Karena Kondisi Hujan PDAM-Sula Terpaksa Aliri Air Bersih Secara Bergilir, Ini Alasannya

More articles

spot_img

Malut, Investigasi.newsBelakangan ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Kepulauan Sula tengah disorot karena dianggap kerap tidak mengaliri air bersih kepada pelanggannya.

Pelanggan PDAM-Sula kesal karena mereka harus menampung air hujan atau beli air gelong untuk kebutuhan MCK, padahal mereka mengaku kalo selama ini taat membayar iuran air yang ditagih PDAM.

Sebenernya apa masalah yang terjadi, berikut adalah hasil wawancara investigasi dengan Budi Munir Banapon Direktur PDAM-Sula.

“Sebenarnya tidak semua pelanggan PDAM tidak teraliri air bersih secara serentak, karena memang kami harus mengaliri secara bergilir”, ungkap Direktur Budi kepada Investigasi (16/5).

Budi mengaku berbagai upaya telah dilakukan demi untuk memberikan layanan terbaik kepada konsumen PDAM-Sula yakni masyarakat kota Sanana dan sekitarnya.

”Gangguan seperti banjir pada bak penampungan, hingga masuknya material pasir dan lumpur, sehingga kami harus menyaring (filter) sampai air jernih kembali, bahkan kami sampai melakukan rekayasa aliran dengan melakukan sistem buka-tutup valve demi untuk tetap memberikan pelayanan meski memang metode seperti ini kurang maksimal seperti air jalan normal”, tambah Budi.

Lanjutnya, fenomena sebagian masyarakat yang tidak teraliri air bersih ketika PDAM-Sula harus menggilir memang menjadi persoalan yang harus segera ditemukan solusinya.

“Misalnya yang mati beberapa hari lalu itu Wai Lau, Pastina, dan sebagian Waihama, tapi pelanggan lainnya tetap teraliri air bersih”, cetus Budi Munir Banapon.

Kepada investigasi Budi mengaku jika layanan PDAM-Sula memang belum maksimal, namun demikian ia dan jajarannya tidak hanya berpangku tangan, tapi terus melakukan ’improve’ agar layanan PDAM bisa terus meningkat.

“Kami memahami psikologis pelanggan kami, namun kami juga mau bilang jika kami tidak hanya diam, Di Waiboga hampir setiap hari petugas kami harus membersihkan sumber air, kadangkala baru dibersihkan sudah banjir lagi akibat curah hujan yang tinggi, sebenarnya ini persoalan teknis yang tidak harus kami beberkan, namun demikian kami hanya ingin masyarakat tau bahwa kami tidak dalam posisi berpangku tangan”, tambahnya lagi.

Kepada awak media investigasi, Budi sempat menceritakan pengalamannya beberapa waktu lalu, ketika dia mengkroscek jam 13.00 WIT air di Waibau sudah berjalan, kemudian jam 13.30 aliran dari Waiboga juga sudah mengalir, namun baru saja dikasih jernih dan air berjalan namun saat dirinya memasuki kota Sanana dari Waiboga terlihat mendung kembali dan hujan, kondisi ini terpaksa dikasih mati lagi aliran air dan esoknya harus ke atas lagi untuk membersihkan sumber air.

Budi menepis kalo dikatakan satu Minggu lebih air bersih PDAM-Sula tidak mengalir, dan juga menolak jika air PDAM Sula berhenti mengalir untuk semua pelanggan.

”Kita tidak acuh terhadap keluhan pelanggan justeru itu menjadi cambuk untuk kita menjadi lebih baik, namun kita mau juga objectif bahwa tidak seminggu penuh air tidak mengalir, kadang kalo memungkinkan malam kita aliri air, namun begitu sudah kalo hujan kemudian banjir lagi kita harus matikan kembali dan membersihan sumber air, karena jika air penuh dengan material pasir dan lumpur sampai ke pelanggan itu kan menjadi masalah juga”, timpal Budi.

Dirinya berharap secepatnya pihak DPRD bisa memanggil PDAM Sula, agar bisa duduk bersama membahas persoalan air bersih di Kab. Kepulauan Sula.

(RL)

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest

spot_img