Banner

Teror Air Keras Aktivis KontraS Diduga Terorganisir, Praktisi Hukum Desak Ungkap Dalang

More articles

NTT, Investigasi.News – Penangkapan empat orang terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS menuai respons keras dari kalangan praktisi hukum. Kasus ini dinilai tidak boleh berhenti pada penindakan pelaku lapangan semata, melainkan harus diusut hingga ke aktor intelektual di balik peristiwa tersebut.

Praktisi hukum nasional sekaligus advokat, Rikha Permatasari, menegaskan bahwa serangan tersebut bukan kejahatan biasa, melainkan bentuk teror yang diduga kuat terorganisir.

“Ini bukan aksi tunggal. Dalam setiap teror, hampir selalu ada perencanaan dan perintah. Para pelaku di lapangan hanyalah eksekutor, sementara dalang utama justru menjadi kunci untuk mengungkap kebenaran,” tegasnya.

Ia menilai, apabila benar terdapat dugaan keterlibatan oknum yang berdinas di lingkungan Badan Intelijen Strategis TNI di bawah Tentara Nasional Indonesia, maka kasus ini telah memasuki ranah yang sangat serius karena menyangkut integritas institusi negara dan kepercayaan publik.

Menurut Rikha, penegakan hukum yang hanya menyasar pelaku lapangan tanpa mengungkap pemberi perintah merupakan bentuk ketidakadilan. Hal tersebut dinilai berpotensi membuka ruang bagi aktor intelektual untuk tetap bebas dan mengulangi kejahatan serupa di masa mendatang.

Dalam pernyataannya, ia menyampaikan sejumlah tuntutan tegas kepada aparat penegak hukum, yakni mengungkap dan menangkap dalang utama tanpa kompromi, membuka secara transparan kepada publik terkait pihak yang memberi perintah beserta motifnya, serta memastikan tidak ada pihak yang dilindungi, tanpa memandang jabatan maupun institusi.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya proses hukum yang independen, objektif, dan bebas dari intervensi kekuasaan. “Serangan terhadap aktivis bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan ancaman langsung terhadap demokrasi dan kebebasan sipil. Masyarakat berhak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kegagalan mengungkap dalang utama dapat berdampak serius terhadap kepercayaan publik terhadap negara. “Jika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, maka keadilan telah gagal ditegakkan. Tidak boleh ada kompromi terhadap kejahatan seperti ini,” pungkasnya.

Hingga saat ini, aparat penegak hukum masih terus melakukan pendalaman terhadap kasus tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan aksi penyiraman air keras tersebut.

Severinus T. Laga

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest