Iklan

Fenomena Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” Ketika Budaya Populer Menjadi Instrumen Komunikasi Politik

More articles

Investigasi.News-, Kemunculan lagu viral “MBG (Mas Bahlil Ganteng)” di berbagai platform media sosial menunjukkan bagaimana ruang digital telah mengubah pola komunikasi publik di Indonesia. Lagu yang awalnya muncul sebagai konten hiburan berhasil menarik perhatian masyarakat luas karena liriknya yang sederhana, mudah diingat, dan menyebut secara langsung nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia. Fenomena ini menjadi menarik untuk dikaji karena memperlihatkan bagaimana budaya populer dapat bertransformasi menjadi medium komunikasi politik yang efektif.

Dalam perspektif komunikasi modern, fenomena tersebut sejalan dengan konsep participatory culture yang dikemukakan Jenkins (2006). Menurut Jenkins, masyarakat di era digital tidak lagi berperan sebagai konsumen pasif informasi, melainkan ikut terlibat dalam proses produksi dan penyebaran pesan. Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” merupakan contoh nyata bagaimana publik secara kreatif menciptakan narasi mengenai tokoh publik, kemudian menyebarkannya secara luas melalui media sosial sehingga menjadi bagian dari percakapan nasional.

Fenomena ini juga memperlihatkan bagaimana media baru telah mengubah mekanisme pembentukan opini publik. McQuail (2010) menjelaskan bahwa media massa tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga sebagai arena pembentukan makna sosial. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang tempat masyarakat menafsirkan, mendiskusikan, dan membangun persepsi terhadap figur publik melalui berbagai bentuk konten kreatif, termasuk lagu viral.

Menariknya, fenomena tersebut memperoleh respons positif dari berbagai pihak. Selain Bahlil yang menanggapinya secara santai, Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, menyebut lagu tersebut sebagai bentuk kreativitas masyarakat sekaligus apresiasi terhadap kerja keras Bahlil dalam menjaga ketersediaan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebuah konten viral tidak selalu dipandang sebagai candaan semata, tetapi juga dapat dimaknai sebagai representasi persepsi publik terhadap kinerja seorang pejabat.

Dari sudut pandang komunikasi politik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep yang dikemukakan McNair (2018), bahwa komunikasi politik tidak hanya berlangsung melalui saluran formal seperti pidato, kampanye, atau konferensi pers, tetapi juga melalui simbol, budaya populer, dan berbagai bentuk komunikasi yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, lagu viral dapat berfungsi sebagai sarana yang memperkuat visibilitas dan kedekatan seorang tokoh dengan publik.

Lebih jauh, Keller (2013) dalam teori Strategic Brand Management menjelaskan bahwa citra positif suatu merek atau figur dibangun melalui asosiasi yang kuat, unik, dan mudah diingat oleh publik. Dalam konteks ini, viralitas lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” berpotensi menciptakan asosiasi tertentu terhadap figur Bahlil di benak masyarakat. Lagu tersebut tidak hanya memperkenalkan nama seorang pejabat kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga membangun kedekatan emosional melalui pendekatan yang ringan dan menghibur.

Namun demikian, popularitas digital tidak selalu identik dengan keberhasilan komunikasi publik dalam jangka panjang. Viralitas dapat meningkatkan perhatian publik, tetapi citra yang berkelanjutan tetap ditentukan oleh konsistensi kinerja dan kemampuan memenuhi harapan masyarakat. Oleh karena itu, fenomena lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” sebaiknya dipandang sebagai ilustrasi bagaimana budaya digital dapat menjadi instrumen komunikasi politik yang efektif, sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat kini memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk narasi mengenai tokoh publik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi publik di era digital semakin cair dan dinamis. Batas antara hiburan, budaya populer, dan komunikasi politik menjadi semakin tipis. Sebuah lagu yang lahir dari kreativitas warganet dapat berkembang menjadi ruang diskusi publik, sarana pembentukan citra, bahkan medium apresiasi terhadap kinerja pejabat negara. Inilah wajah baru komunikasi publik di era media sosial, ketika setiap warga memiliki kesempatan untuk menjadi produsen pesan sekaligus pembentuk opini publik

Oleh: Rika Utari
(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMJ)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest