Oleh: Hasneril, S.E.
Ada satu hal yang paling saya nantikan setiap kali pulang bekerja ketika anak-anak masih tinggal di rumah.
Bukan tentang berapa banyak rezeki yang berhasil saya bawa pulang. Bukan pula tentang seberapa besar hasil yang saya dapatkan setelah seharian bekerja. Bahkan bukan tentang apakah segala urusan di luar rumah berjalan sesuai harapan.
Yang paling saya nantikan justru sesuatu yang sederhana.
Pintu rumah yang terbuka.
Di balik pintu itu ada anak-anak yang menyambut dengan senyum, mengulurkan tangan untuk bersalaman, menyuguhkan segelas air putih, lalu mengucapkan kalimat sederhana yang mungkin bagi sebagian orang terdengar biasa saja:
“Aku cinta Ayah. Aku sayang Ayah.”
Setelah itu mereka memeluk, mengambil tas kerja, bahkan membantu membawa pakaian kotor.
Bagi seorang ayah, jangan pernah anggap remeh hal-hal kecil seperti itu.
Sebab, ada kelelahan yang tidak bisa disembuhkan dengan tidur. Ada beban yang tidak selesai hanya dengan uang. Ada luka yang tidak terlihat, tetapi perlahan menggerogoti hati.
Dan terkadang, satu pelukan dari anak di ambang pintu mampu melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh apa pun: menghapus lelah dan mengembalikan semangat.
Sebagai seorang ayah, saya tidak pernah banyak bercerita kepada anak-anak tentang betapa kerasnya kehidupan di luar rumah.
Mereka tidak perlu tahu seluruh perjuangan ayahnya.
Mereka tidak perlu tahu bahwa pernah ada masa ketika saya mengalami kebangkrutan. Pernah menjadi kuli untuk menyambung kehidupan, meskipun pada saat itu saya berstatus sebagai ASN.
Menjadi ayah mengajarkan saya satu hal: seorang laki-laki sering kali belajar menyembunyikan lelahnya demi memastikan keluarganya tetap melihat harapan.
Pagi-pagi sekali berangkat sebelum subuh. Pulang ketika malam sudah larut. Menjalani pekerjaan, menghadapi persoalan, bertemu dengan berbagai karakter manusia, menanggung tekanan, dan terkadang membawa pulang tubuh yang nyaris tidak memiliki tenaga.
Namun semua terasa berbeda ketika kendaraan berhenti di depan rumah.
Ketika pintu terbuka.
Ketika anak-anak berlari menyambut.
Ketika terdengar suara kecil yang berkata, “Ayah sudah pulang.”
Saat itulah saya menyadari bahwa rumah bukan sekadar tempat untuk beristirahat.
Rumah adalah tempat seorang ayah mengembalikan dirinya setelah seharian bertarung dengan kehidupan.
Pengalaman itulah yang kemudian selalu saya tanamkan kepada para santri sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi Lubas.
Saya selalu mengingatkan bahwa ilmu yang tinggi tanpa adab dapat kehilangan makna.
Seorang anak boleh memiliki kecerdasan luar biasa. Boleh memiliki prestasi setinggi langit. Boleh kelak menjadi pejabat, pengusaha, akademisi, atau profesi apa pun.
Tetapi jangan sampai ia lupa bagaimana cara menghormati orang tuanya.
Jangan sampai ia merasa terlalu tinggi untuk sekadar mencium tangan ayah dan ibunya.
Jangan sampai ia merasa gengsi mengucapkan, “Ayah, Ibu, bagaimana kabarnya?”
Sebab, adab kepada orang tua bukan sekadar kebiasaan.
Ia adalah cermin dari hati dan pendidikan yang kita tanamkan kepada anak sejak kecil.
Alhamdulillah, saya dikaruniai dua orang anak laki-laki.
Ketika mereka sedang libur dan tidak mondok, ada satu pemandangan yang selalu membuat hati saya hangat.
Begitu mendengar suara mobil saya memasuki halaman, anak-anak laki-laki itu langsung berlari membuka pagar.
Sementara anak perempuan saya biasanya memilih menunggu di balik daun pintu.
Perbedaan kecil itu justru menjadi kenangan yang sangat berharga.
Mereka kemudian menyambut saya, menyiapkan air putih hangat, lalu bertanya:
“Ayah bagaimana? Sehat?”
Sesekali, dari mulut anak perempuan saya keluar kalimat yang sederhana namun mampu menembus hati:
“Ayah sayang.”
Disusul dengan ciuman dan pelukan.
Tidak ada hadiah mahal.
Tidak ada kemewahan.
Tidak ada sesuatu yang harus dibanggakan kepada dunia.
Hanya sebuah pelukan, segelas air, sebuah pertanyaan sederhana, dan ungkapan kasih sayang.
Tetapi bagi seorang ayah yang pulang membawa lelah dari subuh hingga malam, semua itu terasa seperti obat paling mujarab.
Lelah seketika menjadi ringan.
Hari ini mungkin anak-anak kita masih kecil.
Mereka masih berlari ketika mendengar suara kendaraan kita. Masih berebut membuka pintu. Masih berebut mencium tangan. Masih memeluk tanpa merasa malu. Masih dengan polos mengatakan, “Ayah sayang.”
Tetapi waktu tidak pernah berhenti.
Suatu hari mereka akan tumbuh dewasa.
Mereka akan memiliki kesibukan sendiri. Memiliki pekerjaan. Memiliki keluarga. Memiliki dunia mereka sendiri.
Dan mungkin, suatu saat nanti, rumah yang dahulu ramai akan menjadi lebih sunyi.
Tidak ada lagi suara kaki kecil berlari menuju pagar.
Tidak ada lagi rebutan membawakan tas.
Tidak ada lagi suara anak yang bertanya, “Ayah sudah makan?”
Karena itulah adab harus diajarkan sebelum waktu mengajarkannya dengan cara yang menyakitkan.
Ajarkan anak untuk menghormati orang tua ketika orang tua masih ada.
Ajarkan mereka untuk mencium tangan.
Ajarkan mereka mengucapkan terima kasih.
Ajarkan mereka meminta maaf.
Ajarkan mereka bertanya apakah ayah dan ibu sudah makan.
Ajarkan mereka pulang dan mengetuk pintu dengan kasih sayang, bukan sekadar dengan kepentingan.
Sebab, suatu hari nanti kita akan menyadari bahwa yang paling mahal dari kehidupan bukanlah rumah besar, kendaraan mewah, jabatan tinggi, atau rekening yang penuh.
Yang paling mahal adalah kenangan ketika orang-orang yang kita cintai masih ada di rumah dan menyambut kepulangan kita.
Banyak anak mungkin tumbuh dengan kecukupan harta, tetapi tidak semuanya tumbuh dengan kecukupan adab.
Ada anak yang mampu membeli sesuatu untuk orang tuanya, tetapi lupa memberikan waktu.
Ada yang mampu mengirim uang setiap bulan, tetapi jarang bertanya, “Ayah sehat?”
Ada yang mampu memberikan hadiah mahal, tetapi lupa memeluk.
Padahal, terkadang orang tua tidak meminta banyak.
Mereka hanya ingin dihargai.
Mereka hanya ingin didengar.
Mereka hanya ingin merasa bahwa seluruh perjuangan yang mereka lakukan selama ini tidak sia-sia.
Karena itu, saya percaya bahwa pendidikan anak bukan hanya tentang seberapa tinggi mereka kelak berdiri.
Tetapi juga tentang seberapa rendah hati mereka ketika berhadapan dengan orang tuanya.
Ridha Allah berkaitan erat dengan ridha orang tua. Dan dalam perjalanan kehidupan seorang anak, bakti kepada orang tua bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan menuju keberkahan.
Bagi seorang ibu, ada kemuliaan yang begitu besar dalam pengorbanannya.
Dan bagi seorang ayah, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kebahagiaannya sering kali sangat sederhana:
pulang ke rumah dan disambut oleh anak-anaknya.
Maka, jika hari ini anak-anak kita masih ada di rumah, peluklah mereka.
Jika masih ada kesempatan, ajarkan mereka mencium tangan.
Jika masih ada waktu, ajarkan mereka mengucapkan:
“Ayah, aku sayang.”
Karena kelak, ketika rumah mulai sepi dan rambut mulai memutih, kita mungkin tidak lagi mengingat berapa banyak uang yang pernah kita kumpulkan.
Kita justru akan mengingat suara kecil yang dahulu berlari menuju pintu.
Suara yang berkata:
“Ayah sudah pulang.”
Dan mungkin pada saat itulah kita memahami satu hal:
Surga seorang ayah tidak selalu berada di tempat yang jauh.
Kadang, surga itu hanya berjarak beberapa langkah—tepat di ambang pintu, tempat anak-anaknya berdiri menyambut kepulangannya dengan cinta.




