Beranda blog Halaman 5

Pesan Menteri Nusron untuk 568 Wisudawan/Wisudawati Politeknik Agraria STPN: Jaga Integritas di Mana pun Bekerja

0
Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyampaikan pesan kepada 568 wisudawan/wisudawati Politeknik Agraria STPN di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mewisuda 568 Taruna/i Politeknik Agraria STPN Program Studi Sarjana Terapan Pertanahan Tahun Akademik 2025/2026 pada Sabtu (05/09/2026). Dalam sambutannya, Menteri Nusron mengingatkan untuk selalu menjaga integritas dan menggunakan ilmu yang diperoleh selama pendidikan dalam pelaksanaan tugas serta pengabdian kepada masyarakat.

“Di mana pun Saudara bekerja, integritas harus dijaga. Saudara akan berhadapan dengan tanah yang menyangkut kehidupan masyarakat, tempat tinggal, mata pencaharian, investasi, pembangunan, bahkan masa depan keluarga. Karena itu, pekerjaan di bidang pertanahan dan agraria membutuhkan tanggung jawab moral yang sangat besar.” ujar Menteri Nusron dalam acara wisuda yang berlangsung di Pendopo Sasana Widya Bhumi, Politeknik Agraria STPN, Sleman.

Selain menyelamati wisudawan dan wisudawati yang telah menyelesaikan pendidikan di Politeknik Agraria STPN, Menteri Nusron juga mengapresiasi orang tua dan keluarga yang telah memberikan dukungan penuh selama ini. Apresiasi juga disampaikan kepada dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh civitas academica Politeknik Agraria STPN yang telah mendampingi dan mempersiapkan generasi baru di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.

Menurut Menteri Nusron, wisuda perdana sejak STPN bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN ini adalah momen penting bagi lembaga yang menyiapkan sumber daya manusia (SDM) di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang. Transformasi diharapkan semakin memperkuat kapasitas pendidikan vokasi dan bisa melahirkan generasi penerus yang mampu menjawab berbagai tantangan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang.

“Kita membutuhkan SDM yang memahami persoalan pertanahan secara utuh, menguasai teknologi, mampu bekerja secara profesional, dan yang paling penting, memiliki integritas,” ungkap Menteri Nusron yang hadir didampingi oleh Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Ossy Dermawan, serta sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN.

Prosesi wisuda ditandai dengan penyerahan ijazah oleh Menteri Nusron dan Wamen Ossy kepada para wisudawan dan wisudawati. Prosesi dilanjutkan dengan pelepasan atribut serta penyerahan Kartu Anggota Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi (KAPTI) Agraria kepada para lulusan.

Dalam kesempatan ini, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad, juga menyampaikan apresiasinya bagi para wisudawan dan wisudawati yang telah mencapai tahap akhir perjalanan akademiknya. Menurutnya, wisuda perdana ini adalah momentum istimewa, tidak hanya bagi para lulusan, tetapi juga bagi seluruh civitas academica Politeknik Agraria STPN.

“Kelulusan hari ini merupakan buah dari kerja keras, ketekunan, dan perjuangan yang telah dilalui selama menempuh pendidikan. Kami berharap para lulusan dapat membawa ilmu dan kompetensi yang diperoleh untuk memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai tantangan di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” tutur Sri Yanti Achmad.

Dalam wisuda kali ini, tiga taruna/i meraih predikat lulusan terbaik. Mereka ialah Susana Nadia Putri Betan, taruni tugas belajar utusan Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi NTT dengan IPK 3,94; Novita Ayu Kustianingsih, taruni tugas belajar utusan Kanwil BPN Provinsi Riau dengan IPK 3,91; dan Ni Luh Putu Ananda Pertiwi, taruni tugas belajar utusan Kanwil BPN Provinsi Lampung dengan IPK 3,90.

Turut hadir mengikuti rangkaian prosesi wisuda, sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kepala Kanwil BPN Provinsi se-Indonesia beserta jajaran.

Sri Sultan Hamengkubuwono X: Indonesia Butuh Insan Pertanahan yang Mampu Baca Peta Sekaligus Memahami Manusia

0
Para Taruna/i Politeknik Agraria STPN mengikuti upacara wisuda di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Sleman – Gubernur D.I. Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menilai Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang tidak hanya cakap membaca peta dan menguasai teknologi, namun juga mampu memahami manusia, sejarah, serta kebudayaan yang hidup di balik setiap bidang tanah. Pesan tersebut disampaikan kepada para wisudawan dan wisudawati Politeknik Agraria STPN agar ilmu pertanahan yang mereka miliki dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Indonesia membutuhkan insan pertanahan yang mampu membaca peta sekaligus memahami manusia di dalam peta. Saudara perlu cakap menguasai teknologi, tetapi tetap bijak dalam menimbang rasa keadilan. Saudara perlu teguh menjalankan regulasi tetapi tetap arif membaca sejarah dan kebudayaan masyarakat,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Daerah Provinsi DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, saat wisuda Politeknik Agraria STPN, Sabtu (05/09/2026).

Menurutnya, tanah bagi Indonesia bukan sekadar hamparan fisik, melainkan bagian dari jati diri, jejak perjuangan, dan fondasi pemerintahan. Di atas tanah, manusia membangun rumah, memproduksi pangan, membentuk komunitas, serta menautkan masa lalu dengan masa depan. Tanah pun kerap dikenal sebagai Ibu Pertiwi yang mengandung kehidupan, memberi penghidupan, dan menjaga keberlanjutan peradaban.

Oleh karena itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengingatkan bahwa pengelolaan tanah tidak dapat dilepaskan dari nilai dan kebudayaan masyarakat yang hidup di dalamnya. Dalam filosofi Jawa, ada prinsip Hamemayu Hayuning Bawana, yakni ikhtiar manusia untuk menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keindahan dunia. Prinsip tersebut mengajarkan bahwa setiap campur tangan manusia dalam mengelola tanah harus membawa kehidupan menuju keadaan yang lebih adil dan manusiawi.

Pandangan bahwa tanah merupakan amanah kolektif juga hidup di penjuru Nusantara. Di Minangkabau dikenal prinsip Harta Pusaka Tinggi yang berkaitan dengan tanah ulayat kaum dan tanggung jawab lintas generasi. Di Bali, sistem subak mempertahankan keterkaitan tanah, air, pertanian, dan spiritualitas melalui filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Sementara itu, di berbagai wilayah Indonesia Timur, termasuk Papua dan Maluku, sistem hak ulayat memperlihatkan bahwa tanah kerap dipahami sebagai ruang hidup bersama yang melekat pada tanggung jawab sosial suatu marga atau kelompok adat.

“Keragaman ini adalah kekayaan tata kelola pemerintahan Indonesia. Regulasi perlu membacanya dengan jernih, kebijakan perlu menghormatinya dengan arif, teknologi perlu mengakomodasinya dengan presisi dan kepekaan,” tutur Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan, berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pertanahan tidak hanya berhubungan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut manusia dan kehidupan yang berada di balik sebuah bidang tanah. Penguatan keamanan tenurial berkaitan erat dengan kesejahteraan manusia dan keberlanjutan lingkungan.

Kepastian hak atas tanah membutuhkan perangkat kelembagaan dan tata kelola yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi kemanfaatan nyata bagi masyarakat. “Di sinilah ilmu pertanahan memperoleh kedudukan strategis. Ilmu pertanahan bekerja di antara ukuran dan makna, antara peta dan manusia, antara sertipikat dan juga martabat,” ungkap Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Kepada para wisudawan dan wisudawati, Sri Sultan Hamengkubuwono X mengingatkan bahwa kelak mereka akan berhadapan dengan berbagai berkas pertanahan yang tampak rutin. Namun, di balik setiap berkas tersebut terdapat kehidupan manusia yang menaruh harapan kepada mereka. Karena itu, ilmu dan kompetensi yang diperoleh selama menempuh pendidikan perlu diwujudkan dalam pelayanan yang memberikan kepastian sekaligus mempertimbangkan keadilan dan kondisi sosial masyarakat.

Sri Sultan Hamengkubuwono X berpesan agar para lulusan membawa ilmu mereka ke tengah masyarakat dengan sikap rendah hati. Setiap pengukuran diharapkan menjadi jalan menuju kepastian, setiap pemetaan menjadi jalan menuju keteraturan, dan setiap pelayanan pertanahan menjadi jalan menuju ketentraman sosial. “Dengan visi seperti itulah kita menaruh harapan besar kepada para wisudawan-wisudawati yang akan mengaplikasikan ilmunya di dunia kerja,” pungkasnya.

Menteri Nusron dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN: Tradisi Dialektika Berpikir Tidak Boleh Mati di Mana pun Berada

0
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyampaikan kuliah umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

​Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Menurutnya, keberagaman pemikiran dapat hadir di Politeknik Agraria STPN melalui kuliah umum yang mempertemukan berbagai pandangan dan memperkaya proses pembelajaran.

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron saat memberikan sambutan dalam Kuliah Umum yang juga menghadirkan Rocky Gerung sebagai narasumber, di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (04/09/2026).

Menteri Nusron justru menilai perbedaan pemikiran justru dapat memperkaya wawasan apabila setiap pihak diberikan ruang untuk menyampaikan dan mempertukarkan gagasannya. Ia menggambarkan proses tersebut melalui “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, Rocky memberikan apelnya kepada saya, saya memberikan apel saya kepada Rocky, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap hanya memiliki satu buah apel,” jelas Menteri Nusron.

Berbeda halnya dengan pertukaran pemikiran. Ketika dua orang dengan pemikiran berbeda saling bertukar gagasan, masing-masing justru akan memperoleh tambahan perspektif. “Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” tutur Menteri Nusron.

Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir di Politeknik Agraria STPN dapat menjadi ruang untuk saling berbagi pendapat sehingga memperkaya cara pandang para mahasiswa. “Sharing pendapat itu akan menjadikan kita mempunyai kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” kata Menteri Nusron.

Kuliah umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” tersebut juga menghadirkan Rocky Gerung sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdebatan dalam proses pertukaran pemikiran.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky Gerung.

Di hadapan para Taruna/i Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung juga menjelaskan pendekatan filosofis yang digunakannya untuk mengajak peserta melihat kembali akar dari berbagai konsep dan pemikiran. “Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya.

Dalam kuliah umum yang diikuti oleh sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN; Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN; seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran; dan lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung menyampaikan tiga konsep pemaknaan pengelolaan tanah. Pemaknaan tersebut di antaranya bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur. Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum. Sementara bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Menteri ATR/Kepala BPN: Transformasi Organisasi dan Layanan Pertanahan Harus Bermuara pada Kepastian bagi Masyarakat

0
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, memimpin Rapat Koordinasi Transformasi Layanan Pertanahan bersama Kepala Kanwil dan Kepala Kantah se-Indonesia di Sleman, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026).

​Sleman – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengarahkan agar transformasi yang tengah dilakukan Kementerian ATR/BPN bermuara pada kemudahan serta kepastian bagi masyarakat. Saat ini, transformasi difokuskan pada penguatan struktur organisasi serta peningkatan kualitas layanan, khususnya dalam layanan Peralihan Hak dan Pengukuran.

“Jadi ending-nya dari semua itu adalah pelayanan. Unit organisasi itu adalah syarat, adalah penunjang. Apa artinya kita lakukan transformasi organisasi kalau ternyata lebih menyulitkan? Jadi ending-nya ini adalah untuk memudahkan,” ujar Menteri Nusron saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Transformasi Layanan Pertanahan bersama Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) dan 148 Kepala Kantor Pertanahan (Kantah) se-Indonesia, di Pendopo Sasana Widya Bhumi, Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, Jumat (04/09/2026).

Dalam Rakor tersebut, Menteri Nusron mengumpulkan Kepala Kantah, terutama dari wilayah Pulau Jawa serta daerah-daerah besar di luar Jawa. Ia meminta jajaran memastikan transformasi organisasi maupun pelayanan bisa mulai berjalan pada tahun 2026 ini.

Pada tahap awal, transformasi pelayanan difokuskan pada dua layanan utama, yaitu Peralihan Hak dan Pengukuran Terjadwal. Untuk memastikan implementasinya berjalan efektif, dalam Rakor ini dilakukan evaluasi terhadap Kantah yang telah lebih dahulu menerapkan transformasi organisasi maupun layanan.

“Saya hanya sebagai pengantar untuk pertama mengecek 10 Kantah yang sudah melakukan transformasi struktur organisasi, di mana Kepala Seksi (Kasi)-nya menggunakan pendekatan kewilayahan. Apakah efektif atau tidak nanti tolong disampaikan di forum ini,” tutur Menteri Nusron.

Evaluasi juga dilakukan terhadap 17 Kantah yang menjadi perintis pelaksanaan Peralihan Hak Terintegrasi 10 hari. Masing-masing Kantah menyampaikan pengalaman dan masukan terkait pelaksanaan transformasi layanan, termasuk berbagai kendala yang masih ditemukan di lapangan.

Menurut Menteri Nusron, evaluasi penting dilakukan untuk memastikan seluruh hambatan dalam proses pelayanan dapat diidentifikasi dan diselesaikan. Terutama, yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat untuk memperoleh kejelasan mengenai waktu penyelesaian layanan pertanahan tengah diajukan ke Kantah. “Karena intinya Bapak/Ibu sekalian, kita ingin memberikan kepastian kepada masyarakat. Jangan sampai masyarakat itu sebagai pemohon tidak tahu kapan selesainya permohonannya. Ini dulu yang kita mau selesaikan,” tegasnya.

Sejalan dengan itu, Menteri Nusron meminta jajaran Kanwil dan Kantah yang belum menerapkan transformasi agar segera mempersiapkan diri. Perluasan transformasi organisasi akan dilakukan secara bertahap hingga mencakup lebih banyak Kantah pada tahun ini. “Karena pada tanggal 24 September tahun ini, tadi saya mendapatkan laporan dari Pak Makarima (Kepala Biro Organisasi, Tata Laksana, dan MR), langsung akan ditembak tambah 50 kantor. Kemudian pada akhir Desember juga akan ditembak lagi 50 kantor sehingga untuk transformasi keorganisasian tahun ini menjadi 110 kantor,” ungkapnya.

Transformasi layanan Peralihan Hak juga akan diperluas dengan jumlah Kantah yang ditargetkan minimal sama dengan target transformasi organisasi. “Kemudian kalau ditambah dengan yang Peralihan Hak ini minimal sama. Jadi 110 kantor,” lanjut Menteri Nusron.

Untuk itu, ia meminta para Kakanwil dan Kepala Kantah untuk mempersiapkan dan memastikan transformasi menghasilkan layanan yang lebih mudah, jelas, dan memberikan kepastian kepada masyarakat. “Jadi Bapak/Ibu yang kita kumpulkan ini adalah Bapak/Ibu yang memimpin kantor yang mau tidak mau memang tahun ini harus sudah bertransformasi, baik transformasi unit organisasinya maupun transformasi pelayanannya,” pungkas Menteri Nusron.

Rakor dilanjutkan dengan monitoring dan evaluasi mengenai transformasi layanan dan organisasi yang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal ATR/BPN, Dalu Agung Darmawan; Direktur Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah (Dirjen PHPT), Asnaedi; serta Kepala Biro Ortala dan MR, Einstein Al Makarima. Hadir dalam kesempatan ini, Staf Ahli Bidang Partisipasi Masyarakat dan Pemerintah Daerah, Andi Tenri Abeng serta sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama Kementerian ATR/BPN.

Masuki Babak Baru, Politeknik Agraria STPN Resmi Diluncurkan oleh Menteri ATR/Kepala BPN

0
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, memukul gong menandai resmi bertransformasinya Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) menjadi Politeknik Agraria STPN dalam acara peresmian sekaligus wisuda 568 Taruna/i di Sleman, Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).

Yogyakarta – Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) resmi memasuki babak baru dengan bertransformasi menjadi Politeknik Agraria STPN. Peresmian sekaligus perubahan bentuk kelembagaan menjadi Politeknik Agraria STPN ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, didampingi Wakil Menteri ATR/Wakil Kepala BPN, Ossy Dermawan; Sekretaris Jenderal, Dalu Agung Darmawan; Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Agustyarsyah; serta Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad. Prosesi dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti peresmian dan penyerahan bendera dari Menteri ATR/Kepala BPN kepada Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN.

“Politeknik Agraria STPN merupakan satu-satunya perguruan tinggi vokasi di Indonesia yang bergerak secara khusus mengembangkan pendidikan bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” ujar Menteri Nusron dalam peresmian dilaksanakan bersamaan dengan prosesi wisuda 568 Taruna/i Politeknik Agraria STPN, di Pendopo Sasana Widya Bhumi Politeknik Agraria STPN, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (05/09/2026).

Menteri Nusron menjelaskan, selama puluhan tahun STPN telah melahirkan ribuan tenaga profesional yang kemudian mengabdi di Kementerian ATR/BPN maupun berbagai bidang lainnya. Besarnya kontribusi tersebut menjadi salah satu alasan penting untuk terus memperkuat kelembagaan dan kualitas pendidikan di Politeknik Agraria STPN.

“Proses transformasi yang selama beberapa tahun terakhir kita perjuangkan, saat ini sudah mencapai tahap akhir. Perubahan bentuk kelembagaan, penataan organisasi, pengembangan kurikulum vokasi, pembukaan program studi baru, sampai dengan penyelenggaraan pendidikan telah dilaksanakan dan berjalan dengan baik,” tutur Menteri Nusron.

Saat ini, proses pembahasan dan penetapan statuta Politeknik Agraria STPN masih berlangsung di Kementerian Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Proses tersebut akan terus dikawal hingga selesai oleh Kementerian ATR/BPN.

Sejalan dengan transformasi STPN, tiga program studi baru yang mulai diselenggarakan pada tahun akademik 2025/2026 telah memperoleh akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Menurut Menteri Nusron, capaian tersebut menunjukkan komitmen Politeknik Agraria STPN untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. “Transformasi ini harus kita lihat sebagai proses untuk membuat pendidikan di Politeknik Agraria STPN semakin relevan dengan kebutuhan lapangan,” ucapnya.

Ia berharap, kurikulum dan sistem pembelajaran di Politeknik Agraria STPN terus berkembang secara adaptif mengikuti kebutuhan zaman. Kampus tersebut diharapkan menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan, inovasi teknologi, dan solusi yang dapat digunakan untuk menjawab persoalan agraria, pertanahan, dan tata ruang. “Kementerian ATR/BPN akan terus memberikan dukungan terhadap penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan sarana dan prasarana, serta pembiayaan yang diperlukan untuk memperkuat Politeknik Agraria STPN,” ujar Menteri Nusron.

Sementara itu, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, Sri Yanti Achmad menjelaskan bahwa perubahan bentuk kelembagaan dari STPN menjadi Politeknik Agraria STPN merupakan hasil dari proses dan perjuangan panjang seluruh civitas academica. Transformasi ditandai dengan pembukaan tiga program studi baru, yaitu Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan, Program Studi Sarjana Terapan Survei Pemetaan dan Informasi Pertanahan, serta Program Studi Sarjana Terapan Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah.

Pembukaan ketiga program studi tersebut merupakan wujud komitmen Politeknik Agraria STPN dalam memperkuat pengembangan keilmuan dan kompetensi di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang, sekaligus memenuhi amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022. “Peresmian Politeknik Agraria STPN yang dirangkaikan dengan wisuda perdana ini menjadi momentum penting yang menandai babak baru dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi vokasi serta menguatkan peran Politeknik Agraria STPN dalam menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan profesional di bidang agraria, pertanahan, dan tata ruang,” pungkas Sri Yanti Achmad.

Dalam kegiatan peresmian sekaligus wisuda perdana Politeknik Agraria STPN ini, turut diberikan penghargaan kepada Kepala Pusat Penilaian Kompetensi BPSDM, Heri Mulianto, sebagai pencipta Hymne Politeknik Agraria STPN. Hadir dalam kesempatan ini, sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Sekretaris Daerah Provinsi D.I. Yogyakarta, serta Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) BPN Provinsi se-Indonesia beserta jajaran.

Gubernur Herman Deru Turun Langsung Kawal Revitalisasi Jembatan P6 Lalan, Target Kembali Molor

0
Gubernur Herman Deru Turun Langsung Kawal Revitalisasi Jembatan P6 Lalan. Foto: (Suprene)

MUBA — Komitmen Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mempercepat revitalisasi Jembatan P6 Lalan kembali ditegaskan Gubernur Sumsel Dr. H. Herman Deru. Jembatan yang menjadi urat nadi mobilitas masyarakat Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), itu mendapat perhatian serius menyusul kembali molornya target penyelesaian pembangunan.

Herman Deru turun langsung ke lokasi untuk meninjau progres revitalisasi Jembatan P6 Lalan, Kecamatan Lalan, Kabupaten Muba, Minggu (6/9/2026). Peninjauan tersebut tidak sekadar melihat perkembangan fisik pembangunan, tetapi juga menjadi momentum untuk membedah berbagai persoalan yang dinilai menghambat percepatan pekerjaan.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Sumsel berdiskusi langsung bersama instansi terkait, Asosiasi P6 Lalan, pihak kontraktor, serta masyarakat setempat. Pembahasan difokuskan pada sejumlah kendala di lapangan yang menyebabkan target revitalisasi kembali mengalami keterlambatan.

Bagi masyarakat Lalan, keberadaan Jembatan P6 memiliki arti strategis. Infrastruktur tersebut menjadi akses penting yang menopang aktivitas masyarakat, termasuk mobilitas orang dan distribusi berbagai kebutuhan ekonomi. Karena itu, keterlambatan pembangunan jembatan tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis konstruksi, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas warga.

Gubernur Herman Deru menegaskan pentingnya seluruh pihak yang terlibat mencari solusi konkret agar pembangunan tidak terus mengalami kemunduran. Pemerintah daerah bersama pihak terkait didorong untuk memperkuat koordinasi dan memastikan setiap kendala yang muncul segera ditindaklanjuti.

Peninjauan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Pemprov Sumsel tidak ingin persoalan revitalisasi Jembatan P6 Lalan berlarut-larut tanpa kepastian. Progres pekerjaan menjadi perhatian bersama agar pembangunan dapat kembali berjalan sesuai target dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

Turut mendampingi Gubernur Sumsel dalam kunjungan tersebut Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel Musni Wijaya, M.Si., Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) Provinsi Sumsel Ir. Affandi, Wakil Bupati Muba Abdur Rohman Husen, serta sejumlah unsur Forkopimda Provinsi Sumsel dan Kabupaten Muba.

Kehadiran langsung para pemangku kepentingan di lokasi diharapkan mampu menghasilkan langkah konkret untuk mempercepat penyelesaian revitalisasi Jembatan P6 Lalan. Masyarakat kini menanti bukan sekadar janji target, melainkan kepastian bahwa jembatan tersebut benar-benar dapat kembali berfungsi secara optimal.

Suprene

Kabar Baik bagi Warga, 267 KPM Upang Ceria Terima Bantuan Pangan

0
Kepala Desa Upang Ceria, Makmur Ferdiansyah, M.Pd., bersama staf desa dan BPD saat menyalurkan bantuan pangan edisi Juli, Agustus, dan September kepada masyarakat penerima manfaat. Foto: Suprene

BANYUASIN, SUMSEL — Pemerintah Desa Upang Ceria, Jalur 8, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyalurkan bantuan pangan untuk edisi Juli, Agustus, dan September kepada masyarakat penerima manfaat.

Penyaluran bantuan tersebut menyasar sebanyak 267 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kegiatan berlangsung dengan melibatkan jajaran staf Pemerintah Desa Upang Ceria bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD).

Kepala Desa Upang Ceria, Makmur Ferdiansyah, M.Pd., mengatakan penyaluran bantuan pangan merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya keluarga yang masuk dalam daftar penerima manfaat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pemerintah desa akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Makmur.

Menurutnya, keterlibatan perangkat desa dan BPD dalam proses penyaluran juga menjadi bagian dari upaya memastikan kegiatan berjalan tertib, transparan, dan tepat sasaran.

Sementara itu, masyarakat penerima manfaat menyambut baik penyaluran bantuan tersebut. Bantuan pangan dinilai cukup membantu meringankan beban kebutuhan rumah tangga, terutama di tengah berbagai kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Pemerintah Desa Upang Ceria berharap bantuan yang diterima masyarakat dapat benar-benar memberikan manfaat dan mendukung ketahanan pangan keluarga.

Penyaluran bantuan untuk tiga edisi sekaligus, yakni Juli, Agustus, dan September, menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah kepada masyarakat Desa Upang Ceria agar kebutuhan pangan keluarga penerima manfaat tetap terjaga.

(Suprene)

Kades Muhamad Rifai Pastikan Bantuan Pangan 254 KPM Mekar Sari Tersalurkan

0
Kepala Desa Mekar Sari, Muhamad Rifai, S.Pd., bersama staf desa dan BPD saat menyalurkan bantuan pangan periode Juli, Agustus, dan September kepada 254 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Mekar Sari, Jalur 10, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin. Foto: Suprene

BANYUASIN, SUMSEL — Pemerintah Desa Mekar Sari, Jalur 10, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyalurkan bantuan pangan untuk periode Juli, Agustus, dan September kepada masyarakat penerima manfaat.

Penyaluran bantuan tersebut menyasar sebanyak 254 Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Kegiatan berlangsung dengan melibatkan jajaran staf Pemerintah Desa Mekar Sari bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sebagai bentuk keterbukaan dan memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang telah ditetapkan sebagai penerima.

Kepala Desa Mekar Sari, Muhamad Rifai, S.Pd., mengatakan penyaluran bantuan pangan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya keluarga yang masuk dalam daftar penerima manfaat.

Menurutnya, keterlibatan perangkat desa dan BPD dalam proses penyaluran juga menjadi bagian penting untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan sesuai ketentuan.

“Bantuan ini diharapkan dapat membantu meringankan beban kebutuhan masyarakat. Kami juga mengajak seluruh penerima untuk memanfaatkan bantuan yang diterima dengan sebaik-baiknya,” ujar Muhamad Rifai.

Ia menambahkan, pemerintah desa akan terus berupaya memberikan pelayanan yang transparan dan memastikan setiap program pemerintah yang menyentuh langsung kepentingan masyarakat dapat dilaksanakan dengan baik.

Sementara itu, keterlibatan BPD dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari fungsi pengawasan di tingkat desa. Kehadiran unsur pemerintahan desa dan BPD diharapkan mampu memperkuat transparansi dalam pelaksanaan program bantuan.

Dengan disalurkannya bantuan pangan untuk tiga periode sekaligus, Pemerintah Desa Mekar Sari berharap bantuan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi 254 KPM, sekaligus membantu menjaga ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat penerima. Suprene

Perkuat Keandalan Infrastruktur Digital, PLN Icon Plus Lakukan Pemeliharaan Jaringan Fiber Optik di Pesisir Selatan

0
PLN Icon Plus Regional Sumatera Bagian Tengah terus melakukan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi untuk menjaga keandalan jaringan di wilayah operasionalnya. ( Foto: Humas PLN)

PLN Icon Plus Regional Sumatera Bagian Tengah terus melakukan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi untuk menjaga keandalan jaringan di wilayah operasionalnya. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan pada jalur kabel fiber optik di Jalan Talang, Ampang Tulak, Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. (06/09/2026)

Dalam kegiatan tersebut, tim teknis PLN Icon Plus melakukan pemeriksaan kondisi jalur sekaligus perapian instalasi kabel fiber optik. Pekerjaan dilakukan secara terencana dengan memperhatikan kondisi jaringan di lapangan serta memastikan setiap tahapan dilaksanakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang berlaku. Penerapan K3 menjadi bagian penting dalam setiap pekerjaan teknis untuk memastikan pekerjaan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan sesuai ketentuan. Pemeliharaan dilakukan sebagai langkah preventif untuk mengetahui kondisi infrastruktur dan menangani bagian jaringan yang membutuhkan perapian maupun penyesuaian. Dengan pemeliharaan secara berkala, potensi gangguan yang berasal dari kondisi jalur atau instalasi kabel dapat diketahui lebih awal sehingga dapat ditangani sebelum berdampak lebih luas terhadap layanan.

Senior Manager SBU Regional Sumatera Bagian Tengah PLN Icon Plus, Pepen Efendi, mengatakan pemeliharaan jaringan merupakan bagian dari pekerjaan rutin perusahaan dalam menjaga kualitas infrastruktur telekomunikasi yang digunakan untuk mendukung layanan kepada pelanggan.

“Pemeliharaan jaringan kami lakukan secara berkala dengan melihat kondisi yang ditemukan di lapangan. Tim melakukan pemeriksaan dan perapian pada jalur fiber optik yang membutuhkan penanganan. Langkah ini penting agar kondisi jaringan tetap terjaga dan potensi gangguan dapat dikurangi sehingga layanan kepada pelanggan dapat berjalan dengan baik,” ujar Pepen.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pemeliharaan berkelanjutan PLN Icon Plus Regional Sumatera Bagian Tengah terhadap jaringan telekomunikasi di wilayah Sumatera Bagian Tengah. Melalui pemeriksaan dan perawatan secara rutin, perusahaan berupaya menjaga kondisi infrastruktur agar tetap dapat mendukung kebutuhan layanan telekomunikasi dan konektivitas digital di Kabupaten Pesisir Selatan dan wilayah sekitarnya.

Pemdes Mukti Jaya Pastikan Bantuan Pangan 213 KPM Tersalurkan

0
Pemdes Mukti Jaya serahkan Bantuan Pangan 213. Foto:Suprene

Banyuasin, Sumsel — Pemerintah Desa (Pemdes) Mukti Jaya, Jalur 10, Kecamatan Muara Telang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menyalurkan bantuan pangan tahap Juli, Agustus, dan September kepada masyarakat penerima manfaat.

Penyaluran bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah desa dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, khususnya keluarga yang masuk dalam kategori Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Sebanyak 213 KPM tercatat menerima bantuan pangan tersebut. Proses penyaluran melibatkan jajaran staf Pemerintah Desa Mukti Jaya bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD), sehingga pelaksanaannya dapat berjalan tertib dan tepat sasaran.

Kepala Desa Mukti Jaya, Wayan Arya Mahendra, S.E., M.P., menyampaikan bahwa penyaluran bantuan pangan merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meringankan beban masyarakat di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

“Kami berharap bantuan ini dapat memberikan manfaat dan membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kepada seluruh penerima, kami harapkan bantuan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah desa akan terus berupaya memastikan setiap program bantuan yang disalurkan kepada masyarakat berjalan secara transparan dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ia juga mengapresiasi keterlibatan perangkat desa dan BPD dalam proses penyaluran bantuan tersebut.

“Terima kasih kepada seluruh staf desa dan BPD yang telah ikut membantu sehingga proses penyaluran dapat berjalan dengan baik. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat terus ditingkatkan,” tambahnya.

Dengan tersalurnya bantuan pangan untuk tiga bulan sekaligus, Pemdes Mukti Jaya berharap kebutuhan dasar masyarakat penerima manfaat dapat sedikit terbantu dan program pemerintah tersebut benar-benar memberikan dampak positif bagi kesejahteraan warga.

Suprene