Beranda blog Halaman 64

Wali Kota Solok Lepas Kafilah MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional

0
Wali Kota Solok bersama Nofriyon dan jajaran KORPRI Kota Solok dalam acara pelepasan Kafilah MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026.

Kota Solok,Investigasi.News – Wali Kota Solok, Dr. Ramadhani Kirana Putra, S.E., M.M., melepas Anggota KORPRI Kota Solok, Nofriyon, yang akan bergabung sebagai Kafilah MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026 bertempat di Kantor Bapperida Kota Solok, Rabu (19/8/2026).

MTQ VIII KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026 dijadwalkan berlangsung pada 23 hingga 30 Agustus 2026 di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Pada ajang tersebut, Nofriyon dipercaya mewakili KORPRI Provinsi Sumatera Barat pada cabang Haflah Putra.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Solok menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Nofriyon yang telah dipercaya membawa nama KORPRI Sumatera Barat di tingkat nasional. Wako berharap keikutsertaan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sekaligus mengharumkan nama daerah.

Wali Kota juga mendoakan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan diberikan kesehatan, kemudahan, serta kepercayaan diri sehingga mampu memberikan penampilan terbaik dan meraih hasil yang membanggakan pada MTQ KORPRI Tingkat Nasional Tahun 2026.

Sebagai bentuk dukungan dan perhatian KORPRI Kota Solok, dalam acara pelepasan tersebut juga diserahkan bantuan sebesar Rp3.000.000. Bantuan tersebut diharapkan dapat menjadi tambahan dukungan selama mengikuti kegiatan di Kota Makassar.

Dalam acara pelepasan tersebut, Wali Kota Solok didampingi Ketua dan Sekretaris DP KORPRI Kota Solok, Dr. Desmon dan Bitel, S.H., M.M.

Keikutsertaan Nofriyon pada MTQ KORPRI Tingkat Nasional ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang untuk mengukir prestasi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi Kota Solok serta motivasi bagi anggota KORPRI lainnya untuk terus mengembangkan potensi dan berprestasi di berbagai bidang.(Wahyu)

IKAPTK Muba-Banyuasin Rebut Juara 3, Taklukkan Palembang 2-1 di Turnamen Sepak Bola IKAPTK se-Sumatera Selatan

0
IKAPTK Muba-Banyuasin Rebut Juara 3

Palembang — Kesebelasan Muba-Banyuasin berhasil menutup perjuangannya di ajang Turnamen Sepak Bola antar Alumni Ikatan Keluarga Alumni Pendidikan Tinggi Kepamongprajaan (IKAPTK) se-Sumatera Selatan dengan raihan prestasi yang membanggakan sebagai juara ketiga.

Muba-Banyuasin memastikan medali perunggu setelah sukses menundukkan tim kuat Palembang dengan skor tipis 2-1 dalam laga perebutan tempat ketiga yang digelar di Stadion Bumi Sriwijaya, Palembang.
Bermain dengan motivasi tinggi sejak menit awal, skuad Muba-Banyuasin tampil agresif dan disiplin. Kedua tim sempat terlibat dalam duel sengit dan saling jual beli serangan. Kerja keras anak-anak asuh Muba-Banyuasin akhirnya membuahkan hasil manis dengan menceploskan dua gol ke gawang lawan, sementara Palembang hanya mampu membalas satu gol hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan 2-1 ini tidak hanya mengantarkan Muba-Banyuasin naik ke podium ketiga, tetapi juga menjadi penutup yang sangat positif bagi perjalanan kontingen sepak bola Muba-Banyuasin di ajang tersebut.
Keberhasilan ini mendapat apresiasi tinggi dari jajaran pengurus dan manajemen tim.

Ketua IKAPTK Kabupaten Musi Banyuasin, Ahmad Toyibir, menyampaikan rasa bangga atas semangat juang dan mentalitas pantang menyerah yang ditunjukkan para peserta di lapangan hijau.
“Kami dari keluarga besar IKAPTK Muba-Banyuasin sangat bangga dan mengapresiasi kerja keras para pemain beserta seluruh jajaran official. Raihan medali perunggu ini merupakan buah dari kedisiplinan, kekompakan, dan semangat juang yang tinggi untuk mengharumkan nama Kabupaten Musi Banyuasin,” ujar Ahmad Toyibir.

Senada dengan hal tersebut, Manager Pertandingan Muba-Banyuasin, Riki Junaidi, mengungkapkan rasa syukurnya. Menurutnya, keberhasilan bangkit dari kekalahan di semifinal dan menutup turnamen dengan kemenangan atas Palembang menunjukkan mental juara yang dimiliki para pemain.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas perjuangan seluruh pemain. Setelah gagal melangkah ke final, anak-anak mampu bangkit dan memberikan respons positif dengan mengalahkan Palembang 2-1. Ini menunjukkan mental dan semangat juang mereka yang luar biasa,” ujar Riki.

Ia menambahkan, meskipun medali perunggu belum menjadi target puncak yang diidamkan, pencapaian ini tetap patut disyukuri dan menjadi fondasi penting untuk pembinaan ke depan.
“Juara ketiga memang bukan target akhir yang kami inginkan, tetapi medali perunggu ini patut diapresiasi. Terima kasih kepada seluruh pemain, pelatih, official, serta seluruh masyarakat Muba-Banyuasin yang telah memberikan doa dan dukungannya,” tambahnya.

Sementara itu, Humas IKAPTK Muba-Banyuasin, Herryandi Sinulingga, AP, menegaskan bahwa di balik raihan prestasi di atas lapangan, turnamen ini memiliki arti strategis yang sangat penting sebagai sarana mempererat kebersamaan dan silaturahmi antar-pamong praja se-Sumatera Selatan.
“Lebih dari sekadar perebutan medali, Turnamen Sepak Bola antar IKAPTK se-Sumatera Selatan ini merupakan momentum yang sangat baik untuk mempererat tali silaturahmi kekeluargaan sesama purna praja. Tentu hasil di lapangan ini juga akan menjadi bahan evaluasi sekaligus motivasi besar agar pembinaan prestasi ke depan bisa jauh lebih baik lagi. Yang terpenting, para peserta telah berjuang memberikan yang terbaik dan menjunjung tinggi sportivitas demi kehormatan daerah,” pungkas Herryandi Sinulingga AP.

Edi

PGRI Ranting VI Muara Sugihan Gelar Silaturahmi Antar Guru, Perkuat Kebersamaan dan Solidaritas Pendidik

0
PGRI
Kebersamaan para guru PGRI Ranting VI Muara Sugihan saat mengikuti kegiatan Silaturahmi Antar Guru di SMK Muhammadiyah 1 Muara Sugihan, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (22/8/2026).

Muara Sugihan, Banyuasin — Semangat kebersamaan para pendidik kembali digaungkan di Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Ranting VI Muara Sugihan menggelar kegiatan Silaturahmi Antar Guru yang dipusatkan di SMK Muhammadiyah 1 Muara Sugihan, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi para guru untuk mempererat tali silaturahmi, membangun kekompakan serta memperkuat solidaritas antarpendidik di wilayah Ranting VI Muara Sugihan.

Mengusung semangat kebersamaan, kegiatan silaturahmi tidak hanya menjadi ruang untuk bertemu dan bertukar cerita, tetapi juga diisi dengan berbagai aktivitas olahraga dan permainan yang melibatkan para guru. Sejumlah kegiatan yang diagendakan antara lain bola voli, bulu tangkis, catur, futsal, takraw dan berbagai kegiatan lainnya.

Pelaksanaan kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB hingga selesai dan terbuka bagi seluruh guru yang berada di lingkungan PGRI Ranting VI Muara Sugihan.

SMK Muhammadiyah 1 Muara Sugihan dipercaya sebagai tuan rumah kegiatan. Kehadiran para guru dari berbagai satuan pendidikan di wilayah tersebut diharapkan semakin memperkuat hubungan kekeluargaan yang selama ini telah terjalin.

Ketua PGRI Ranting VI Muara Sugihan, Ridwan, S.Pd., bersama jajaran pengurus turut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam struktur kepengurusan, posisi wakil ketua diisi Mimbar Haryanto, S.Pd. dan Tri Puji Handoyo, sementara sekretaris dijabat Ambo Endrek, S.Pd. bersama Ria Sujiati, M.Pd.

Untuk posisi bendahara dipercayakan kepada Setiyani, S.Pd.SD.

Kegiatan silaturahmi ini sekaligus memperlihatkan bahwa profesi guru tidak hanya dibangun melalui aktivitas pembelajaran di ruang kelas. Kebersamaan dan komunikasi antarpendidik juga menjadi modal penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang solid.

Di tengah tuntutan dunia pendidikan yang terus berkembang, para guru dituntut tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga mampu membangun kolaborasi dan saling menguatkan. Karena itu, kegiatan seperti ini menjadi ruang yang positif untuk mempererat hubungan personal sekaligus organisasi.

Nuansa kebersamaan semakin terasa melalui berbagai pertandingan olahraga yang digelar. Bola voli, bulu tangkis, futsal, takraw hingga catur menjadi sarana untuk membangun kekompakan dengan suasana yang lebih santai dan penuh keakraban.

Bagi PGRI Ranting VI Muara Sugihan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga komunikasi dan persaudaraan antar-guru.

Terlebih, guru memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas generasi masa depan. Dengan hubungan yang semakin erat antarpendidik, diharapkan lahir semangat kolaborasi yang kemudian dapat memberikan dampak positif terhadap dunia pendidikan di Kecamatan Muara Sugihan.

Silaturahmi tersebut pun menjadi pesan bahwa di balik kesibukan para guru mendidik dan membimbing generasi penerus, terdapat semangat kebersamaan yang harus terus dirawat.

Suprene

Kadinsos Agam Tegaskan KSB Bukan Seremonial, Bupati Dorong Masyarakat Tangguh Hadapi Bencana

0
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam Villa Erdi

Agam — Pemerintah Kabupaten Agam kembali menegaskan komitmennya membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Di tengah karakter wilayah yang memiliki potensi banjir, longsor, angin puting beliung, erupsi hingga tsunami, Pemkab Agam tidak ingin kesiapsiagaan baru dibangun ketika bencana sudah terjadi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Tanjung Raya di SD 02 Bayur, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Sabtu (22/8/2026). Pengukuhan dilakukan oleh Bupati Agam melalui Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, S.Sos., M.Si., sekaligus dirangkai dengan simulasi uji Standar Operasional Prosedur (SOP) KSB.

Langkah tersebut memperlihatkan arah kebijakan Bupati Agam yang menempatkan kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan daerah. Pemerintah tidak hanya dituntut hadir ketika bencana terjadi, tetapi harus mampu membangun sistem perlindungan dan kesiapan masyarakat sejak jauh hari.

Melalui Dinas Sosial Kabupaten Agam, penguatan tersebut diterjemahkan dalam pembentukan KSB yang diharapkan menjadi wadah masyarakat untuk belajar, berkoordinasi dan bergerak cepat ketika menghadapi kondisi darurat.

Villa Erdi menegaskan, KSB bukan sekadar nama dan struktur organisasi.

“Kita tahu wilayah Sumatera, termasuk Kabupaten Agam memiliki karakteristik geografis yang rawan bencana: banjir, longsor, erupsi, angin puting beliung dan tsunami. Bencana bisa datang kapan saja. Karena itu kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat paling bawah, yaitu jorong atau nagari,” ujarnya.

Menurut Villa, pembentukan KSB difasilitasi Direktorat Perlindungan Sosial Kementerian Sosial RI dengan tujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta memperluas jangkauan wilayah siaga bencana di Kabupaten Agam.

Ia menilai, masyarakat merupakan unsur pertama yang berada di lokasi ketika bencana terjadi. Karena itu, kemampuan masyarakat untuk menyelamatkan diri, memberikan pertolongan awal dan melakukan koordinasi menjadi sangat menentukan.

“KSB dibentuk agar masyarakat di daerah rawan bencana bisa mandiri, cepat bertindak,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, KSB diarahkan untuk memperkuat tiga hal utama, yakni pencegahan, kemandirian dan gotong royong. Pencegahan dilakukan dengan mengenali risiko dan mengurangi potensi korban serta kerusakan. Kemandirian dibangun agar warga mampu melakukan pertolongan sebelum bantuan datang, sedangkan gotong royong menjadi kekuatan sosial dalam menghadapi keadaan darurat.

Villa menegaskan bahwa pengukuhan tersebut tidak boleh berhenti sebagai seremoni.

“Pembentukan KSB ini bukan seremonial. Ini langkah nyata membangun kewaspadaan dan melatih diri menghadapi darurat berbasis masyarakat. Ketangguhan wilayah ditentukan dari kepedulian kita bersama,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan pengurus KSB yang baru dikukuhkan agar menjadikan tugas tersebut sebagai misi kemanusiaan.

“Tugas yang diemban adalah misi kemanusiaan. Mari teruskan semangat ‘Siap untuk Selamat’, aktif mengedukasi warga dan jadi garda terdepan saat darurat,” pesannya.

Penguatan yang dilakukan Pemkab Agam tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Sosial RI. Dalam kegiatan itu, Kemensos menyalurkan bantuan senilai Rp154.772.500 untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Kecamatan Tanjung Raya.

Bantuan tersebut memperkuat pesan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun secara menyeluruh. Pengetahuan masyarakat perlu diperkuat, sementara sarana dan logistik juga harus dipersiapkan agar respons terhadap bencana dapat dilakukan secara lebih cepat dan terarah.

Sebanyak 60 peserta mengikuti pelatihan teknis dan simulasi uji SOP KSB. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguji kesiapan masyarakat sekaligus memperkuat koordinasi antara pemerintah, pilar-pilar sosial dan unsur masyarakat.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Agam, Azmar, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

“Melalui kegiatan ini diharapkan pengetahuan masyarakat terkait penanggulangan bencana di nagari semakin meningkat, sekaligus mampu mengurangi risiko bencana secara kreatif, inovatif dan terencana,” ujarnya.

Perwakilan Kemensos RI, Giantoro, Analis Kebencanaan, juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Agam dan Nagari Bayua yang telah memberikan ruang kerja sama dalam pelaksanaan KSB.

“Terima kasih telah memberikan wadah dan kesempatan kepada kami untuk bekerja sama dengan Nagari Bayua dalam pelaksanaan Kampung Siaga Bencana. Harapannya, masyarakat ke depan semakin siap dan tanggap dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Iskandar, menyampaikan bahwa pembentukan KSB Tanjung Raya merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat.

Dengan dikukuhkannya KSB Tanjung Raya, jumlah KSB di Sumatera Barat kini mencapai 39 KSB.

Bagi Pemerintah Kabupaten Agam, bertambahnya satu KSB bukan hanya persoalan angka. Kehadirannya menjadi tambahan kekuatan sosial untuk menghadapi potensi bencana sekaligus memperluas jaringan kesiapsiagaan hingga ke tingkat masyarakat.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Kemensos RI, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, jajaran Dinas Sosial Kabupaten Agam, Forkopimca Tanjung Raya, ninik mamak, cadiak pandai, alim ulama, PKK, pilar-pilar sosial, pengurus KSB serta masyarakat.

Di bawah kepemimpinan Bupati Agam, penguatan kesiapsiagaan melalui KSB menjadi bagian dari upaya membangun pemerintahan yang hadir sebelum bencana terjadi, bukan sekadar bergerak setelah musibah datang.

Sebab bagi masyarakat di daerah rawan bencana, kehadiran pemerintah bukan hanya diukur dari seberapa cepat bantuan datang setelah kejadian, tetapi juga dari seberapa kuat pemerintah mempersiapkan masyarakat agar mampu menghadapi ancaman sejak awal.

Pengukuhan KSB Tanjung Raya pun menjadi pesan penting dari Pemkab Agam: membangun daerah yang tangguh bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia yang siap menyelamatkan dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya.

Dengan semangat “Siap untuk Selamat”, Bupati Agam melalui Dinas Sosial Kabupaten Agam mendorong KSB Tanjung Raya menjadi garda terdepan dalam membangun budaya kesiapsiagaan di tengah masyarakat.

Daji

KSB Tanjung Raya Dikukuhkan, Iskandar Dorong Masyarakat Jadi Garda Terdepan Hadapi Bencana

0
Iskandar Kabid Linjamsos Propinsi Sumbar

 

Agam — Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh baru dibangun ketika musibah telah datang. Kesadaran, kemampuan dan kesiapan masyarakat harus dipersiapkan jauh sebelumnya. Pesan kuat itu disampaikan Iskandar, perwakilan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, saat menghadiri Pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Tanjung Raya di Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sabtu (22/8/2026).

Bagi Iskandar, pengukuhan KSB bukan sekadar agenda seremonial. Kehadirannya harus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk membangun masyarakat yang mampu mengenali risiko, melakukan penyelamatan awal, mempersiapkan kebutuhan dasar dan bergerak secara terkoordinasi ketika bencana terjadi.

Ia menegaskan, pembentukan KSB Tanjung Raya merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki potensi ancaman bencana cukup tinggi.

“Pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) di Tanjung Raya Kabupaten Agam ini adalah bukti nyata kehadiran pemerintah terhadap warga Sumatera Barat, khususnya masyarakat di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam,” ujar Iskandar.

Menurutnya, Sumatera Barat memiliki karakteristik wilayah yang membuat masyarakat harus selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Karena itu, penanggulangan bencana tidak dapat hanya dilakukan setelah kejadian, melainkan harus dimulai sejak masa kesiapsiagaan.

Masyarakat, kata Iskandar, perlu mendapatkan bekal pengetahuan sekaligus persiapan logistik. Keduanya menjadi unsur penting agar ketika bencana terjadi, warga tidak berada dalam posisi sepenuhnya menunggu bantuan dari pemerintah.

“Kesiapsiagaan bencana adalah upaya yang harus ditempuh dalam menyikapi potensi kejadian bencana, baik dalam hal peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi dan menyikapi potensi bencana, maupun dalam hal mempersiapkan kebutuhan logistik,” katanya.

Iskandar juga mengingatkan bahwa penanggulangan bencana harus dilaksanakan secara partisipatif. Artinya, masyarakat tidak hanya menjadi objek penerima bantuan, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana.

Mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan sosial pascabencana, masyarakat harus memiliki peran. Semakin kuat kapasitas masyarakat, semakin besar pula peluang untuk menekan dampak yang ditimbulkan ketika bencana terjadi.

Dalam konteks itulah KSB Tanjung Raya menjadi penting. KSB diharapkan menjadi wadah masyarakat untuk membangun pengetahuan, keterampilan, kepedulian serta koordinasi menghadapi berbagai potensi ancaman.

Iskandar menyebut, saat ini Sumatera Barat telah memiliki 38 Kampung Siaga Bencana. Dengan dikukuhkannya KSB Tanjung Raya, jumlah tersebut bertambah menjadi 39 KSB.

Bertambahnya KSB bukan semata persoalan angka, tetapi memperluas jaringan kesiapsiagaan masyarakat di berbagai wilayah Sumatera Barat.

“Sejauh ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat senantiasa menjaga komunikasi dan koordinasi dengan Kementerian Sosial serta Dinas Sosial di Kabupaten/Kota dalam hal penanggulangan bencana,” ujarnya.

Menurut Iskandar, koordinasi lintas instansi tersebut menjadi kekuatan penting ketika terjadi bencana yang menimbulkan kerugian dan penderitaan bagi masyarakat. Dukungan Tagana dan pilar-pilar sosial lainnya juga dinilai memiliki peran besar dalam mempercepat respons di lapangan.

“Koordinasi dan komunikasi yang senantiasa terjalin antarinstansi dan lembaga ini, ditambah dukungan yang sangat berarti dari anggota Tagana serta pilar-pilar sosial lainnya, membuat Sumatera Barat semakin siap siaga dalam menghadapi segala potensi kebencanaan dan semakin tangguh dalam penanggulangan bencana,” katanya.

Di tengah upaya memperkuat kesiapsiagaan tersebut, Iskandar juga mengajak masyarakat untuk tidak memisahkan ikhtiar kebencanaan dengan nilai-nilai keagamaan.

Ia mengutip Surah Al-Hadid ayat 22 yang menjelaskan bahwa setiap musibah yang terjadi telah berada dalam ketetapan Allah SWT. Namun, menurutnya, keyakinan tersebut tidak berarti manusia boleh pasif dan menyerahkan seluruhnya tanpa persiapan.

Sebaliknya, manusia tetap dituntut melakukan ikhtiar dengan meningkatkan pengetahuan, membangun kesiapan dan mempersiapkan segala kemungkinan.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat Tanjung Raya. Dengan potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu, kesiapsiagaan harus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar kegiatan yang dilakukan sesekali.

Dalam kegiatan yang melibatkan sekitar 60 peserta itu, pengukuhan KSB juga dirangkai dengan simulasi uji Standar Operasional Prosedur (SOP). Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Kementerian Sosial RI, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Dinas Sosial Kabupaten Agam, pemerintah kecamatan dan nagari, pilar-pilar sosial serta masyarakat.

Kementerian Sosial RI turut memberikan dukungan berupa bantuan senilai Rp154.772.500 untuk kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Kecamatan Tanjung Raya.

Bagi Iskandar, seluruh dukungan tersebut harus bermuara pada satu tujuan: masyarakat yang lebih siap, lebih tanggap dan lebih kuat ketika menghadapi bencana.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Sosial RI yang telah memberikan kesempatan pembentukan KSB di Sumatera Barat, serta kepada Pemerintah Kabupaten Agam dan Nagari Bayua yang telah membuka ruang kolaborasi.

“Kita berharap KSB ini dapat menjadikan masyarakat lebih arif dan solid dalam menghadapi berbagai potensi kebencanaan yang ada,” ujarnya.

Pesan Iskandar pada akhirnya menjadi benang merah dari pengukuhan KSB Tanjung Raya: bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat ditekan dengan kesiapsiagaan.

Daji

Solar Disita, Rp40 Juta Mencuat, DPO Disebut Bebas: Nelayan Bagan Serdang Pertanyakan Permainan Solar

0
Barang bukti kendaraan box dan sejumlah jeriken yang diamankan Ditpolairud Polda Sumut dalam penindakan dugaan pengangkutan solar di kawasan Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang.

DELI SERDANG – Penindakan dugaan aktivitas migas di Dusun III, Desa Bagan Serdang, Kecamatan Pantai Labu, pada 14 Mei 2026, justru membuka persoalan baru. Ditpolairud Polda Sumut mengamankan satu unit Mitsubishi Colt Diesel Box BK 8687 VB yang disebut membawa solar dalam dua tangki plastik dan 22 jerigen. Sebanyak 49 jerigen kosong turut diamankan sebagai barang bukti.

Namun, setelah penindakan tersebut muncul informasi mengenai dugaan permintaan Rp40 juta per orang terhadap dua orang yang disebut diamankan. Kendaraan yang disita juga disebut memiliki biaya tersendiri.

Informasi ini semakin mengundang perhatian setelah Abdurrahim alias Aem, yang disebut masih berstatus DPO, dikabarkan mengakui kepada Kepala Dusun bahwa persoalan tersebut “sudah selesai” setelah adanya jaminan Rp40 juta per orang.

Pengakuan itu disebut disampaikan ketika Kepala Dusun mempertanyakan keberadaan Aem dan beberapa orang lainnya di desa, mengingat nama Aem disebut masuk daftar pencarian orang.

Jika keterangan tersebut benar, sejumlah pertanyaan pun layak diajukan: Rp40 juta itu jaminan untuk perkara apa? Siapa yang menentukan nominalnya? Kepada siapa uang diserahkan? Dan apakah seluruhnya tercatat dalam mekanisme resmi penanganan perkara?

Persoalan tersebut juga disebut berdampak kepada sebagian nelayan. Informasi yang diterima menyebut sejumlah nelayan diduga kerap dipersulit ketika hendak mendapatkan solar untuk kebutuhan melaut.

Bagi nelayan, solar merupakan kebutuhan utama untuk mencari nafkah. Karena itu, jika benar ada pihak yang mempersulit akses solar, persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele.

Aparat penegak hukum diharapkan tidak berhenti pada penyitaan kendaraan, tangki dan jerigen. Jika dugaan aktivitas ilegal benar terjadi, maka mata rantai di belakangnya juga perlu ditelusuri mulai dari pemasok, pengatur distribusi hingga pihak yang diduga menikmati keuntungan.

Nama Abdurrahim alias Aem kembali menjadi sorotan karena disebut masih berstatus DPO, namun dapat berada di desa dan bahkan diduga kembali menjalankan aktivitas berkaitan dengan minyak.

Pertanyaannya sederhana namun serius: jika status DPO masih aktif, mengapa yang bersangkutan belum diamankan? Jika sudah dicabut, kapan dan atas dasar apa?

Konfirmasi telah disampaikan kepada IPTU Eljon Sitinjak melalui WhatsApp terkait dugaan uang Rp40 juta per orang, biaya kendaraan, status DPO Aem, dugaan aktivitas minyak yang kembali berjalan serta keresahan nelayan. Hingga berita ini disusun, belum ada jawaban.

Tidak menjawab tentu bukan bukti adanya pelanggaran. Namun ketika dugaan uang Rp40 juta, kendaraan sitaan, status DPO dan kesulitan nelayan mendapatkan solar muncul dalam satu rangkaian informasi, penjelasan resmi sangat dibutuhkan.

Hal tersebut membuat warga juga geram selaku pejabat publik dan aparatur negara seharusnya memberikan keadilan yang merata bukan sepihak saja seperti yang di alami driver box yang di berikan hukuman 10 bulan penjara.

“seorang polairud saja di konfirmasi bisa gak membalas ya bang setelah menerima 40 juta perorang,miris kali kami lihat nya ,kami kelaut di susah kan dengan bahan bakar giliran di tangkap di minta 40 juta manusia nya itu bang,” ungkap warga.

Warga juga menegaskan perkara ini bukan hanya soal solar dan kendaraan yang disita, tetapi juga menyangkut dugaan uang puluhan juta rupiah, status DPO serta keresahan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut,”Tutup warga.
(AN)

Pimpin Sertijab PJU Polresta Barelang, Kombes Anggoro Minta Kasat Reskrim Baru Tekankan Integritas

0

Batam, investigasi.news – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Barelang resmi melakukan penyegaran struktur kepemimpinan guna memperkuat kinerja penegakan hukum dan mengoptimalkan pelayanan publik di wilayah Kepulauan Riau. Kapolresta Barelang, Kombes Pol

Anggoro Wicaksono, memimpin langsung Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) pejabat utama dan jajaran Kapolsek di Rupatama Wicaksana Laghawa Lantai II Polresta Barelang, Sabtu (22/8/2026) pagi.
Rotasi strategis ini mengacu pada Surat Telegram Kapolda Kepri Nomor: ST/173/VIII/KEP./2026 tertanggal 11 Agustus 2026.

Salah satu sorotan utama dalam sertijab kali ini adalah pergantian kepemimpinan di Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim). Kompol Agung Tri Poerbowo kini resmi menjabat sebagai Kasat Reskrim Polresta Barelang menggantikan Kompol M. Debby Tri Andrestian.

Kehadiran Kompol Agung Tri Poerbowo di pucuk pimpinan Satreskrim membawa harapan besar bagi penegakan hukum yang responsif, transparan, dan berkeadilan di Kota Batam. Pengalaman dan rekam jejak kepemimpinannya dinilai menjadi modal kuat untuk menuntaskan berbagai tantangan penanganan tindak pidana di wilayah hukum Polresta Barelang.

Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut diwarnai dengan pengangkatan sumpah jabatan, penandatanganan berita acara, hingga pengucapan pakta integritas oleh seluruh pejabat baru.

Dalam amanatnya, Kombes Pol Anggoro Wicaksono menegaskan bahwa mutasi jabatan merupakan dinamika wajar dalam tubuh Polri demi pembinaan karier serta penyegaran organisasi.

Serah terima jabatan adalah bagian dari proses pembinaan organisasi untuk meningkatkan kinerja Polri. Saya mengucapkan terima kasih kepada pejabat lama atas dedikasi dan pengabdiannya, serta selamat bertugas kepada pejabat baru. Laksanakan amanah ini dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan loyalitas,” tegas Kombes Pol Anggoro.

Daftar Rotasi Pejabat Utama dan Kapolsek Polresta Barelang:

Kasat Reskrim: Kompol M. Debby Tri Andrestian \bm{\rightarrow} Kompol Agung Tri Poerbowo
Kasat Polairud: Kompol I Kade Dwi Suryawandika \bm{\rightarrow} AKP Asril

Kapolsek Lubuk Baja: Kompol Deni Langie \bm{\rightarrow} AKP Cindo Kottama
Kapolsek Nongsa: Kompol Eriman \bm{\rightarrow} AKP Eko Chandra
Kapolsek Belakang Padang: AKP Asril \bm{\rightarrow} AKP Rio Ardian

Kapolsek Sei Beduk: Iptu Alex Yasral \bm{\rightarrow} Iptu Ady Satrio Gustian
Upacara yang turut dihadiri oleh Wakapolresta Barelang AKBP Fadli Agus beserta jajaran Pejabat Utama (PJU) ini berjalan tertib dan lancar. Dengan nahkoda baru di jajaran Satreskrim dan kepolisian sektor, Polresta Barelang siap melangkah lebih solid dalam mewujudkan Polri yang Presisi bagi masyarakat Batam

Fransisco chrons

Pemkab Agam Bangun Benteng Dari Nagari: KSB Tanjung Raya Dikukuhkan, Warga Dipersiapkan Hadapi Bencana

0
Penyerahan bantuan Kemensos RI senilai Rp154,7 juta untuk mendukung kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Agam — Bencana tidak pernah mengirimkan undangan. Ia bisa datang ketika masyarakat sedang beraktivitas, ketika malam menutup pandangan, bahkan ketika pemerintah belum sempat mengirimkan peringatan. Karena itu, kesiapsiagaan bukan sekadar program, melainkan kebutuhan yang harus dibangun sebelum keadaan darurat terjadi.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Tanjung Raya Kabupaten Agam Tahun 2026 di SD 02 Bayur, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Sabtu (22/8/2026). Pengukuhan tersebut sekaligus dirangkai dengan Simulasi Uji Standar Operasional Prosedur (SOP) KSB, sebagai langkah konkret memastikan masyarakat tidak hanya memahami ancaman bencana, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.

Foto bersama pada rangkaian acara Pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) Tanjung Raya Kabupaten Agam Tahun 2026 di SD 02 Bayur, Nagari Bayua, Kecamatan Tanjung Raya, Sabtu (22/8/2026).

Pengukuhan KSB dilakukan oleh Bupati Agam melalui Kepala Dinas Sosial Kabupaten Agam, Villa Erdi, S.Sos., M.Si. Pembentukan KSB tersebut difasilitasi Direktorat Perlindungan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memperluas wilayah siaga bencana di Kabupaten Agam.

Bagi Pemkab Agam, langkah ini memiliki arti strategis. Kabupaten Agam dengan karakter geografisnya memiliki potensi menghadapi berbagai ancaman bencana, mulai dari banjir, longsor, angin puting beliung, erupsi hingga ancaman tsunami. Dalam kondisi demikian, penanggulangan bencana tidak mungkin hanya bertumpu pada pemerintah. Masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian justru menjadi pihak pertama yang harus mampu menyelamatkan diri dan membantu lingkungan sekitarnya.

“Kita tahu wilayah Sumatera, termasuk Kabupaten Agam memiliki karakteristik geografis yang rawan bencana: banjir, longsor, erupsi, angin puting beliung dan tsunami. Bencana bisa datang kapan saja. Karena itu kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat paling bawah, yaitu jorong atau nagari,” ujar Villa Erdi.

Menurutnya, KSB dibentuk untuk mendorong masyarakat di kawasan rawan bencana agar memiliki kemampuan untuk mandiri, cepat bertindak dan memahami langkah-langkah penyelamatan ketika bencana terjadi.

Ada tiga nilai utama yang harus menjadi kekuatan KSB, yakni pencegahan, kemandirian dan gotong royong. Pencegahan diarahkan untuk menekan risiko korban jiwa dan kerusakan harta benda sejak dini. Kemandirian berarti masyarakat mampu menolong diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya sebelum bantuan datang. Sedangkan gotong royong menjadi kekuatan sosial untuk memastikan tidak ada warga yang menghadapi bencana seorang diri.

Villa Erdi menegaskan, keberadaan KSB tidak boleh berhenti pada pengukuhan pengurus maupun kegiatan seremonial.

“Pembentukan KSB ini bukan seremonial. Ini langkah nyata membangun kewaspadaan dan melatih diri menghadapi darurat berbasis masyarakat. Ketangguhan wilayah ditentukan dari kepedulian kita bersama,” tegasnya.

Ia juga berpesan kepada pengurus KSB yang baru dikukuhkan agar menjalankan amanah tersebut sebagai misi kemanusiaan.

Iskandar Kabid Linjamsos Propinsi Sumbar.

“Tugas yang diemban adalah misi kemanusiaan. Mari teruskan semangat ‘Siap untuk Selamat’, aktif mengedukasi warga dan jadi garda terdepan saat darurat,” katanya.

Penguatan kesiapsiagaan tersebut mendapat dukungan langsung dari Kementerian Sosial RI. Dalam kegiatan itu, Kemensos menyalurkan bantuan senilai Rp154.772.500 untuk mendukung kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di Kecamatan Tanjung Raya.

Bantuan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kesiapan masyarakat. Sebab, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan pengetahuan dan pelatihan, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana serta logistik yang memadai.

Sebanyak 60 peserta mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk pelatihan teknis dan simulasi untuk menguji SOP KSB. Simulasi menjadi bagian penting untuk melihat sejauh mana masyarakat dan unsur terkait mampu menerjemahkan pengetahuan kebencanaan menjadi tindakan konkret ketika menghadapi situasi darurat.

Azmar Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Agam

Dalam kondisi bencana, kepanikan sering kali menjadi persoalan kedua setelah ancaman itu sendiri. Masyarakat yang memahami prosedur, mengetahui jalur koordinasi dan mampu bergerak sesuai peran akan jauh lebih siap dibanding masyarakat yang baru belajar ketika bencana sudah terjadi.

Perwakilan Kemensos RI, Giantoro, Analis Kebencanaan, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Agam dan Nagari Bayua yang telah memberikan ruang kerja sama dalam pembentukan KSB.

“Terima kasih telah memberikan wadah dan kesempatan kepada kami untuk bekerja sama dengan Nagari Bayua dalam pelaksanaan Kampung Siaga Bencana. Harapannya, masyarakat ke depan semakin siap dan tanggap dalam menghadapi bencana,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Sosial Kabupaten Agam, Azmar, selaku panitia, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

Camat Tanjung Raya

“Melalui kegiatan ini diharapkan pengetahuan masyarakat terkait penanggulangan bencana di nagari semakin meningkat, sekaligus mampu mengurangi risiko bencana secara kreatif, inovatif dan terencana,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, Iskandar, menyampaikan bahwa pembentukan KSB Tanjung Raya merupakan bukti nyata kehadiran pemerintah dalam memperkuat perlindungan masyarakat.

Ia mengatakan Sumatera Barat merupakan daerah dengan potensi kejadian bencana yang cukup tinggi. Karena itu, penanggulangan bencana harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak masa kesiapsiagaan hingga pemulihan sosial pascabencana.

Menurut Iskandar, masyarakat perlu memiliki pengetahuan sekaligus persiapan logistik agar mampu menghadapi kemungkinan bencana.

“Pembentukan Kampung Siaga Bencana di Tanjung Raya Kabupaten Agam ini adalah bukti nyata kehadiran pemerintah terhadap warga Sumatera Barat, khususnya masyarakat di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam,” ujarnya.

Iskandar juga menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah provinsi, Kementerian Sosial dan Dinas Sosial kabupaten/kota. Koordinasi tersebut, ditambah dukungan Tagana serta pilar-pilar sosial, dinilai menjadi kekuatan penting dalam membangun Sumatera Barat yang semakin siap menghadapi berbagai potensi kebencanaan.

Dengan dikukuhkannya KSB Tanjung Raya, jumlah Kampung Siaga Bencana di Sumatera Barat kini mencapai 39 KSB.

Angka tersebut bukan sekadar jumlah administratif. Setiap KSB diharapkan menjadi simpul kekuatan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana di wilayah masing-masing. Dari sinilah kesiapsiagaan dibangun—bukan hanya dari kantor pemerintahan, tetapi dari masyarakat yang memahami lingkungan, mengenali ancaman dan mengetahui cara menyelamatkan diri serta orang lain.

Dalam sambutannya, Iskandar juga mengajak masyarakat untuk melihat kesiapsiagaan bencana dari perspektif keagamaan. Ia mengutip Surah Al-Hadid ayat 22 yang menjelaskan bahwa setiap musibah yang terjadi telah berada dalam ketetapan Allah SWT.

Namun, keyakinan tersebut tidak boleh menjadi alasan bagi manusia untuk berpangku tangan. Justru ikhtiar, pengetahuan dan kesiapan merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menghadapi setiap kemungkinan.

“Kesiapsiagaan bencana adalah upaya yang harus ditempuh dalam menyikapi potensi kejadian bencana, baik dalam peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat maupun dalam mempersiapkan kebutuhan logistik,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Kemensos RI, Dinas Sosial Provinsi Sumatera Barat, jajaran Dinas Sosial Kabupaten Agam, Forkopimca Tanjung Raya, ninik mamak, cadiak pandai, alim ulama, PKK, pilar-pilar sosial, Camat Tanjung Raya, Walinagari Sekecamatan Tanjung Raya, Bamus se Tanjung Raya, pengurus KSB serta masyarakat.

Bagi Pemerintah Kabupaten Agam, pengukuhan KSB Tanjung Raya bukan sekadar penambahan satu organisasi kebencanaan. Lebih jauh, ini merupakan investasi kemanusiaan untuk membangun masyarakat yang mampu menghadapi ancaman dengan pengetahuan, keberanian dan solidaritas.

Pemkab Agam menunjukkan bahwa pemerintahan yang hadir dalam urusan kebencanaan bukan hanya pemerintah yang bergerak ketika bencana telah terjadi, tetapi pemerintah yang membangun kesiapan jauh sebelum ancaman datang.

Pada akhirnya, keberhasilan KSB Tanjung Raya tidak akan diukur dari meriahnya acara pengukuhan. Ukurannya akan terlihat ketika suatu saat ancaman datang: seberapa cepat masyarakat mengenali risiko, seberapa tepat mereka bertindak, seberapa kuat mereka saling membantu dan seberapa solid koordinasi pemerintah dengan seluruh unsur di lapangan.

Dengan semangat “Siap untuk Selamat”, Pemkab Agam bersama Kemensos RI, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, pemerintah nagari, pilar-pilar sosial dan masyarakat Tanjung Raya tengah membangun satu benteng penting: ketangguhan yang dimulai dari masyarakat sendiri.

Adv/Daji

Dukung Pembinaan Usia Dini dan Sport Tourism, Pemko Dorong Payakumbuh Jadi Tuan Rumah Iven Olahraga Nasional

0
Wakil Wali Kota Elzadaswarman saat membuka secara resmi Festival Archery Merdeka 2026. ( Foto: Kominfo Payakumbuh)

Payakumbuh – Pemerintah Kota Payakumbuh terus mendukung pengembangan olahraga berbasis pembinaan generasi muda sekaligus memajukan sektor sport tourism daerah.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui Wakil Wali Kota Elzadaswarman saat membuka secara resmi Festival Archery Merdeka 2026 di Lapangan Kampus Universitas Andalas (Unand) Payakumbuh, Sabtu (22/8/2026) pagi.

Ajang panahan yang berlangsung sehari itu diikuti sebanyak 420 atlet dari berbagai kawasan di Provinsi Sumatera Barat serta daerah tetangga seperti Riau (Dumai), Jambi, hingga Aceh.

Kejuaraan ini juga menarik kehadiran sekitar 1.000 orang peserta beserta tim ofisial dan pendamping keluarga.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Elzadaswarman menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak penyelenggara atas terselenggaranya kegiatan positif tersebut.

Menurutnya, kejuaraan panahan bukan sekadar ajang adu bakat, melainkan investasi jangka panjang dalam membentuk karakter generasi muda yang disiplin dan berdaya juang.

“Pemerintah Kota Payakumbuh menyambut baik dan mendukung penuh perhelatan ini. Selain menjadi wadah pembinaan talenta muda sejak usia dini, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari upaya kita menjadikan Payakumbuh sebagai kota tujuan penyelenggaraan berbagai iven olahraga berskala nasional,” ujar Elzadaswarman.

Ia menambahkan, masuknya ratusan peserta dan pengunjung dari luar daerah memberikan dampak ekonomi positif (multiplier effect) secara langsung bagi Kota Payakumbuh, khususnya pada sektor jasa akomodasi, kuliner, dan UMKM lokal.

Sebagai bentuk kesiapan daerah, Pemko Payakumbuh menyatakan terbuka untuk memfasilitasi dan menjadi tuan rumah ajang panahan tingkat nasional selanjutnya, seperti Battle of Turtles (BOT) yang digagas Perkumpulan Panahan Berkuda Indonesia (KPBI).
Festival Archery Merdeka 2026 terselenggara berkat kolaborasi lintas lembaga antara Fakultas Peternakan Unand Payakumbuh, Unit Keolahragaan (UKO), Nusaibah Sunnah Sport Academy (NUSA), dan KPBI.

Kompetisi memperebutkan gelar di 25 target/bantalan panahan dengan jarak tembak mulai dari 5 meter untuk kategori anak-anak (peserta termuda berusia 4 tahun) hingga 50 meter untuk kategori dewasa.

Perwakilan Panitia dari Klub NUSA, Umi Atikah, menyampaikan bahwa kegiatan ini memang dirancang untuk mengenalkan olahraga sunnah dan terukur sejak dini agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang fokus dan tangguh menghadapi tantangan.

Pemko Payakumbuh berharap kolaborasi antara komunitas olahraga, akademisi, dan pemerintah daerah ini terus berlanjut secara konsisten demi melahirkan atlet-atlet berprestasi yang membawa nama harum daerah di tingkat nasional maupun internasional. (Oyon)

Semarakan HUT RI ke 81, dan Meriahkan HUT ke 25 Partai Demokrat Gelar Pesta Rakyat Bersama Warga Enam Suku Kota Solok

0
Partai Demokrat Gelar Pesta Rakyat Bersama Warga Enam Suku Kota Solok. ( Foto: Wahyu)

SOLOK — Suasana penuh kekeluargaan dan semangat nasionalisme tampak jelas di kawasan Enam Suku, Kota Solok. Sekalian Mendengar Aspirasi Rakyat, dalam rangka HUT Partai Demokrat ke 25 yang juga memperingati Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, jajaran Fraksi Partai Demokrat Deni Nofri ( Pudung), bersama tokoh masyarakat setempat menginisiasi acara Pesta Rakyat yang gelar di RT 01 dan 03 Kelurahan Enam Suku Kota,Solok.

Kegiatan ini dimeriahkan oleh berbagai perlombaan tradisional khas tujuh belasan, seperti Lomba Layang layang dan berbagai lomba tujuh belasan yang diikuti antusias oleh anak-anak, pemuda, hingga kaum ibu. Hadir dalam acara tersebut perwakilan anggota DPRD Kota Solok dari Fraksi Demokrat Deni Nofri yang turut berbaur dan menyerahkan langsung hadiah kepada para pemenang lomba.

Dalam hal.ini Deni Nofri selaku Perwakilan Fraksi Demokrat menyatakan bahwa Pesta Rakyat ini bukan sekadar ajang hiburan untuk merayakan hari kemerdekaan, tetapi juga sarana penting guna merawat silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat Enam Suku. “Kemerdekaan ini milik kita bersama. Kehadiran kami di sini adalah bentuk komitmen untuk terus mendampingi dan merasakan langsung kegembiraan bersama masyarakat, dan kami juga menampung Aspirasi Masyarakat yang disampaikan , apapun itu aspirasinya, akan kami sampai pada pemerintah untuk.segera menyikapi Aspirasi Masyarakat ujar Deni Nofri di sela-sela acara.

Seperti Salah seorang Warga Enam Suku Mak Dong Dt Madaro Sati menyempatkan diri untuk menyampai Aspirasinya terkait tentang keadaan Pasar Raya Solok yang semakin lama semakin Sembraut saja, Sempit dan tidak teratur, ia kuatir jika nanti ada musibah kebakaran, jika seperti ini keadaan pasar Mobil kebakaran akan susah masuk , untuk.berjalan saja susah apalagi mobil kebakaran yang masuk, untuk itu saya berharap pada pak Dewan agar bisa menyampaikan pesan kami untuk segera merapikan kembali kondisi pasar raya solok ini. Terangnya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan hadiah dan makan bersama secara sederhana yang mencerminkan kearifan lokal serta mempererat keakraban antara warga dan wakil rakyat di Kota Solok.( Wahyu)