Muba – Potret memprihatinkan kembali terlihat di Kabupaten Musi Banyuasin. Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur, warga Desa Suka Makmur P20 Karang Agung tengah, Kecamatan Lalan, Sumatera Selatan, masih harus berjibaku dengan akses penyeberangan yang membahayakan. Lebih ironis lagi, pancang jembatan telah berdiri sejak November 2024, namun hingga kini proyek tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan dilanjutkan.
Hasil pantauan media di lokasi pada Rabu (29/7/2026) memperlihatkan anak-anak sekolah dasar terpaksa berjalan di atas jembatan kayu darurat yang lapuk dan sempit untuk menuju sekolah. Setiap langkah yang mereka pijak menyimpan risiko kecelakaan, sementara masyarakat hanya bisa berharap pembangunan jembatan permanen segera terealisasi.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai kepastian kelanjutan proyek yang sejak awal digadang-gadang menjadi solusi bagi kebutuhan akses masyarakat. Sayangnya, hingga hampir dua tahun berlalu, pancang yang telah dipasang hanya menjadi saksi bisu proyek yang tak kunjung selesai.
Jembatan itu merupakan akses vital yang menghubungkan Dusun 1 dan Dusun 2 Desa Suka Makmur. Setiap hari, jalur tersebut digunakan warga untuk membawa hasil perkebunan, beraktivitas ekonomi, serta menjadi satu-satunya akses anak-anak menuju sekolah.
Namun yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Warga masih bergantung pada jembatan kayu tua peninggalan masa transmigrasi sekitar tahun 1992 yang kondisinya kini sudah sangat memprihatinkan dan dinilai tidak lagi layak digunakan.
Dari dokumentasi yang diperoleh media, papan-papan kayu jembatan tampak telah lapuk, sebagian hanya berupa batang kayu bulat dengan pijakan sempit. Tidak terdapat pagar pengaman di sisi kanan maupun kiri jembatan, sehingga sangat membahayakan, terutama bagi anak-anak sekolah.
Ketika musim hujan datang, risiko tersebut meningkat berkali-kali lipat. Permukaan kayu menjadi licin, sementara konstruksi yang sudah menua dikhawatirkan tidak lagi mampu menopang beban pengguna.
Bagi masyarakat Desa Suka Makmur, keberadaan jembatan permanen bukan lagi sekadar kebutuhan pembangunan, melainkan kebutuhan mendesak yang menyangkut keselamatan jiwa dan keberlangsungan perekonomian desa.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin melalui instansi terkait segera memberikan kepastian mengenai kelanjutan pembangunan jembatan tersebut. Mereka juga meminta agar proyek yang telah diawali dengan pemasangan pancang tidak dibiarkan mangkrak tanpa kejelasan.

“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya ingin jembatan yang aman agar anak-anak bisa bersekolah tanpa mempertaruhkan nyawa dan hasil kebun kami dapat dibawa keluar dengan lancar,” ungkap salah seorang warga.
Masyarakat menilai, apabila kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya aktivitas ekonomi yang terhambat, tetapi juga keselamatan warga setiap hari berada dalam ancaman.
Suprene




