Meureudu, Investigasi.News – Harapan nelayan Kuala Krueng Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, untuk kembali beraktivitas dengan lancar mulai menemukan titik terang. Setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan pendangkalan kuala yang semakin parah pascabanjir, pekerjaan normalisasi melalui pemasangan batu gajah akhirnya mulai dilaksanakan pada Kamis (8/10/2026).
Dimulainya pekerjaan tersebut disambut lega oleh para nelayan. Pendangkalan yang telah berlangsung sekitar dua tahun, terlebih setelah banjir pada akhir November 2025, selama ini menjadi persoalan yang mengganggu kelancaran aktivitas nelayan saat keluar masuk kuala.
Perwakilan nelayan Kuala Krueng Beuracan, Kasaie, menyampaikan apresiasi kepada Wakil Bupati Pidie Jaya atas perhatian dan upaya mendorong penanganan persoalan yang selama ini dikeluhkan masyarakat pesisir.
“Atas nama nelayan, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wakil Bupati yang telah memperhatikan keluhan kami. Kami berharap pemasangan batu gajah ini dapat segera diselesaikan agar aktivitas nelayan kembali lancar,” ujar Kasaie.
Menurutnya, dimulainya pekerjaan normalisasi menjadi harapan baru bagi nelayan yang menggantungkan mata pencaharian pada kelancaran akses perairan Kuala Krueng Beuracan. Mereka berharap pekerjaan tersebut berjalan sesuai rencana sehingga hambatan akibat pendangkalan dapat segera ditangani.
Apresiasi serupa disampaikan Panglima Laot Kabupaten Pidie Jaya, Sofyan. Ia menilai perhatian pemerintah daerah terhadap persoalan nelayan merupakan langkah penting dalam memperjuangkan kebutuhan masyarakat pesisir.
“Atas nama Panglima Laot Kabupaten Pidie Jaya, saya mengucapkan terima kasih kepada Wakil Bupati yang telah turun langsung melakukan peletakan batu pertama. Ini tidak terlepas dari upaya beliau berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat normalisasi kuala,” kata Sofyan.
Sementara itu, Wakil Bupati Pidie Jaya menjelaskan bahwa normalisasi Kuala Krueng Beuracan dilakukan untuk memperlancar akses nelayan saat keluar masuk kuala, sekaligus mendukung kelangsungan aktivitas perikanan masyarakat setempat.
Ia menyebutkan, kegiatan tersebut bersumber dari anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera I Aceh.
“Harapan kita, pekerjaan normalisasi ini dapat selesai tepat waktu sehingga aktivitas para nelayan kembali lancar,” ujarnya.
Dimulainya normalisasi Kuala Krueng Beuracan menjadi langkah penting dalam menjawab keluhan nelayan yang selama ini menghadapi persoalan akses perairan. Masyarakat kini menaruh harapan agar pekerjaan tersebut dilaksanakan secara optimal dan tepat waktu, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh nelayan serta masyarakat pesisir Pidie Jaya.
(Herry)













