Jember, Investigasi.news- SMA Negeri 5 Jember menegaskan komitmennya untuk terus mempertahankan status sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Mandiri yang telah disandang sejak tahun 2011 dan diperpanjang pada 2023. Meski demikian, menjaga predikat tertinggi di bidang lingkungan tersebut diakui memiliki tantangan tersendiri.
Dalam dialog interaktif melalui siaran langsung live streaming bersama RRI Jember pada Sabtu (29/8/2026), Kepala SMAN 5 Jember, Muhammad Lutfi Helmi, membeberkan berbagai kendala sekaligus strategi yang diterapkan oleh lembaga yang dipimpinnya.
Menurut Helmi, salah satu tantangan terbesar muncul setiap kali memasuki tahun ajaran baru. Pihak sekolah harus melakukan edukasi ulang secara intensif kepada para siswa baru mengenai kultur, kebiasaan, dan citra SMAN 5 Jember sebagai sekolah Adiwiyata.
“Pada tahun ajaran baru, kami perlu memberikan pemahaman apa itu sekolah Adiwiyata dan lain sebagainya kepada siswa baru kita supaya mereka paham dan terbiasa untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Helmi.
*Langkah Komprehensif dan Edukasi Nyata*
Selain faktor siswa baru, Helmi tidak menampik adanya dinamika internal di dalam lembaga. Ia menyebut selalu ada pihak yang mendukung penuh, namun ada juga yang belum sepenuhnya sejalan.
“Jadi memang sangat diperlukan langkah-langkah yang komprehensif. Di dunia pendidikan, kita sudah menanamkan kepada anak didik untuk peduli, menjaga, dan melestarikan lingkungan,” imbuhnya.
Sebagai implementasi nyata di lapangan, SMAN 5 Jember tidak hanya menyediakan fasilitas pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Mereka juga aktif mendorong para siswa untuk menekan produksi sampah secara mandiri, khususnya sampah plastik.
“Para siswa dibiasakan membawa wadah makanan dan botol air minum (tumbler) sendiri dari rumah demi meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai.” Imbuhnya.
*Butuh Dukungan Pemerintah dan Keteladanan Guru*
Lebih lanjut, Helmi menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan wadah di level yang lebih luas. Hal ini dinilai krusial agar pemahaman pelestarian lingkungan yang diperoleh siswa di sekolah dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat.
Di akhir dialog, Helmi mengajak seluruh lembaga pendidikan di Kabupaten Jember untuk mulai menanamkan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak usia dini. Ia mengingatkan bahwa hubungan antara manusia dan alam bersifat timbal balik.
“Ketika kita bisa menjaga lingkungan kita dengan baik, maka lingkungan juga akan memberikan dampak yang baik untuk kita, demikian pula sebaliknya,” pesan Helmi.
Ia juga menekankan bahwa penanaman nilai-nilai karakter lingkungan ini tidak akan berhasil tanpa adanya keteladanan nyata.
Oleh karena itu, para tenaga pendidik, guru, serta kepala sekolah harus menjadi contoh utama sebelum mengajarkannya kepada para siswa.








