Iklan

Bau Baju Ayah, Surat Rindu dari Anak Pondok Bernama Ismail

More articles

Oleh: Hasneril.SE

Telepon dengan anak bungsu saya, Muhammad Ismail Hasan, hanya bisa dilakukan sekali dalam seminggu. Itulah jatah nelpon dari pondok tempatnya menuntut ilmu yang jauh di sana.

Saat ini Ismail mondok di Pesantren Al-Qur’an Darul Inqilabi Pusat, di Kalimantan Selatan. Jauh dari rumah. Jauh dari pelukan ayah dan ibu. Tapi tidak jauh dari doa, Ismail tidak sendiri dari alumni Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi Lubukbasung , mereka yang alumni ada empat orang yang mondok di pusat.

Minggu lalu tepatnya waktu jadwal orang tua nelp, lewat sambungan telepon yang singkat itu, Ismail menitip pesan:
“Ayah, minta baju bekas Abang dulu. Baju kaos Ayah juga boleh.

Memang anak yang nomor dua sering pakai baju ayah dia senang pakai baju ayah dari pada dibelikan baju baru, juga begitu dengan Ismail sang anak bungsu, lebih senang pakai baju abangnya dari pada beli baju baru, karena badannya sudah besar dia minta baju ayah sudah kecil.

Permintaan sederhana. Tanpa pikir panjang, langsung saya kirimkan lewat jasa Cargo JNT

Beberapa hari kemudian, di waktu jatah nelpon berikutnya, saya bertanya:
“Nak, paketnya sudah sampai?”
“Sudah, Ayah,” jawabnya lirih.

“Lalu bajunya sudah dipakai?”
Ismail tertawa kecil. Jawabannya membuat dada ini bergetar:

“Kalau dipakai sekarang, hilang bau Ayah. Kalau rindu sama Ayah, cium bau baju ini. Biar rindu Ismail ke Ayah bisa lepas.”

Allah…
Ternyata rindu bisa disimpan dalam sehelai kain.
Ternyata cinta seorang anak bisa sekuat itu menjaga “bau ayah” agar tidak hilang.

Sebelum telepon ditutup, Ismail berpesan lagi:
“Ismail kalau besar ingin seperti Ayah. Punya banyak teman dan disayang banyak orang, ya Ayah.”

Dari kecil dia memang sudah meniru sifat Ayah, seperti hobbi jualan, sering nanya-nanya gimana ayah waktu kecil dulu.
Dan sekarang, dia sedang meniru perjuangan Ayah: bersabar, jauh dari keluarga, demi menuntut ilmu.

Untuk Kita yang Masih Lengkap dirumah bersama orang tua

Kadang kita mengeluh karena anak di rumah susah diatur.
Sementara di ujung Kalimantan sana, ada seorang anak yang rela menahan rindu , hanya menjaga bau baju ayahnya rindu itu bisa lepas

Gagal, rindu, dan jauh… semua itu bagian dari proses.
Proses mencetak generasi Qur’ani. Proses mencetak anak yang sholeh dan beradab

Untuk Ismail anak Ayah:
Ayah bangga padamu. Jaga Al-Qur’anmu. Jaga shalatmu. Jaga adabmu.
Bau baju Ayah memang bisa hilang karena keringat.
Tapi doa Ayah tidak akan pernah hilang darimu, Nak.

Sampai kita bertemu di surga. Di sana kita bisa berpelukan sepuasnya. Tanpa ada JNT. Tanpa ada jadwal nelpon.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.””QS. Al-Isra: 24

Sekarang Muhammad Ismail Hasan sudah tahun ke dua Mondok di Pondok Pesantren Alquran Darul Inqilabi di Kalimantan Selatan pulang hanya setiap lebaran.

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest