Malut, Investigasi.News-, Naiknya harga BBM Non Subsidi Jenis Pertamax dari harga semula Rp 12.600 naik menjadi Rp 16.650 dirasa sangat memberatkan masyarakat, apa lagi efek domino dari kenaikan ini serentak harga kebutuhan Bahan Pokok (Bapok) juga ikut naik, sehingga inflasi tidak dapat lagi dihindari.
Masyarakat di Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara berharap PT. Pertamina sebagai penyuplai utama BBM bisa menambah pasokan BBM Subsidi jenis Pertalite yang harganya masih sangat terjangkau yakni Rp 10.000 perliter.
“Jelas sangat memberatkan, naiknya harga Pertamax sementara ketersedian BBM Subsidi seperti Pertalite dibatasi”, ujar salah satu warga Kepulauan Sula (12/6).
Sementara itu salah satu pemilik dan pengelola SPBU di Kepulauan Sula mengatakan jika pasokan BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU miliknya dibatasi sesuai konsumsi masyarakat setempat.
“Kalo kami mendapat pasokan pertalite itu dibatasi, sementara kalo Pertamax kita order sesuai kebutuhan sekitar”, ucap Pemilik SPBU tadi.
Menurutnya jelas masyarakat memilih Pertalite ketimbang Pertamax yang hari ini harganya malah naik.
“Jelas masyarakat memilih minyak yang murah dan terjangkau, namun kan ketersediannya terbatas”, pungkasnya.
Untuk itu Masyarakat berharap, untuk semua SPBU di Kepulauan Sula agar pasokan BBM Subsidi jenis Pertalite ditambah, agar bisa menjadi opsi untuk masyarakat menengah kebawah.







