Malut, Investigasi.News-, Ruang publik belakangan ini makin ramai oleh kemunculan “penulis” yang tampil penuh percaya diri, tetapi miskin tanggung jawab. Gaya bahasanya dibuat seolah intelektual, diksi dipoles rapi, namun ketika dicermati, substansinya tipis dan dangkal.
Fenomena ini bukan sekadar soal kualitas tulisan, melainkan soal sikap. Ada kecenderungan kuat untuk mengejar perhatian dengan cara paling mudah, menyerang sepihak, membangun opini tanpa dasar kuat, lalu berharap dianggap kritis oleh publik. Padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Lebih ironis, semua itu sering dilakukan dari balik akun anonim. Di satu sisi ingin diakui sebagai penulis yang berani, di sisi lain enggan menunjukkan identitas. Ini menghadirkan kontradiksi yang sulit disangkal, lantang di permukaan, tetapi rapuh dalam tanggung jawab.
Gaya intelek yang dipertontonkan pun sering kali hanya kemasan. Kalimat dibuat panjang, istilah dipilih rumit, seolah-olah mencerminkan kedalaman berpikir. Namun ketika dibongkar, argumen tidak utuh, data tidak jelas, dan arah tulisan kabur. Ini bukan analisis, melainkan ilusi intelektualitas.
Lebih jauh, pola seperti ini kerap berubah menjadi praktik membully. Kritik yang seharusnya berimbang justru berubah menjadi serangan personal yang tidak terukur. Tanpa verifikasi dan tanpa ruang bagi perspektif lain, tulisan kehilangan fungsi dasarnya sebagai alat kontrol sosial yang sehat.
Pertanyaan pun muncul, apakah ini bentuk keberanian, atau sekadar cara aman untuk terlihat berani? Sebab keberanian sejati tidak membutuhkan topeng. Ia berdiri terbuka, siap diuji, dan bersedia mempertanggungjawabkan setiap kata yang disampaikan ke publik.
Menjadi penulis bukan sekadar merangkai kata yang terdengar pintar. Lebih dari itu, ia menuntut integritas, kedalaman berpikir, dan komitmen pada kebenaran. Tanpa tiga hal tersebut, tulisan hanya akan menjadi komedi, ramai, tetapi kosong makna.
ini menegaskan bahwa ruang publik membutuhkan lebih dari sekadar suara keras dan gaya intelek. Yang dibutuhkan adalah kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian yang nyata. Tanpa itu, “penulis dadakan” hanya akan menjadi bagian dari kebisingan, terdengar, tetapi tidak berarti.

















