Maluku Utara, Investigasi.News – Ketua Solidaritas Muda Indonesia Timur (SMIT), Mesak Habari, menilai pernyataan Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, yang mempertanyakan mandat mahasiswa dalam menyuarakan persoalan Perda Hilirisasi Kelapa justru memperlihatkan cara pandang yang sempit terhadap gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil.
“Sejak kapan mahasiswa harus menjadi petani terlebih dahulu agar berhak membela kepentingan petani? Apakah mahasiswa harus menjadi nelayan untuk mengkritik kebijakan perikanan, menjadi buruh untuk berbicara soal ketenagakerjaan, atau menjadi pejabat untuk mengkritik pemerintah?” tegas Mesak.
Menurut Mesak, pertanyaan tersebut keliru. Mahasiswa bukan lembaga penerbit surat kuasa. Mereka merupakan bagian dari masyarakat sipil yang berhak membaca kebijakan, meneliti dampaknya, lalu menyampaikan kritik terhadap kekuasaan.
“Kalau setiap kritik harus membawa surat mandat, demokrasi akan menyusut menjadi urusan administrasi,” katanya.
Mesak menambahkan, pemerintah semestinya tidak mempertanyakan berapa banyak petani yang datang atau siapa yang memberikan mandat. Menurutnya, yang harus dijawab adalah apakah Perda Hilirisasi Kelapa benar-benar memperkuat posisi tawar petani atau justru mempersempit pilihan pasar mereka.
“Buka harga kelapa sebelum dan sesudah Perda, buka rantai pasoknya, buka siapa pembelinya, buka siapa yang menikmati nilai tambahnya, dan buka posisi tawar petani,” tambahnya.
“Jika hilirisasi benar-benar menyejahterakan petani, buktikan dengan angka. Jangan meminta rakyat percaya hanya karena sebuah kebijakan sudah disahkan menjadi Perda.”
“Perda bukan kitab suci dan kebijakan bukan benda sakral. Keduanya tetap boleh dikritik, diuji, dan dievaluasi,” tegas Mesak.
Pemerintah, lanjutnya, juga tidak perlu sibuk mencari siapa yang memberikan mahasiswa surat mandat. Sebab, demokrasi bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi juga tentang siapa yang masih boleh bertanya ketika kekuasaan merasa paling benar.
“Demokrasi bukan hanya soal siapa yang berkuasa, tetapi juga soal siapa yang masih boleh bertanya ketika kekuasaan merasa paling benar,” tutup Mesak Habari.
(Jk)













