SORONG SELATAN, Investigasi.News — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sedikitnya tujuh distrik di Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya. Kondisi cuaca yang masih kering dan minimnya curah hujan memperbesar risiko meluasnya titik kebakaran.
Kapolres Sorong Selatan AKBP Praja Gandha Wiratama, S.H., S.I.K., M.H. mengungkapkan, wilayah terdampak tersebar mulai dari Distrik Sauyat hingga Distrik Kokoda yang merupakan salah satu wilayah terjauh dari pusat pemerintahan kabupaten.
Meski kebakaran terjadi di sejumlah wilayah, hingga kini belum terdapat laporan korban jiwa akibat karhutla tersebut.
“Kurang lebih ada tujuh distrik yang terdampak kebakaran lahan, mulai dari Distrik Sauyat sampai yang juga terjadi di Kokoda,” ujar AKBP Praja Gandha Wiratama.
Penanganan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan Polres Sorong Selatan, Pemerintah Kabupaten Sorong Selatan melalui BPBD, Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan, serta unsur TNI dari Kodim dan Batalyon TP.
Seluruh unsur tersebut tergabung dalam tim gabungan yang bertugas melakukan pemantauan, menerima laporan masyarakat, sekaligus melaksanakan upaya pemadaman di lokasi terdampak.
Kepolisian juga membuka hotline resmi bagi masyarakat yang menemukan titik api maupun mengetahui adanya kebakaran hutan dan lahan. Setiap laporan yang masuk akan dikoordinasikan dengan tim gabungan untuk segera ditindaklanjuti.
Namun, upaya pemadaman menghadapi tantangan serius. Selain keterbatasan sarana dan prasarana, kondisi geografis Kabupaten Sorong Selatan yang luas membuat akses menuju sejumlah lokasi kebakaran tidak mudah.
Kondisi paling berat dihadapi tim gabungan saat menangani karhutla di Distrik Kokoda. Jarak yang jauh dari pusat kabupaten membuat mobilisasi personel maupun peralatan pemadam membutuhkan dukungan sarana transportasi yang memadai.
“Memang lokasi wilayah yang terjadi kebakaran terlalu jauh dari pusat kabupaten, jadi membutuhkan sarana prasarana,” jelasnya.
Tidak hanya persoalan jarak, ketersediaan sumber air di Kokoda juga menjadi kendala. Cuaca kering menyebabkan sejumlah titik sumber air sulit ditemukan sehingga menyulitkan proses pemadaman.
“Untuk distrik paling jauh, Kokoda, titik airnya juga susah karena memang sekarang ini kering,” katanya.
Menurut Kapolres, penanganan karhutla di tujuh distrik secara umum telah dilakukan. Namun, untuk wilayah terjauh seperti Kokoda, diperlukan dukungan sarana dan prasarana yang lebih memadai agar proses pemadaman dapat dilakukan secara optimal.
Akses menuju lokasi juga menjadi perhatian karena tim gabungan harus mempertimbangkan jalur sungai maupun laut untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses melalui jalur darat.
“Kalau api dari tujuh distrik ini, penanganan sudah bisa kami lakukan. Cuma distrik yang terjauh yaitu Kokoda, penanganan perlu sarana prasarana lebih,” ungkapnya.
Sementara itu, terkait penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan adanya unsur kesengajaan, kepolisian masih melakukan penelusuran. Satreskrim Polres Sorong Selatan menangani aspek penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran sekaligus memastikan ada atau tidaknya unsur pidana.
Kapolres menegaskan, setiap informasi masyarakat terkait titik api sangat dibutuhkan untuk mempercepat respons di lapangan. Masyarakat diminta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran hutan dan lahan melalui hotline resmi kepolisian.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat kondisi cuaca yang masih kering, sementara akses menuju sejumlah wilayah terdampak, khususnya Kokoda, masih menjadi tantangan utama bagi tim gabungan. (Jhon)













