Banner iklan

Usai Disorot Investigasi.News, Pemkab Pidie Jaya Bergerak: Jalan Warga Rieng Krueng Segera Dibangun

More articles

Pidie Jaya, Investigasi.News — Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya merespons langsung keluhan warga Desa Rieng Krueng, Kecamatan Meureudu, yang selama ini kesulitan mengakses rumah mereka. Setelah persoalan tersebut diberitakan Investigasi.News dengan judul:

Miris! 71 Tahun Hidup Tanpa Akses Jalan, Syamsudin dan Dua KK Terpaksa Lintasi Kuburan serta Kebun Tetangga

Miris! Jalan ke Sekolah Tak Layak, Bocah TK di Pidie Jaya Harus Lewati Semak dan Kuburan

Nasib Syamsuddin, 71 Tahun, Hidup Terisolasi: Wakil Rakyat Bersuara, Solusi Akses Jalan Ditunggu

Wakil Bupati Pidie Jaya turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan solusi pembangunan akses jalan.

Kehadiran Wakil Bupati Pidie Jaya itu menjadi angin segar bagi keluarga Syamsuddin dan dua kepala keluarga lainnya yang selama ini harus berjuang melewati semak belukar, kawasan perkebunan, bahkan area pemakaman untuk keluar-masuk rumah.

Kunjungan tersebut berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026. Wakil Bupati tidak hanya datang melihat kondisi dari jauh, tetapi menyusuri langsung jalur yang selama ini digunakan warga. Dalam kunjungan itu, ia turut didampingi kontributor Investigasi.News, aparatur Desa Rieng Krueng, serta Camat Meureudu.

Kondisi akses menuju rumah warga memang cukup memprihatinkan. Jalur yang seharusnya menjadi akses utama justru terputus oleh lahan pemakaman dan perkebunan milik warga. Akibatnya, masyarakat harus melewati jalur sempit yang dipenuhi semak belukar untuk menuju rumah.

Melihat langsung kondisi tersebut, Pemkab Pidie Jaya menyatakan akan mendorong pembangunan jalan rambat beton agar warga memiliki akses yang lebih layak dan aman.

Wakil Bupati menjelaskan, pemerintah desa terlebih dahulu telah melakukan upaya pembebasan lahan. Setelah lahan tersedia, pemerintah kabupaten akan mengupayakan pembangunan jalan rambat beton sehingga akses menuju rumah warga tidak lagi bergantung pada jalur semak belukar dan area pemakaman.

“Pihak desa sudah membebaskan lahan. Kita berharap DPRK dan Bupati mau menganggarkan sedikit anggaran untuk membuat rambat beton,” ujarnya.

Ia juga menegaskan, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Setelah melihat langsung kondisi lapangan, dirinya menyatakan akan segera mengupayakan tindak lanjut pembangunan akses jalan tersebut.

Bagi warga, kepastian tersebut bukan sekadar janji pembangunan, tetapi harapan agar kesulitan yang mereka alami bertahun-tahun segera berakhir.

Keuchik Rieng Krueng, Jainal Abidin, membenarkan bahwa pemerintah desa telah berupaya menyediakan lahan untuk pembangunan jalan. Menurutnya, lahan tersebut telah dibebaskan menggunakan anggaran desa, namun kemampuan keuangan desa belum mencukupi untuk membangun jalan rambat beton.

“Lahan sudah kami bebaskan dengan anggaran desa. Tinggal pembangunan rambat beton yang membutuhkan lebih kurang Rp100 juta. Kami sangat berharap perhatian pemerintah untuk hal tersebut,” kata Jainal Abidin.

Ia berharap Pemkab Pidie Jaya dapat membantu merealisasikan pembangunan tersebut sehingga akses masyarakat menuju rumah dapat segera dibuka secara layak.

Sementara itu, Ramlah, istri Syamsuddin, mengaku lega dan senang setelah Wakil Bupati datang langsung melihat kondisi mereka. Ia berharap tindak lanjut yang disampaikan pemerintah benar-benar segera diwujudkan.

“Saya senang Pak Wakil datang dan melihat langsung kondisi kami. Semoga apa yang disampaikan hari ini bisa terlaksana secepatnya,” harap Ramlah.

Kehadiran pemerintah di tengah persoalan warga itu sekaligus menandai babak baru bagi keluarga Syamsuddin dan dua KK lainnya. Setelah sekian lama harus bertaruh dengan semak belukar, pagar, perkebunan dan kuburan untuk keluar-masuk rumah, kini mereka memiliki harapan baru: akses jalan yang layak segera terbuka.

Sebagaimana diberitakan Investigasi.News sebelumnya, persoalan akses tersebut bukan hanya menyulitkan aktivitas orang dewasa. Seorang anak yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) yang tinggal di rumah tersebut juga setiap hari harus melewati semak belukar, pagar dan kawasan pemakaman ketika berangkat ke sekolah.

Kini, warga Rieng Krueng menunggu satu hal: janji pembangunan itu benar-benar berubah menjadi jalan yang bisa mereka lewati dengan aman dan layak.

(Herry)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest