Oleh: Villa Erdi
Berbagi merupakan salah satu nilai luhur yang diajarkan dalam agama dan kehidupan bermasyarakat. Berbagi tidak hanya dimaknai sebatas memberikan materi atau uang, tetapi juga mencakup perhatian, waktu, tenaga, bahkan senyuman yang tulus kepada sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, berbagi menjadi jalan untuk mempererat tali persaudaraan, menumbuhkan kasih sayang, sekaligus menghadirkan keberkahan hidup.
Nilai-nilai tersebut kembali diingatkan dalam pengajian rutin mingguan yang digelar di Rumah Dinas Bupati Agam, Padang Baru, Lubuk Basung, Senin malam (11/5/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat itu dihadiri para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Agam.
Suasana religius begitu terasa sejak awal kegiatan. Pengajian diawali dengan tadarus Al-Qur’an, dilanjutkan salat Isya berjamaah, sebelum memasuki sesi tausiah agama yang disampaikan oleh Bupati Agam, Benni Warlis.
Dalam tausiahnya, Benni Warlis menegaskan bahwa berbagi bukan sekadar memberi materi, tetapi merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus wujud kasih sayang antarsesama.
“Berbagi adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Dengan berbagi, kita mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan rasa kasih sayang di tengah masyarakat,” ujar Benni Warlis.
Sebelum tausiah utama dimulai, penulis yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam menyampaikan kultum bertema “Indahnya Berbagi”. Dalam kultum tersebut, seluruh peserta diajak untuk memperkuat kepedulian sosial dan meningkatkan semangat membantu masyarakat yang membutuhkan.
Allah SWT sendiri telah mengingatkan pentingnya bersyukur dalam firman-Nya:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa salah satu bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT adalah dengan berbagi kepada sesama. Ketika seseorang memiliki rezeki, kesehatan, ilmu, maupun waktu luang, maka semua itu dapat menjadi sarana untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Berbagi juga menjadi tanda keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut menegaskan bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dari iman. Kebahagiaan sejati tidak hanya dirasakan ketika menerima, tetapi juga ketika mampu memberi manfaat bagi sesama.
Dalam praktiknya, berbagi dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Zakat, misalnya, menjadi kewajiban bagi umat Islam yang mampu sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Sedekah juga merupakan amalan mulia yang tidak dibatasi jumlah maupun waktu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan sambunglah tali silaturahmi.”
(HR. Tirmidzi)
Selain berbagi harta, berbagi ilmu juga termasuk amalan yang sangat bermanfaat. Mengajarkan kebaikan, memberikan nasihat dengan lembut, atau sekadar membagikan pengetahuan yang berguna merupakan bentuk kepedulian yang nilainya sangat besar. Begitu pula berbagi perhatian, seperti menjenguk orang sakit, membantu mereka yang kesulitan, atau mendengarkan keluh kesah saudara dan sahabat.
Hal terpenting dalam berbagi bukanlah besar kecilnya pemberian, melainkan keikhlasan dan konsistensi dalam melakukannya. Jangan menunggu kaya untuk berbagi dan jangan menunda untuk berbuat baik. Sekecil apa pun kebaikan yang diberikan dengan tulus akan bernilai besar di sisi Allah SWT.
Berbagi juga memiliki makna membersihkan harta dan jiwa. Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”
(QS. At-Taubah: 103)
Melalui berbagi, seseorang belajar mengurangi sifat egois dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Dengan demikian, kehidupan sosial akan menjadi lebih harmonis, penuh kepedulian, serta diliputi semangat gotong royong dan persaudaraan.
Benni Warlis berharap nilai-nilai yang diperoleh dari pengajian rutin tidak berhenti sebatas teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat. Menurutnya, pengajian rutin menjadi sarana penting dalam memperkuat keimanan dan kebersamaan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Agam sehingga lahir aparatur yang tidak hanya profesional dalam menjalankan tugas, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan spiritual yang tinggi.
Pada akhirnya, berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Ketika seseorang mampu berbagi dengan ikhlas, maka di situlah tumbuh rasa syukur, kasih sayang, dan keberkahan dalam kehidupan. ***



















