Refleksi : Krisis Identitas, Akar Dari Pembungkaman Nalar Kritis Mahasiswa

More articles

spot_img

Oleh : Prabowo Sibela
Wapres BEM STAI Babussalam Sula

Belakangan ini telah terjadi salah satu fenomena yang amat dahsyat dikalangan aktivis juga mahasiswa atau istilah lainnya kaum terpelajar atau masyarakat ilmiah, dimana semakin pudar semangat mahasiswa dalam proses pembelajaran baik di dalam ruangan maupun dilingkungan kampus. Dalam hal ini, membaca, berdiskusi kecil-kecilan, mengaktifkan kajian-kajian basic, serta membedah buku ( beragam jenis buku bacaan ) yang merupakan aktivitas rutin dan seharusnya wajib bagi seorang masyarakat ilmiah untuk menghidupkan itu

Menurut pandangan dari kacamata saya hal ini menunjukan kepada kita bahwa cara berfikir mahasiswa mulai tumpul dan konservatif yang anti terhadap cara berfikir maju yang keluar dari ketertinggalan persaingan intelektual. Belum lagi perkembangan zaman yang kian hari menuntut kita sebagai agen of change, kontrol, dan iron stock untuk membuat sebuah perubahan bagi bangsa dan negara di hari-hari esok, terkhususnya di daerah kita Kabupaten Kepulauan Sula dalam dunia pendidikan dan pekerjaan

Saya mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an, yang terjemahannya berbunyi ” Dan hendaklah kamu merasa khawatir apabila meninggalkan generasi setelah kamu generasi-generasi yang lemah ” dari ayat ini saya pikir sudah jelas, pertanyaannya apakah fenomena ini harus kita biarkan begitu saja?, Meninggalkan generasi-generasi yang lemah?, yang tidak perduli akan pentingnya ilmu pengetahuan. Sungguh kebodohan itu tidak akan menyelamatkan diri kita, kecuali orang-orang yang hendak belajar dan haus akan ilmu pengetahuan

Salah Satu aktivis tulen dan juga salah satu tokoh pendidikan di Indonesia Tan Malaka pernah berkata ” Percuma kamu membaca buku, tapi Mulut kamu bungkam melulu” lalu apakah kondisi saat ini yang di namakan metamorfosis kaum terpelajar, masyarakat ilmiah..? yang mau mengkambing hitamkan kecerdasan intelektual nya atau sesama mereka.?, Ternyata tidak. Alih-alih di giring pada cara berfikir pragmatis, Atau ada dalil lain yang menganggap bahwa itu taktis?, Bisa di bilang taktis jika kondisional wadah dalam menampung aspirasi kaum terpelajar menuntut kita sebagai agen of change, kontrol untuk di taktiskan untuk kepentingan wadah kita mengenyam ilmu pengetahuan

Kecemasan ini muncul. Cemas karena gerak maju persaingan intelektual hanya ada pada saat momen-momen seperti saat ini BEM, DPM, HMJ dan Lain². Padahal di luar sana masalah yang cukup banyak dan butuh di respon dan disuarakan. Bukan mengikuti senioritas dan alumni untuk ikut andil dalam berpolitik praktis serta menghabiskan waktu di warung-warung kopi dengan pembahasan politik. Hal seperti ini harus dihindari sebab Mahasiswa harus bebas merdeka, bersih (Steril) dari segala bentuk aktivitas kegiatan politik praktis sebab lingkungan kampus adalah mimbar akademis bukan mimbar politik praktis

Aneh bukan ketika teman-teman membaca kalimat pada awal paragraf dan kedua. Namun, inilah fakta yang kemudian saya temui sejak saya mulai berkuliah di STAI Babussalam Sula pada Tahun 2020 lalu, dan bisa jadi teman-teman yang lain juga turut merasakan keresahan yang sama dikalangan mahasiswa di STAI Babussalam Sula. Lalu pertanyaannya bagaimana langkah strategis yang harus kita ambil agar terhindar dan keluar dari cengkraman ini untuk mengembalikan eksistensi mahasiswa STAI Babussalam Sula, dan menjawab semua keresahan ini

Menurut pengkajian saya, dan juga dari beberapa sumber yang saya pakai. Tulisan ini saya sajikan untuk pembaca sebagai rasa prihatin saya terhadap kita semua sesama mahasiswa yang belakangan ini mulai kehilangan identitas kita sebagai kaum terpelajar, perlu saya tegaskan juga dalam tulisan ini saya lebih menitikberatkan terhadap Identitas Seorang Mahasiswa dan juga pentingnya peran senior dan Alumni yang juga merupakan salah satu aspek paling penting dalam mendorong dan meningkatkan kemajuan serta cara berpikir adik-adik Mahasiswa untuk lebih peka terhadap situasi pendidikan yang ada.

Tak hanya sampai disitu, Mahasiswa juga dituntut untuk menghidupkan kembali literasi. Program seperti ini harus diprioritaskan dengan mengadakan Seminar, dan Dialog sekurang-kurangnya 1 bulan sekali, sebagai asupan bergizi untuk kesehatan intelektual, serta diskusi, bedah buku bacaan, kajian basic, dimana melibatkan mahasiswa dan dosen, serta senioritas dan alumni sebagai upaya pemberdayaan mahasiswa dalam pematangan intelektual dalam proses pembelajaran didalam kampus maupun diluar kampus

Dengan program seperti inilah sudah barang tentu Mahasiswa mendapatkan suntikan serta asupan nutrisi bagi intelektual, serta terampil dan cakap dalam dunia akademik dan mampu bersaing dengan mahasiswa-mahasiswa dari Perguruan Tinggi atau Universitas Negeri maupun Swasta di berbagai daerah dalam meraih prestasi gemilang

Tak kalah pentingnya dalam proses perkuliahan, Mahasiswa juga dituntut untuk peka, sering memperhatikan dan melakukan advokasi terhadap kondisi sosial yang kian mencekam masyarakat kelas akar rumput sebagai agen of change, kontrol, dan iron stock untuk membuat sebuah perubahan yang lebih besar.

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest

spot_img