Dia Yang Mengimani Perjuangan: Jalan Politik Janwar Umasangaji

Malut, Investigasi.news- Sebuah palu baru saja diketuk di atas meja kayu ruang kuliah kampus Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Ketukan terakhir setelah dua kali ketukan sebelumnya menandakan bahwa Janwar Umasangaji telah sah menjadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Saya ada di antara puluhan mahasiswa yang antusias mengikuti rapat kala itu. Janwar seangkatan dengan saya, saat itu kami telah semester enam, Janwar mengambil Jurusan Administrasi Negara sementara saya Ilmu Pemerintahan.

Beberapa menit setelah terpilih, Janwar memancarkan senyum yang tampak berat, di raut wajahnya ia beberapa kali terlihat bahagia, namun di beberapa kesempatan ia tampak merenung. Sebagai seorang teman, saya tau, tak mudah bagi seorang anak yang dibesarkan oleh kepedihan harus memanggul tanggungjawab besar yang akan ia jalankan satu atau dua tahun kedepan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sempat vakum selama 9 tahun. Sejak tahun 2016 lembaga intra kamus ini telah alpa dari aktivitas politik mahasiswa, baru pada tahun 2015 sebuah gerakan dari mahasiswa FISIP mulai pecah, beberapa ruang kuliah terpaksa ditutup, aktivitas di Kampus UMMU Ternate terpaksa dilumpuhkan. Tak ada belajar mengajar pada saat itu, kemarahan mahasiswa memuncak akibat dari pengekangan kampus terhadap lahirnya BEM di seluruh fakultas di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara.

Saya ingat, Janwar juga ada dalam barisan masa aksi yang menuntut lahirnya lembaga intra kampus sebagai sarana penyampaian aspirasi mahasiswa, dalam aksi itu juga masa aksi menuntut agar kampus dimurnikan dari seluruh aktivitas politik praktis menjelang pilkada 2016 lalu. Ledakan masa aksi tak mampu dibendung, beberpa titik di depan gedung kampus A mulai muncul gumpalan asap hitam, masa aksi mulai tak terkendalikan, Saat itu Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dipimpin oleh Dr. Kasman H Ahmad yang saat itu kebetulan mencalonkan diri sebagai salah satu peserta dalam kontestasi pilkada di Halmahera Utara, disela-sela riuhnya teriakan masa aksi, Kasman datang menyampaikan sikapnya untuk mundur dari jabatan rektor agar fokus dalam pertarungan pilkada.

Hari-hari setelah mundurnya Kasman, Mahasiswa FISIP menyepakati untuk membentuk Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM), Janwar Umasangadji terpilih menjadi ketua KPUM, dia mulai menyusun bangunan organisasi yang sudah lama ia impikan. Sayangnya Janwar tidak turut menjadi bagian dari kandidat BEM saat itu, baru setelah di akhir masa jabatan ketua BEM terpilih, Janwar, saya, dan beberapa mahasiswa FISIP mengambil langkah penyelamatan organisasi karena sebelumnya sempat tak terurus. Kami membentuk musyawarah, Janwar terpilih melalui rekomendasi beberapa perwakilan mahasiswa program studi di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Setelah menjadi Presiden BEM, langkah politik Janwar mulai terlihat, ia aktif mendistribusikan mahasiswa FISIP dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan. Saya ingat, disaat menurunnya moralitas dan idealisme pemuda saat itu, Janwar, saya, dan bahkan teman-teman FISIP berani meneriakan untuk membubarkan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) karena menjadi faktor utama yang mengikis idealisme pemuda di Maluku Utara kala itu. Saya yakin, sebagai seorang mahasiswa yang meyakini perjuangan, tak sedikit dari mahasiswa, dosen, dan bahkan kader di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tempat Janwar berproses juga turut membencinya.

Namun, ada satu hal yang unik dari sikap Janwar, ia tak mudah memusuhi orang lain, musuhnya adalah kezaliman, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan. Enam tahun berlalu, setelah melepaskan jabatan sebagai presiden BEM FISIP, Janwar merubah ladang pengabdiannya, ia baru saja dipilih sebagai salah satu daftar calon legislatif di dapil 1 kepulauan Sula melalui partai Gerindra. Saya ingat, disaat itu, pada sela-sela aksi, diemperan trotoar sebuah jalan di Kota Ternate, Janwar pernah bilang, “Salah satu penyebab kehancuran negara adalah ketika orang baik tak mengambil peran dalam politik”. Saya mengingatnya. Janwar lelaki yang dibesarkan dari luka yang terus mengimani perjuangan.

Oleh : Risman A.M Djen S.IP., M.IP.

IKLAN HPN

Related Articles

Iklan hpn
Iklan HPN
Iklan hpn
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Latest Articles