Banner iklan

Sebuah Jeritan Sunyi Dari Timur

More articles

Malut, investigasi.news-, (Opini) Saya mendengarkan lagu “Perahu Retak” karya Frangky Sahilatua bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati. Lagu ini bukan sekadar untaian nada dan lirik, tapi sebuah narasi batin yang memuat potret luka kolektif, kekecewaan, dan harapan yang nyaris pupus dari mereka yang berada di garis pinggir kehidupan. Sebagai putra daerah yang memahami denyut nadi masyarakat Sula dan Maluku Utara secara umum, saya merasa lagu ini lahir dari pergolakan batin yang sangat dalam.

“Perahu Retak” adalah metafora yang sangat kuat. Perahu bukan hanya simbol transportasi laut yang lekat dengan masyarakat pesisir seperti kita, tapi juga lambang perjalanan hidup dan harapan. Retaknya perahu adalah retaknya harapan, keyakinan, dan kepercayaan—baik kepada sesama, kepada pemimpin, maupun kepada masa depan yang dijanjikan tapi tak kunjung nyata.

Dalam bait-baitnya, Frangky tidak teriak. Ia tidak menyalahkan secara vulgar. Ia merintih. Dan di situlah kekuatannya. Liriknya sarat makna, dibungkus dalam kesederhanaan yang menyayat. Ia menulis dari ruang sunyi yang tak banyak dijamah oleh publikasi dan kamera media. Tapi dari ruang sunyi itulah, suara yang paling jujur seringkali lahir.

Jika kita tarik dalam konteks sosial, lagu ini seperti kritik lirih terhadap kondisi masyarakat di kawasan timur Indonesia-yang kerap merasa dianaktirikan. Ketimpangan pembangunan, akses pendidikan, ekonomi yang timpang, dan suara-suara minoritas yang tak terwakili dalam ruang politik, semua itu seakan diwakili oleh metafora “perahu yang retak.” Lagu ini tidak hanya menyuarakan pengalaman personal, tetapi juga menyampaikan keresahan kolektif.

Dalam bingkai budaya, Frangky Sahilatua merepresentasikan peran seniman sebagai juru bicara sosial. Ia tidak menyodorkan solusi, tapi mengajak kita merenung. Ia membuat kita bertanya: perahu siapa yang retak? Kenapa bisa retak? Dan siapa yang semestinya memperbaikinya?

Bagi saya pribadi, “Perahu Retak” bukan lagu yang selesai saat musik berhenti. Justru setelah lagu usai, pertanyaan-pertanyaan mulai bergema dalam hati. Lagu ini seperti cermin yang memantulkan wajah kita sendiri-apakah kita turut menjadi bagian dari keretakan itu, atau kita justru tengah mencoba memperbaikinya?

Frangky Sahilatua telah memberikan karya yang bukan hanya indah, tapi juga menggugah nurani atas “sebuah jeritan sunyi dari timur”, lagu ini patut didengar dan direnungkan oleh siapa saja yang peduli pada nasib rakyat kecil, pada keadilan sosial, dan pada masa depan bangsa sebagai wilayah yang jauh dari pusat kuasa.

Oleh: Mohtar Umasugi (Akademisi Sula).

spot_img
spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest