Banner iklan

Ayah Yang Datang Untuk Semua, Tapi Dirindukan Satu

More articles

 

Oleh: Hasneril, S.E.

Sudah hampir dua tahun aku mondok di Pondok Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi, Lubuk Basung.

Setiap kali hari kunjungan tiba, teman-teman berebut izin kepada wali asrama. Ada yang diajak makan, ada yang diajak jajan. Mereka pulang sambil membawa plastik berisi jajanan dengan wajah yang ceria.

Aku hanya bisa tersenyum bersama santri yang orang tuanya belum datang, sambil menatap ke arah jembatan asrama. Menunggu sosok yang paling aku kenal… Ayah.

Ayahku adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi.

Seharusnya aku menjadi anak yang paling bangga. Namun, jujur, aku juga yang paling merindukannya.

Ayah datang hampir setiap hari. Namun, beliau datang sebagai ayah bagi semua santri, bukan sebagai ayahnya Ismail.

Sepulang dari kantor pada sore hari, Ayah langsung menuju pondok hingga waktu Isya. Beliau mengecek para santri, memantau hafalan mereka, memastikan makanan yang dimasak santri, dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 22.00 WIB.

Aku mengerti, Ayah memang sangat sibuk. Selain mengurus pondok pesantren, Ayah juga menjadi pengurus panti asuhan putra yang membina anak-anak yatim, belum lagi tanggung jawabnya di kantor.

Namun, hati anak kecil mana yang tidak merasa sedih?

Setiap Ayah datang, semua santri berebut mencium tangannya.

“Cium tangan, Pak. Ayah sehat?”

Aku ikut berdiri di tengah kerumunan itu, berusaha berada di barisan paling depan. Karena aku tahu, di hati Ayah aku adalah anak kandung yang paling beliau sayangi.

Namun, di hadapan semua santri, kami diperlakukan sama. Tidak ada istilah “anak pimpinan”, tidak ada pula “anak orang kaya”. Semua mendapatkan kasih sayang yang sama.

Di pondok kami memiliki kegiatan Majelis Ngopi setiap satu kali dalam seminggu ba’da salat Magrib. Semua santri diperbolehkan menulis isi hati mereka, kemudian dibacakan oleh ustaz atau ustazah. Terkadang Ayah sendiri yang memimpin Majelis Ngopi tersebut.

Berkali-kali pena sudah berada di tanganku.

Namun, selalu kuurungkan.

“Belum saatnya,” kataku dalam hati.

Hingga suatu hari datang Abi dan Ummi, Pimpinan Darul Inqilabi Pusat Kalimantan. Malam itu diadakan Majelis Ngopi khusus karena Ummi hadir langsung.

Dengan tangan gemetar aku mengangkat tangan.

“Ummi… boleh saya bertanya?”

“Silakan, Nak Ismail.”

Aku memberanikan diri berkata,

“Kenapa Ayah tidak pernah menjenguk Ismail di pondok? Ayah memang datang hampir setiap hari, tetapi sebagai pimpinan. Ismail rindu Ayah. Ismail sayang Ayah.”

Suasana mendadak hening.

Ummi tampak terharu mendengar pertanyaanku.

“Nak, bersyukurlah memiliki Ayah seperti itu. Tahukah kamu mengapa Ayah menyayangi semua temanmu? Karena Ayah kasihan kepada mereka yang jauh dari orang tuanya. Jadi, Ayah berusaha menjadi ayah bagi mereka semua. Termasuk untukmu.”

“Insyaallah, pesan Ismail akan Ummi sampaikan kepada Ayah.”

Malam itu juga pintu asramaku diketuk.

Ada pelukan hangat yang sudah lama tidak kurasakan.

Itu Ayah.

“Maafkan Ayah, Ismail. Ayah salah. Ayah terlalu sibuk mengurus anak-anak Ayah yang lain sampai lupa mengurus anak Ayah sendiri.”

Aku menangis dalam pelukan Ayah.

Rindu selama dua tahun seolah lunas dalam satu pelukan.

Kini aku, Muhammad Ismail Hasan, masih mondok, tetapi sudah berada di Pondok PADI Pusat Kalimantan Selatan.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal.

Pemimpin yang hebat adalah mereka yang mampu berlaku adil kepada semua orang. Namun, ayah yang hebat adalah ayah yang tetap ingat meluangkan waktu untuk memeluk anaknya.

Terima kasih, Ayah.

Terima kasih telah menjadi ayah bagi ratusan santri, dan tetap bersedia menjadi ayah bagi satu orang anakmu…

#SantriPADI #AnakPimpinan #RinduTercurah

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest