PIDIE JAYA — Investigasi News — Di usia yang telah menginjak 71 tahun, Syamsudin masih harus menghadapi persoalan yang semestinya tidak lagi terjadi: tidak memiliki akses jalan yang layak menuju rumahnya sendiri.
Warga Desa Rheung Krueng, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, itu bersama dua kepala keluarga (KK) lainnya terpaksa keluar-masuk rumah dengan melintasi area kuburan umum, kebun, hingga pekarangan milik tetangga.
Kondisi tersebut bukan berlangsung sehari dua hari. Puluhan tahun lamanya, Syamsudin dan dua keluarga lainnya menjalani kehidupan dengan akses yang serba terbatas.
Persoalan itu terungkap saat Investigasi News menelusuri langsung kondisi mereka pada Sabtu (3/10/2026). Di sebuah rumah sederhana yang berada di tengah permukiman, Syamsudin menceritakan bagaimana sulitnya kehidupan yang mereka jalani hanya karena tidak tersedia jalan menuju rumah.
Syamsudin mengaku telah tinggal di rumah tersebut sejak kedua orang tuanya masih hidup. Kini, ia bahkan telah memiliki cucu. Namun, hingga usianya memasuki kepala tujuh, akses menuju rumahnya tak kunjung mendapatkan solusi permanen.
“Dulu kami lewat kuburan, kadang lewat jalan samping rumah tetangga. Tapi beberapa tahun ini kuburan umum sudah dipagar dan pekarangan tetangga juga dipagar. Jadi kami harus lewat jalan dan pagar tetangga lain,” tutur Syamsudin.
Dengan kondisi tersebut, aktivitas sehari-hari menjadi persoalan tersendiri. Bukan hanya bagi Syamsudin, tetapi juga bagi anggota keluarga lainnya.
Putrinya, Nadarita (36), mengatakan kondisi itu semakin terasa berat ketika harus mengantar anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK).
“Sangat sulit, Pak. Kami harus melewati pagar dan kebun tetangga yang dipenuhi rerumputan panjang. Mau tidak mau terpaksa kami lakukan karena hanya ini jalan satu-satunya bagi kami,” ujar Nadarita.
Dengan mata berkaca-kaca, Nadarita berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi yang mereka alami.
“Kami sangat berharap perhatian pemerintah agar bisa membantu kami mendapatkan jalan menuju rumah,” katanya.
Kendaraan Terpaksa Dititipkan di Kebun
Ketiadaan akses jalan juga berdampak terhadap kendaraan milik keluarga tersebut. Selama bertahun-tahun, mereka terpaksa menitipkan kendaraan di kebun milik tetangga.
Tidak adanya akses yang bisa dilalui kendaraan membuat mereka tidak memiliki pilihan lain. Kendaraan pun harus dibiarkan berada di luar rumah, sehingga terpapar panas dan hujan.
Bagi warga yang memiliki akses jalan memadai, kondisi tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Syamsudin dan dua keluarga lainnya, persoalan jalan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari selama puluhan tahun.
Keuchik: Sudah Dua Kali Pergantian, Belum Ada Solusi
Keuchik Desa Rheung Krueng, Zainal Abidin, membenarkan kondisi tersebut ketika dikonfirmasi melalui telepon.
Menurutnya, persoalan akses menuju rumah Syamsudin dan dua KK lainnya memang telah berlangsung cukup lama, bahkan sudah melewati dua kali pergantian keuchik.
“Benar, Bang. Ini sudah lama terjadi, sudah dua kali pergantian keuchik,” kata Zainal.
Pemerintah desa, kata dia, sebenarnya telah berupaya mencari jalan keluar. Salah satunya dengan menawarkan ganti rugi kepada pemilik lahan yang berada di sisi kiri dan kanan lokasi untuk membuka akses jalan.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Jauh-jauh hari kami sudah mencari solusi, termasuk menawarkan ganti rugi kepada pemilik lahan, baik kiri maupun kanan. Namun, keduanya tidak bersedia melepaskan tanah mereka,” jelasnya.
Menurut Zainal, terdapat alternatif lain yang memungkinkan untuk membuka akses bagi warga, yakni membangun lorong di atas tanggul sungai.
Namun, pembangunan tersebut membutuhkan anggaran yang cukup besar. Sementara kemampuan keuangan desa dinilai belum mencukupi untuk merealisasikannya.
Menunggu Jalan Keluar dari Pemerintah
Persoalan yang dihadapi Syamsudin dan dua KK lainnya kini bukan sekadar tentang jalan menuju rumah. Akses yang tidak memadai juga menyentuh kebutuhan dasar mereka dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Di usia 71 tahun, Syamsudin masih harus melewati jalur yang tidak layak hanya untuk keluar dan kembali ke rumahnya.
Kondisi tersebut membuat mereka berharap pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dapat turun tangan mencarikan solusi, sehingga warga tidak lagi bergantung pada akses melalui lahan milik tetangga.
Bagi Syamsudin dan keluarganya, sebuah jalan kecil menuju rumah bukan sekadar infrastruktur. Jalan tersebut adalah akses untuk menjalani kehidupan secara lebih aman, mudah, dan layak.
(Herry)













