Sumberpucung, Malang — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang terus berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi ibu hamil dan bayi demi mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI) serta angka kematian bayi (AKB).
Sebagai langkah strategis, Dinkes menggelar kegiatan Pendampingan Tim Ahli Spesialis Anak (Sp.A) dan Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG) di UPT Puskesmas Sumberpucung pada Senin (31/8/2026).
Kegiatan pendampingan tersebut berfokus pada penguatan pelayanan kesehatan ibu dan bayi, penanganan kegawatdaruratan, serta penataan sistem rujukan maternal dan neonatal di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).

Acara dibuka langsung oleh Kepala UPT Puskesmas Sumberpucung, drg. Rahmawati Daha, yang menegaskan pentingnya penguatan kapasitas tenaga medis di garis terdepan.
“Forum pendampingan ini sangat membantu kami dalam mengasah keterampilan, mulai dari deteksi dini risiko, tata laksana kasus kegawatdaruratan, hingga pengambilan keputusan rujukan yang tepat waktu. Ini merupakan kunci utama untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak serta menekan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB) di wilayah kerja UPT Puskesmas Sumberpucung,” ujar drg. Rahmawati Daha.

Sambutan dilanjutkan oleh Rita, S.Tr.Keb., selaku Ketua Tim Kerja Kesehatan Keluarga (Katimja Kesga) Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Ia menyampaikan bahwa keterpaduan alur penanganan klinis dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan harus berjalan tanpa hambatan.
«“Sistem rujukan tidak boleh terlambat. Melalui bimbingan langsung dari tim ahli ini, kami ingin memastikan setiap bidan, perawat, dan dokter umum di puskesmas memiliki standar kewaspadaan dan respons penanganan darurat yang sama di lapangan,” tegas Rita.»
Memasuki sesi inti, pemaparan materi teknis dan tata laksana klinis disampaikan oleh tim dokter ahli, yakni dr. Maria, Sp.A. dan dr. Wildan, Sp.OG. Dalam paparannya, para spesialis memberikan edukasi mengenai deteksi risiko tinggi, stabilisasi pasien, hingga penanganan krisis maternal dan neonatal.
“Dalam kasus kegawatdaruratan kebidanan dan bayi baru lahir, kita berkejaran dengan menit. Kesalahan kecil dalam deteksi awal bisa berdampak fatal. Kami ingin memastikan jajaran di puskesmas memiliki ketepatan dan kepercayaan diri yang tinggi saat melakukan tindakan pertama,” ungkap dr. Wildan, Sp.OG.
Kegiatan tersebut diikuti secara aktif oleh jajaran tenaga kesehatan UPT Puskesmas Sumberpucung, yakni dokter umum fungsional, PJ KIA, PJ Gizi, bidan, dan perawat pelaksana.
Guna memberikan gambaran penanganan secara nyata, UPT Puskesmas Sumberpucung memfasilitasi kehadiran responden langsung, yaitu satu orang ibu hamil berisiko tinggi (resti) dan satu orang bayi berusia 6–7 bulan kurang satu hari.
Usai pemaparan dan simulasi penanganan kasus sampel, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab interaktif terkait layanan kesehatan anak terpadu serta tata laksana kasus di lapangan.
«“Sesi diskusi ini sangat membuka mata kami. Banyak kendala klinis dan alur rujukan tak terduga yang sering kami temui di lapangan. Hari ini kami mendapat arahan dan solusi yang sangat jelas langsung dari ahlinya,” ungkap dr. Mentari, salah satu peserta dokter umum.»
Melalui pendampingan intensif tersebut, UPT Puskesmas Sumberpucung siap meningkatkan kualitas kesiapsiagaan klinis dan sinergi rujukan demi keselamatan ibu dan anak di wilayah Malang.








