Jember, Investigasi.News- Universitas Jember (UNEJ) sukses mencatatkan prestasi gemilang di kancah nasional dalam bidang Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Sepanjang tahun 2025, UNEJ mengalami lompatan eksponensial dalam permohonan paten. Berdasarkan data resmi dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum, Universitas Jember kini berhasil menempati peringkat ke-9 sebagai perguruan tinggi dengan permohonan paten terbanyak di Indonesia.
Keberhasilan menembus jajaran elite 10 besar ini menjadi bukti nyata semakin kuatnya ekosistem riset, hilirisasi, dan inovasi di lingkungan sivitas akademika UNEJ.
Berdasarkan data dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jember, tren pertumbuhan inovasi ini terkawal dengan grafik yang sangat impresif selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2023, UNEJ tercatat mengajukan 4 paten dan 6 paten sederhana (total 10 inovasi). Angka ini meningkat signifikan di tahun 2024 menjadi 7 paten dan 17 paten sederhana (total 24 inovasi). Puncaknya terjadi pada tahun 2025, di mana universitas berhasil memecahkan rekor dengan torehan total 36 pengajuan, yang terbagi rata menjadi 18 paten reguler dan 18 paten sederhana.
Menanggapi capaian luar biasa ini, Koordinator Pusat Pemanfaatan dan Inovasi Hasil Penelitian (Puspanova) LPPM UNEJ, Winda Amilia, S.TP., M.Sc., menjelaskan bahwa mayoritas paten yang diajukan berbasis kuat pada pilar pertanian modern. Ranah inovasi tersebut mencakup rekayasa pertanian, formulasi pupuk, pakan ternak alternatif, hingga produk farmasi dan kedokteran berbasis hasil bumi (agro-medicine dan agro-dental).
“Mayoritas paten kita berbasis pada pertanian, seperti rekayasa pertanian, pupuk, pakan ternak, hingga obat-obatan berbasis hasil pertanian atau agro-medicine dan agro-dental. Hal ini tentu sangat sejalan dan menjadi wujud nyata dari visi misi utama Universitas Jember yang berfokus pada pengembangan sains dan teknologi berwawasan lingkungan dan bisnis pertanian,” ujar Winda Amilia saat diwawancarai pada Jumat (22/05/2026) di Kampus Tegalboto.
Keberhasilan UNEJ menembus peringkat ke-9 nasional ini tidak lepas dari strategi jitu yang diinisiasi oleh LPPM melalui penyediaan layanan prima. Penguatan ekosistem HAKI diwadahi secara terstruktur oleh keberadaan Rumah HAKI yang berada di bawah koordinasi Puspanova. Tim ini bergerak lincah dan responsif memberikan asistensi komprehensif bagi dosen, peneliti, maupun tenaga kependidikan (tendik).
“Strategi utama kami adalah mengedepankan layanan cepat dan tepat bagi para inventor melalui koordinasi Rumah HAKI. Kami aktif mengomunikasikan berbagai program dan edukasi secara interaktif melalui media sosial Instagram di @rumahhakiunej agar birokrasi pengurusan kekayaan intelektual tidak lagi dianggap rumit. Selain itu, Universitas Jember secara rutin memberikan skema bantuan pendanaan pengurusan HaKI kepada para inventor di setiap triwulan,” tambahnya.
Menatap masa depan, LPPM UNEJ menegaskan tidak ingin berpuas diri hanya pada pencapaian kuantitas atau sekadar angka statistik di atas kertas. Inovasi yang terkumpul diproyeksikan untuk memberikan dampak ekonomi dan sosial secara konkret melalui komersialisasi industri.
Saat ini, Puspanova bersama jajaran tim penopangnya—termasuk Andrew Setiawan Rusdianto, S.TP., M.Si. (Kepala Divisi Rumah HaKI), Ali Wafa (Kepala Divisi Inovasi), dan didukung staf Rumah HAKI, Adila—tengah merampungkan draf panduan baru serta sistem informasi pendaftaran HAKI yang terintegrasi.
Sistem baru ini dirancang dengan fungsi ganda: bukan hanya memberikan kemudahan bagi inventor internal untuk mendaftarkan karyanya, melainkan juga berfungsi sebagai media promosi atau etalase digital interaktif bagi masyarakat, lembaga pemerintah, serta mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) untuk berkolaborasi dalam proses hilirisasi.
Melalui lompatan prestasinya di tahun 2025, Universitas Jember semakin mengukuhkan posisinya bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan, melainkan sebagai pusat inovasi nasional yang siap menyuplai solusi teknologi berbasis pertanian demi kemandirian bangsa.



















