Catatan Jelang Bupati Cup II: Mengingat Kejayaan Sepak Bola Sula

Berikut adalah catatan dari Zainuddin M. Arie yang disadur ulang oleh tim redaksi investigasi, tulisan ini untuk mengingat kembali tim kesebelasan sepak bola Kepulauan Sula dan kejayaannya, untuk menyambut turnamen Bupati Cup II yang beberapa hari lagi akan segera digelar, Sanana 10 Januari 2024.

Untuk masyarakat bola di Sula, apa anda masih Ingat back Sekom? sekali sepak dari depan gawang sendiri bisa sampai ke depan gawang lawan.

Pada masa itu siapa paling kencang atau keras menyepak bola, lalu bola melayang dan jatuh paling jauh maka dia “dinobatkan” sebagai pemain paling keren.
Kadang juga terjadi permainan “mana pel yail” (bahasa Sula) siapa paling kuat dan bisa bertahan dialah yang hebat.

Kemudian masa berganti, kehebatan fisik mulai bergeser pada kemampuan/keterampilan mengolah si kulit bundar secara personal dan keunggulan strategi oleh tim.

Lapangan di Kampis Fagudu-Sanana dianggap seperti stadion yang paling bagus, siapa yang bisa merumput disitu sekan menjadi pesepak bola yang paling hebat.

Stadion Foaok (bahasa Sula), padahal ia membujur timur barat, idealnya memanjang utara selatan.
Saat PORDA Maluku Utara kecamatan Sananapun hadir pada laga bergengsi saat itu.

Saya kenal Om Huwae dan Om Darwis sebagai penjaga gawang, bahkan Baba Nen dan Om Dola pun saya kenal baik.

Di Ternate kontingen Sanana ditempatkan di rumah Adam Joisangadji, rumah Abu Drakel (Kota baru) dan rumah Om Halek Drakel (orang tua dari dr. Amin Drakel).

Kesebelasan Sanana cukup disegani, di samping Ternate Tidore dan Tobelo. Saat itu Sula masih tiga kecamatan, tapi cukup solid sehingga mampu mengirim kesebelasannya yang cukup oke, padahal saat itu finansial Sula rata-rata berasal dari kopra ditambah hasil lain.

Pada era tahun 70-80an, Yana Sua masih terhormat di lapangan hijau, bahkan setara dengan Persis Soasiu (Tidore) dan atau Persitob (Tobelo) juga tim dari Bacan.

Anak-anak muda dengan tekad kuat masih sempat meramaikan lapangan sepak bola Salero (Depan Kedaton Kesultanan Ternate), orang-orang Sula datang menonton dan memberi support secara sukarela.

Saya ingat beberapa di antaranya rela merogoh kocek pribadinya membantu tim Sula, suatu pemandangan “Sua Dad Hia” saat itu demikian terasa, membersitkan semangat dan kebanggan, sebagai Sanohi Bia Fai (Sua).

Dalam perjalanan waktu, tak terlalu banyak wakil Sula mampu dikirim atau ditampilkan ke arena selevel provinsi, hal ini tentu berbagai kendala kini dihadapi, salah satunya adalah kekurangan finansial, pembinaan, kekompakan dan terlebih keikhlasan membawa Sula secara terhormat pada berbagai level bergengsi setingkat provinsi.

Kita jadi bertanya, masihkah kita memiliki darajat spiritual “Hai Sua, Hai Bamok?”
Suba Jou.

Penulis : Zainuddin M. Arie. Penyair, Seniman, Pemerhati Budaya, Pekerja Teater, Maluku Utara.

IKLAN HPN

Related Articles

Iklan hpn
Iklan HPN
Iklan hpn
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

Latest Articles