Sorong – Penembakan terhadap Wakil Ketua DPD PSI (Partai Solidaritas Indonesia) Kabupaten Sorong, Timotius Rumpaidus, memunculkan tanda tanya besar. Korban yang mengalami luka tembak di kaki kiri menduga insiden berdarah itu bukan semata berkaitan dengan persoalan disersi sebagaimana disampaikan kepadanya, melainkan diduga memiliki keterkaitan dengan polemik limbah industri dan dugaan keberadaan BBM ilegal yang selama ini dipersoalkan masyarakat di sekitar CV Prima Papua.
Peristiwa itu terjadi di kediaman Timotius di Jalan Klalin, Kelurahan Warmon, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 10.47 WIT.
Akibat penembakan tersebut, Timotius langsung dilarikan ke RSUD Dr. John Piet Wanane Kabupaten Sorong. Hingga Selasa sore, ia masih menjalani perawatan di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) dan dijadwalkan menjalani operasi pada Rabu (29/7/2026).
Di hadapan wartawan di rumah sakit, Timotius mengaku rumahnya didatangi sekitar tujuh hingga delapan orang yang disebutnya sebagai oknum aparat. Menurut keterangannya, kedatangan mereka dikaitkan dengan persoalan disersi.
Korban mengatakan dirinya telah menjelaskan bahwa ia mengundurkan diri dari TNI AL sejak 2018 dan tidak lagi berstatus sebagai prajurit aktif.
“Saya sudah sampaikan kalau sejak tahun 2018 saya mengundurkan diri dan sudah bukan anggota TNI AL,” ujarnya.
Namun, menurut pengakuan Timotius, penjelasan tersebut tidak menghentikan tindakan para oknum aparat. Ia mengaku, sesaat setelah memberikan keterangan itu, seorang yang disebutnya berpangkat perwira langsung melepaskan tembakan hingga mengenai kaki kirinya.
Timotius menegaskan dirinya tidak meyakini penembakan tersebut berkaitan dengan persoalan disersi. Sebaliknya, ia menduga insiden itu berkaitan dengan konflik yang sedang berkembang antara masyarakat dengan pihak perusahaan terkait dugaan pencemaran limbah hasil pengolahan kayu dan dugaan keberadaan BBM ilegal.
Menurut keterangannya, limbah hasil pengolahan kayu dari CV Prima Papua diduga dibuang ke aliran sungai hingga mengalir ke kawasan permukiman warga. Persoalan tersebut, kata dia, telah lama dikeluhkan masyarakat dan pemilik hak ulayat karena diduga mencemari lingkungan.
Akibat persoalan tersebut, warga disebut sempat melakukan aksi pemalangan terhadap aktivitas perusahaan. Timotius mengungkapkan sudah dua kali digelar pertemuan antara masyarakat dan pihak terkait, namun hingga kini belum menghasilkan penyelesaian.
Tak hanya persoalan limbah, menurut Timotius, masyarakat juga mempertanyakan dugaan keberadaan BBM ilegal yang disebutnya bukan berasal dari Pertamina, melainkan diduga milik oknum aparat. Persoalan itu, kata dia, turut menjadi pembahasan dalam pertemuan sebelum insiden penembakan terjadi.
Korban juga menyebut seorang oknum aparat berinisial R berada di lokasi saat sejumlah oknum aparat mendatangi kediamannya. Menurut keterangan Timotius, R diduga ikut bersama rombongan tersebut dan berada di lokasi ketika penembakan terjadi. Ia juga menyatakan bahwa R diduga diperbantukan sebagai petugas keamanan di CV Prima Papua dan sebelumnya hadir dalam pertemuan yang membahas persoalan limbah serta dugaan keberadaan BBM ilegal yang dipersoalkan masyarakat.
Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, Timotius menduga penembakan yang dialaminya tidak dapat dipisahkan dari polemik yang sedang berkembang terkait dugaan pencemaran limbah dan dugaan keberadaan BBM ilegal. Meski demikian, dugaan tersebut masih merupakan keterangan korban dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sementara itu, pihak CV Prima Papua telah dikonfirmasi melalui pimpinan perusahaan, Tony, untuk meminta tanggapan atas seluruh keterangan yang disampaikan korban, termasuk mengenai dugaan pencemaran limbah, dugaan keberadaan BBM ilegal, serta keterkaitan persoalan tersebut dengan insiden penembakan. Namun hingga berita ini diterbitkan, Tony belum memberikan jawaban maupun klarifikasi.
Media ini juga masih menunggu keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait kronologi, identitas pihak-pihak yang terlibat, serta motif penembakan yang menimpa Timotius Rumpaidus. Penyelidikan diharapkan dapat mengungkap fakta secara utuh agar seluruh dugaan yang berkembang memperoleh kepastian hukum berdasarkan hasil penyelidikan resmi.
Jhon




