Jadi Broker Itu Harus Sabar

Setiap perjalanan kehidupan, baik dalam profesi, pertemanan dan lainnya tidak ada yang mulus, termasuk menjadi seorang broker. Setiap hari penulis selalu memposting tanah yang akan di jual di media sosial, semua tanah orang yang dititipkan untuk di bantu menjualkan. Namun namanya rezeki kadang cepat kadang lambat , kadang dalam satu bulan tidak ada pembeli.

Tapi apabila sedang lagi ada rejekinya, kadang posting pagi, sore sudah di tawar orang. Kalau tidak sudah dua puluh kali orang dibawa untuk melihat tidak ada yang suka. Dan tak kalah menyedihkannya, suatu ketika sudah janji untuk jual beli sampai di notaris malah dibatalkan. Kadang di Fitnah dan tuduhan juga kadang tidak bisa terelakkan. Seperti dibilang menaikkan harga tanah mereka padahal tidak. Itu lah beragam gaya dan dan beragam tipe yang ditemui seorang broker.

Meski lebih banyak duka dari sukanya, penulis tetap sabar menjadi broker . Karena disini penulis menjadikan sabar dan jujur sebagai kunci untuk bisa bertahan jadi broker. Jangan sekali-kali berbohong, karena setiap yang salah itu akan cepat diketahui oleh orang lain dan Allah akan membenci kita, rezeki akan menghindar dari kita.

id=”attachment_36898″ align=”alignnone” width=”1600″] Hasneril saat meninjau tanah yang akan dijual. (Foto: dok Istimewa)[/caption]

Singkat cerita, penulis sudah melakoni jadi broker ini sekitar 10 tahun lebih. Setiap tanah yang mau dijual selaku berusaha untuk dibersihkan terlebih dahulu, supaya konsumen tidak ada keraguan itu beda penulis dengan broker lain. Kadang habis waktu perjanjian untuk menjualkan tanah atau rumah selang beberapa lama terjual sama orang lain, penulis sabar karena itu tidak rezeki

Walaupun uang dan tenaga sudah habis untuk membersihkan rumah atau tanah tersebut, tapi tak mengapa, itu lah namanya perjuangan.harus tahu mana yang ada rezeki saya di dalamnya, dan juga harus menerima dengan ikhlas dan sabar apa yang menjadi ketentuan Allah, agar tidak kecewa.

Suatu ketika, penulis pernah dituduh yang tidak-tidak seperti menaikan harga, tidak mempromosikan tanahnya, ini biasanya yang punya mengelak untuk mengeluarkan komisi atau uang jasa. Malahan kadang yang memperlakukan begitu adalah orang yang sangat penulis segani dan tidak akan mungkin mereka mengecewakan penulis, sangat berat perjuangan tapi dikecewakan saya tetap sabar.

Jadi broker ini, berapa pun penghasilan yang didapat selalu disisihkan untuk bersedekah. Yang paling utama untuk Panti Asuhan Putra Muhammadiyah Lubukbasung dan Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubuk Basung.

Bahkan, penulis sering memaksa diri untuk mampu berbagi setiap hari walaupun tidak dapat rezeki dari hasil broker. Tak harus selalu dengan materi, bisa juga dengan jasa yang di miliki lain.

Saya berusaha untuk setiap objek yang akan di jualkan sudah saya niatkan ada rezeki orang lain didalamnya. terutama anak pondok dan anak Panti. Dengan adanya niat inilah penulis berharap rejeki bisa dilimpahkan agar bisa membantu sesama.

Penulis: Hasneril, SE