itu. Katanya demi kepentingan masyarakat, untuk kebersamaan dan mengutamakan kepentingan umum. Mana buktinya?” tegas Julkifli.
Pernyataan warga tersebut menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Sebab, pembangunan infrastruktur pada akhirnya bukan sekadar soal proyek dan anggaran, melainkan tentang memastikan masyarakat dapat menggunakan fasilitas publik dengan aman.
Terlebih lagi, jalan yang dikeluhkan berada di pusat pemerintahan dan dekat dengan sejumlah fasilitas penting. Jika jalan protokol di pusat kota saja dibiarkan berlubang dan menelan korban, lalu bagaimana masyarakat harus menilai keseriusan pemerintah dalam menjamin keselamatan publik?
Investigasi.News masih berupaya mendapatkan penjelasan dari Dinas Pekerjaan Umum setempat terkait status kewenangan jalan, penyebab kerusakan, serta langkah konkret pemerintah untuk memperbaikinya.
Hingga berita ini ditulis, Kontributor Investigasi.News belum memperoleh penjelasan substantif dari pihak Dinas Pekerjaan Umum. Plt Kepala Dinas PU, Eddy, hanya memberikan jawaban singkat melalui pesan.
“Siap, Bang, sebentar Bang,” tulisnya.
Jawaban singkat tersebut tentu belum menjawab keresahan warga. Pertanyaan publik kini sederhana: kapan lubang-lubang itu ditutup, siapa yang bertanggung jawab, dan berapa korban lagi yang harus jatuh sebelum jalan protokol Meureudu benar-benar diperbaiki?
(Herry)








