Sawahlunto, Investigasi.news – Sarana Hydrant sangat dibutuhkan dalam sistem pemadam kebakaran karena menyediakan sumber air bertekanan tinggi yang esensial untuk memadamkan api dengan cepat dan efektif.
Keberadaannya sangat penting di berbagai lokasi, terutama di gedung-gedung tinggi, area publik, dan fasilitas industri, untuk memastikan keamanan dan meminimalkan dampak kebakaran.
Penting sarana Hydrant itu juga disampaikan anggota fraksi NasDem + Demokrat DPRD Kota Sawahlunto Idrayeni menanggapi sebagai pendapat akhir fraksinya terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2025-2029 pada Rapat paripurna, Senin (21/7/2025) yang dipimpin Ketua DPRD Kota Sawahlunto Susi Haryati yang dihadiri Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra.
Mengingat Sawahlunto merupakan kota tua, jelas Idrayeni, masih banyak peninggalan kolonial Belanda yang masih termanfaatkan oleh warga, sebagian besar bangunan masih ada material kayu yang sudah kering, tentu sangat rentan sekali terkena bencana kebakaran, apakah dipicu korsleting listrik atau penyebab lainnya.
” sehingga perlu kiranya dimasukan ke-dalam RPJMD untuk membangun instalasi hydrant di areal-areal padat penduduk yang sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam kebakaran” kata Idrayeni pada paripurna yang juga dihadiri Forkopimda, Setdako dan Kepala OPD Kota itu.
Perempuan politisi Partai Demokrat itu menyatakan Hydrant yang dibangun bisa saja dengan memanfaatkan aliran sungai melalui pipa yang ditanam, mungkin tidak memerlukan biaya yang terlalu besar.
Terkait minimnya sarana Hydrant di kota Sawahlunto ini, Kabid Damkar Dinas Pol PP Damkar Kota Sawahlunto Harunis, menjawab investigasi.news Senin (28/7/2025), tak mau berkomentar luas namun dari segi kebutuhan adanya Hydrant dikota ini sangat minim.
Dia menjelaskan dari evaluasi turun ke lapangan untuk Hydrant ada hanya di Rusunawa Sei Durian dan kawasan PLTU Ombilin Sijantang yang terbilang aktif dan dapat digunakan.
Untuk Hydrant di Mudiak Air dekat Mesjid Agung masih dapat digunakan, namun Hydrant di dekat Kantor Lurah Pasar atau bekas posko Damkar lama juga tidak aktif karena suplay air yang sangat sulit. (tumpak)

















