Batam, investigasi.news-Bau busuk kejahatan terorganisir makin menyengat di tanah Batam. Praktek bandit mafia berotak kotor yang mengeruk keuntungan pribadi lewat pengiriman beras dan barang ilegal tanpa dokumen kini membakar amarah publik. Tanpa menyisakan rasa takut pada hukum, tindak kejahatan yang sangat menjijikkan ini terang-terangan berlangsung saban hari di Pelabuhan Haji Sage, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam.
Investigasi mendalam awak media menelanjangi kejahatan telanjang ini: deretan truk-truk raksasa roda sepuluh berdiri angkuh, secara brutal membongkar ton-tonan muatan beras ilegal langsung ke lambung kapal-kapal kayu yang siap menyelundupkan barang tersebut keluar dari Kawasan Bebas Batam.
Kejahatan yang terstruktur dan masif ini ditegaskan langsung oleh kesaksian warga lokal yang sudah muak melihat kebobrokan di depan matanya.
“Mereka kerja loading tiap hari bu, nanti kalau kapal sudah penuh dimuat, kapal langsung berlayar malam hari,” cetus warga tersebut sebelum berlalu.
Kejahatan Pabean yang Mengencingi Aturan Negara
Pengiriman beras secara liar ini merupakan bentuk pengkhianatan terang-terangan terhadap regulasi Kawasan Perdagangan Bebas (FTZ) Batam. Modus operandi mafia ini dinilai sangat biadab dan licik:
Pengangkatan Beras Liar: Komoditas pangan strategis rakyat diangkut dalam skala besar tanpa izin pengeluaran resmi dari instansi berwenang.
Manifes Fiktif dan Penyelundupan Gelap: Tidak ada dokumen pabean, tidak ada manifes, dan tidak ada pemberitahuan resmi. Taktik Licik Kucing-Kucingan: Kapal-kapal kayu sengaja dilepas menembus kegelapan malam untuk menghindari pantauan publik dan meloloskan barang haram tersebut.
Aparat Terkesan “Bisu, Tuli, dan Buta”: Kompromi atau Pembiaran?
Sangat menyayat hati dan membagikan amarah, Pelabuhan Haji Sage sejatinya bukan lokasi asing. Pada November 2025 lalu, aparat gabungan pernah menggerebek tempat ini dan menyita 40,4 ton beras ilegal, gula pasir, hingga minyak goreng tanpa dokumen. Namun penggerebekan itu terbukti hanya gertak sambal tanpa taji.
Kini, aktivitas haram tersebut kembali berjalan mulus tanpa hambatan. Kenyataan pahit ini memicu persangkaan paling tajam di tengah masyarakat: apakah aparat penegak hukum dan Bea Cukai Batam sengaja bisu, tuli, buta, dan berpura-pura tidak tahu karena berada di bawah ketiak mafia? Ataukah hukum memang sengaja dimatikan di pelabuhan ini?
Sampai berita ini ditayangkan, redaksi terus mengejar konfirmasi dari Bea Cukai Batam dan instansi terkait untuk meminta pertanggungjawaban atas dugaan pembiaran dan matinya pengawasan hukum di Tanjung Sengkuang.
Fransisco Chrons










