Beranda blog Halaman 4958

DPRD Agam Gelar Paripurna Penyampaian Laporan Dua Pansus

0

Agam, Investigasi

DPRD Kabupaten Agam menggelar rapat paripurna Internal penyampaian laporan Pansus PAD dan Pansus RTRW, di Aula Utama DPRD Setempat, Senin (12/7).

Rapat yang dipimpin Wakil Ketua DPRD Agam Suharman, juga dihadiri oleh Anggota DPRD Agam. Pada kesempatan itu, laporan Pansus PAD disampaikan langsung oleh Ketua Pansus Zulpardi dan laporan Pansus RTRW juga disampaikan langsung oleh Ketua Pansusnya Henrizal.

Dalam penyampaiannya, Ketua Pansus PAD, Zulpardi mengatakan berdasarkan rapat kerja dengan OPD teknis pengelola PAD dapat beberap kondisi yang terjadi seperti menentukan target PAD tidak berdasarkan data potensi yang ada, data yang PBB digunakan masih tahun 2021 dan belum di update, regulasi penerapan sanksi hukum bagi yang tidak taat dalam membayar pajak tidak berjalan.

“Selanjutnya, keterbatasan SDM dan tidak tersedianya PPNS pajak, Kewenangan yang tidak jelas antar OPD, beberapa regulasi baru perlu diperbaiki, adanya tower menara telekomunikasi yang tidak bayar pajak, dan adanya PT yang tidak bayar pajak,” ungkapnya.

Sedangkan, Laporan Pansus RTRW yang disampaikan oleh Henrizal menyebutkan setelah melakukan rangkaian pembahasan, pihaknya memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah sebagai bahan untuk dijadikan bahan dalam Rencana Struktur Ruang, Rencana Pola Ruang, Penetapan Kawasan Strategis, Rencana Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka, Prasarana dan Sasaran Umum, Arahan Pemanfaatan Ruang dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang, serta Peran Masyarakat dan Tanggung Jawab Pemerintah Daerah dalam Penataan Ruang.

(Daji)

Lemahnya Perencanaan dan Pelaksanaan Proyek Infrastruktur di Sawahlunto Jadi Sorotan

0

Dasrial Ery

SAWAHLUNTO, INVESTIGASI

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kota Sawahlunto menyorot lemahnya perencanaan dan pelaksanaan proyek infrastruktur. Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Elfia Rita Dewi pada rapat paripurna Laporan Pertanggungjawaban pelaksanaan APBD 2020, Senin (12/7/2021)

“ Akibat belum optimalnya sebagian pengawasan, perencanaan dan pengendalian pekerjaan pada beberapa OPD sehingga banyak pekerjaan infrastruktur tidak sesuai dengan yang diharapkan sebagaimana tercantum dalam Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI” kata Dewi

Dia menyebutkan DPRD meminta kepada pemerintah daerah ke depannya lebih selektif dalam menetapkan nilai pekerjaan, lokasi pekerjaan, dan pekerjaan fisik harus direncanakan dengan baik dan detail

DPRD juga meminta, sebut Dewi dalam penetapan pemenang lelang juga sesuai dengan harga yang realitisis dan wajar, karena bagaimanapun kualitas pekerjaan, kesesuaian anggaran dan kepatuhan pada aturan adalah hal utama dalam pembangunan sehingga pekerjaan yang dihasilkan memang berdaya guna bagi kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, pekerjaan fisik seharusnya telah selesai perencanaannya pada awal tahun anggaran, bahkan proses pekerjaannya lelang mapupun swakelola sudah dimulai pada awal tahun anggaran tersebut.

Hal ini dimungkinkan agar tidak ada lagi pekerjaan yang waktu pelaksanaannya terkesan terburu-buru di akhir tahun anggaran sehingga berdampak pada kualitas pekerjaan dan kelalalaian lainnya.

Selanjutnya, DPRD berharap dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat Kota Sawahlunto, sudah seharusnya Pemerintah Daerah melakukan pekerjaan Infrastruktur atau pisik dilaksanakan di awal tahun anggaran sehingga terjadi perputaran roda ekonomi di Kota Sawahlunto.

Hal senada juga disampaikan Ketua Fraksi PAN, Golkar PDI Perjuangan Kota Sawahlunto Dasrial Ery. Dia menegaskan agar pemerintah daerah lebih meningkatkan pengawasan terkait mutu pekerjaan fisik yang telah dikerjakan oleh rekanan karena banyak yang rusak sebelum waktunya.

“ hal ini disebabkan jauhnya harga penawaran dari pagu anggaran. Kedepan, supaya tim seleksi lebih menjadikan teknis pekerjaan sebagai point penting pertimbangan tinggi atau rendahnya harga penawaran” jelasnya (T.Ab)

Terkait RPJMD Sumbar, Ketua DPRD Agam Dr. Novi Irwan, S.Pd. M.M Sampaikan Paparan

0

Padang, Investigasi

Terkait Sinkronisasi RPJMD Propinsi Sumbar, Ketua DPRD Agam Dr. Novi Irwan, S.Pd. M.M menyampaikan pemaparan dalam rapat RPJMD Sumbar dalam rapat DPRD Sumbar DPRD Propinsi Sumbar Senin (12/07).

Acara tersebut dibuka Ketua DPRD Sumbar Supardi. Hadir langsung Sekda Provinsi Sumbar Benni Warlis, Pansus RPJMD Sumbar, Bupati/Wako atau mewakili dan ketua dprd se sumbar

Dikatakan Berdasarkan beberapa Isu strategis yang harus di sinkronisasi Kab. Agam dan Propinsi Sumbar diantaranya adalah. IPM Agam yang tidak begitu naik memuaskan saat ini 72. Maka kita harus Fokus Meningkatkan Mutu Pendidikan, menuju keunggulan SDM generasi mendatang baik yg dibawah wewenang Kab. Agam ( Paud,TK, SD, SMP), Propinsi Sumbar (Kebutuhan khusus, SMA/ SMK) maupun dalam wewenang kemenag (Madrasah dan pesantren).

Peningkatan Pelayanan kesehatan dan penyuluhan kesehatan masyarakat termasuk RSUD yang di bawah propinsi. Ekonomi Masyarakat kita berorientasi kawasan sentral, Pertanian,  Peternakan, Perikanan,  Perkebunan, Pariwisata, Perindustrian, Pendidikan / Pesantren supaya ada Peningkatan dalam segala hal dan disingkronkan antara program Kab. Agam dan Propinsi Sumbar sehingga tidak tumpang tindih dan tepat sasaran serta menjadi prioritas program dan anggaran.

Selanjutnya, Program Milinial interpreneur 100.000 di Sumbar yang digagas kami mendukung namun disingkronkan dengan Agam dalam segi program mulai dari sosialisasi, pengarang, pelaksana program sampai pendampingan Pada para minimal interpreneur meraih keberhasilan dalam bidang masing masing.

Revitalilasasi Danau Maninjau yang akan digulirkan supaya segera adanya sinkronisasi mulai dari sosialisasi, regulasi dan program baik pusat, propinsi maupun Agam.

Jalan Propinsi saat ini di Agam masih banyak rusak, sedang bahkan dan ada yang belum di Aspal seperti Palupuah ke batas kab. 50 Kota dan lanjutan di Palembayan dan lainnya supaya menjadi prioritas program dan alokasi anggaran dari Propinsi Sumbar.

Ditambahkan, Normalisasi 51 sungai dan anak sungai serta revitalilasasi pengairan, terutama batang Agam, batang tambuo, batang Tiku, batang bawan dll sangat mendesak mohon menjadi prioritas dan sinkronisasi dari Propinsi dan Kementrian PUPR – RI,”Ungkap ketua Dprd Agam itu .

(Daji)

DPRD Sawahlunto Tegaskan Pemda Dalam Perencanaan Agar Lebih Cermat dan Terarah

0

SAWAHLUNTO – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sawahlunto meminta pemerintah daerah membuat perencanaan dengan lebih cermat dan terarah, sehingga tidak ada lagi kegiatan dan program yang tidak bisa terlaksana karena alasan yang tidak relevan.

Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD kota Sawahlunto Elfia Rita Dewi menyampaikan laporan pembicaraan tingkat pertama terhadap Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD 2020, para rapat Paripurna DPRD kota Sawahlunto, Senin (12/7/2021).

Dewi menerangkan hal ini yang berakibat rendahnya capaian kinerja OPD serta berdampak terhadap turunnya kualitas dan perfomance perencanaan pembangunan Kota Sawahlunto serta berpengaruh terhadap pelayanan kepada masyarakat.

Terhadap OPD kegiatan yang memiliki serapan anggarannya rendah, agar lebih selektif dalam penganggaran di tahun berikutnya, hal ini demi mengefektifkan dan mengefisienkan postur APBD Kota Sawahlunto.

Apalagi dengan adanya masa pandemi covid-19 sehingga anggaran APBD yang telah ditetapkan sebagian di Refocussing untuk penanganan Covid-19. Maka untuk itu Pemerintah Daerah membuat perencanaan lebih cermat dan terarah serta nilai belanja daerah sebaiknya disesuaikan dengan nilai yang bisa diperoleh dari Pendapatan Daerah

“ seyogyanya manajemen pengelolaan keuangan Daerah adalah membelanjakan uang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan yang logis dan wajar” kata Dewi pada paripurna yang dipimpin ketua DPRD Eka Wahyu yang dihadiri Wali Kota Sawahlunto Deri Asta dan Wakil Wali Kota Zohirin Sayuti itu.

Dia juga berharap koordinasi antar OPD harus ditingkatkan dan saling dukung mendukung antar kegiatan dan jangan sampai terjadi tumpang tindih kegiatan .

Terkait beberapa saran dan masukan terhadap pelaksanaan dan pengawasan pembangunan, Fraksi PKPI DPRD kota Sawahlunto Masrisal berharap sebagaimana yang telah kami sampaikan pada pandangan umum sebelumnya, kesalahan – kesalahan administrasi dalam dokumen pemerintah daerah, keterlambatan dan kesalahan – kesalahan pengiriman laporan – laporan yang terjadi dalam proses perencanaan dan penyusunan anggaran.

“ untuk kedepannya ini dapat diperbaiki dan tidak menjadi semacam dapat diperbaiki dan tidak menjadi semacam pola kesalahan dan tidak menjadi kesalahan yang berulang” kata Masrisal

Fraksi PKPI juga meminta peran dan fungsi serta kinerja Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) lebih dioptimalkan dan ditingkatkan. (T.Ab)

Armensis Berpulang, JMG Kehilangan Sosok Wartawan Jujur

0

SOLSEL, INVESTIGASI

Innalilahi Wainnailaihi Rojiun, Wartawan Jejak Media Group (JMG) untuk wilayah Solok Selatan Armensis (67), telah berpulang ke rahmatullah pada Senin,(12/7) pukul 01.00 Wib, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Diagnosa dokter, almarhum menderita asam lambung.

“Beliau pada Minggu siang (11/07) sekira pukul 12.30 Wib minta diantar ke rumah sakit, karena asam lambung naik, ujar Jep wartawan harianhaluan.com sahabat dekat almarhum.

“Antaan akak ka IGD rumah sakik ciek, asam lambuang akak naiak,”ujar Jefly menirukan ucapan Armensis

Jefly mengatakan, beberapa saat usai menghubungi, ternyata beliau sudah di rumah sakit di Instalasi Gawat Darurat (IGD) diantar keponakan beliau. Dan tidak lama kondisinya sudah membaik dan sudah bisa diajak minum teh di kantin rumah sakit.

Usai itu, kami pulang dan langsung menuju rumah. Dalam perjalanan ada ungkapan beliau yang masih terngiang dan itu tidak pernah beliau ungkapkan sebelumnya.

“Di cuaca ko (kawasan di Muaro Labuah) alah saraso di kota awak ndak Yep,”sebut Jefly, menirukan.

Menurut Jep, kami langsung pulang ke rumah dan setelah beliau turun saya langsung pergi pulang.

“Istirahat lah akak dulu, semoga cepat sembuh, kata Jep sambil berlalu.

Didalam grup WhatsApp Warga Pers dan Humas Solok Selatan, mengalir ungkapan doa untuk Armensis agar cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas. Rekan-rekan jurnalis Solok Selatan memberi dukungan kepada Armensis.

“Semoga kembali pulih dan dapat stabil seperti sediakala pak men,”kata Zaki, wartawan Indonesia Raya di grup WhatsApp itu.

Menurut Afriadi wartawan POSMETRO Padang, pada Senin (12/7) pukul 01.10 Wib, istri almarhum (Uni Lina-red) menghubungi handphonenya, sebanyak dua kali. Tapi tak sempat terangkat karena sudah tertidur.

Paginya sekira pukul 06.31 Wib, istri almarhum kembali menghubungi dan memberi kabar bahwa almarhum sudah berpulang ke Rahmatullah.

“Paginya saya baru tahu dari istri almarhum bahwa Armensis telah berpulang, dan langsung menghubungi teman teman,” katanya.

Sebelum nya di grup WhatsApp Warga Pers dan Humas sekitar pukul 03.51 sudah ada pemberitahuan dari Sudirman Dt Pagaruyung bahwa Armensis telah berpulang.

“Jam 01.17 Wib saya dapat informasi dari anak yang bertugas di rumah sakit bahwa Armensis meninggal dunia, namun karena saat itu baru terbangun dan tidak ngeh, belum di respon. Baru sekitar pukul 03.50 saat terbangun saya pastikan dan baru menginformasikan grup WhatsApp,”sebutnya.

Mendapatkan kabar bahwa Armensis sudah berpulang, rekan-rekan wartawan yang bertugas di Solok Selatan, paginya langsung melayat ke rumah duka. Banyak dari para insan pers tidak percaya dengan kepergian almarhum.

“Saya awalnya tidak percaya informasi dari grup WhatsApp, tapi setelah ditelpon teman teman wartawan baru percaya, tak terasa air mata ini tidak terbendung, saya langsung pergi ke rumah duka ,”jelas Syahril wartawan Padang Expo.

Hal tidak percaya bahwa Armensis telah berpulang itu terjadi kepada semua rekan-rekan wartawan. Mereka seakan tidak percaya. Termasuk Syamsir Burhan Pemimpin Umum Jejak Media Group.

“Kami sangat terkejut saat mendapat informasi dari Helfi Yulinda salah seorang wartawati di Solsel. Berita duka ini membuat kami merasa kehilangan sekali. Sebab almarhum termasuk wartawan yang tak banyak bicara dan sangat jujur sekali. Kami di JMG mendoakan agar almarhum Husnul khatimah dan kami berharap keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi musibah ini…Aamiin YRA”, ujar Syamsir

Paginya perwakilan kru JMG berjumlah enam orang dari Padang berencana untuk kerumah duka di Muaro Labuah Solok Selatan. Ditengah perjalanan, tepatnya di Pendakian Panorama kendaraan yang ditumpangi kru JMG mendapatkan masalah.

Mobil yang ditumpangi kru JMG tiba-tiba saja mati dan tak bisa hidup lagi. Setelah dicek ternyata mesin mobil mengalami kekeringan air dan retak. Akhirnya mobil harus diderek ke bengkel. Kendati demikian perwakilan Kru tetap berangkat satu orang untuk kerumah duka. (*)

Masyarakat Sangat Antusias Ikuti Vaksinasi Covid-19 di BLK Pasaman

0

Pasaman, Investigasi — Antrian Panjang peserta pelatihan dan warga Kabupaten Pasaman tampak di halaman hingga sepanjang jalan perkantoran Balai Latihan Kerja (BLK) Lubuksikaping, Dinas Perdaginnaker, Kab. Pasaman untuk ikut serta vaksinasi covid19 yang sedang digalakkan Pemkab Pasaman.

Antrian tersebut sudah dimulai sejak pukul 08.00 WIB pagi, hingga pukul 10.00 WIB peserta pelatihan di BLK dan ratusan warga masih tampak antusias menunggu giliran untuk ikut serta divaksin.

Kegiatan vaksinasi covid19 yang dimotori oleh Balai Latihan Kerja Lubuksikaping ini bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, Puskesmas Lubuksikaping dan Puskesmas Tapus, Padang Gelugur dalam rangka mensukseskan program vaksinasi di Kabupaten Pasaman yang sedang digalakkan oleh Pemkab Pasaman.

Pemerintah Kabupaten Pasaman membuka layanan vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Sinovac merk CoronaVac secara gratis. Dinkes dan UPT BLK Lubuksikaping sepakat untuk andil mensukseskan program vaksinasi di Pasaman.

“Alhamdulillah, telah divaksin 109 peserta pelatihan, 1 orang ditunda karena hamil dan 2 orang lagi harus menunggu, dengan demikian seluruh peserta pelatihan sudah di vaksin, ujar Kepala UPT BLK Lubuksikaping, Haryadi kepada media ini (12/7/2021).

Vaksinasi di UPT BLK Lubuksikaping mendapat sambutan tinggi dari peserta pelatihan. Hal itu terlihat sejak dimulainya pada pukul 08.00 WIB sudah banyak peserta yang melakukan antre untuk mendapatkan giliran divaksin Covid-19.

Kegiatan vaksinasi Covid 19 di BLK Lubuksikaping, diawali oleh sosialisasi program vaksinasi covid 19 oleh Kepala Dinas Kesehatan, Desrizal didampingi oleh kepala Dinas Perdaginnaker dan Kepala UPT BLK Lubuksikaping.

Desrizal dalam penyampaiannya didepan peserta pelatihan mengatakan bahwa animo masyarakat untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 di BLK Lubuksikaping sangat tinggi. Dari semula diperkirakan akan diikuti 50 peserta, ternyata sampai 112 peserta ditambah 15 orang warga setempat yang ingin ikut divaksin.
“Intinya kami terus melayani seluruh peserta yang ikut dalam kegiatan hari ini dengan sebaik-baiknya,” jelas Desrizal.

Desrizal mengatakan, Pihaknya berharap bisa mengedukasi masyarakat terkait banyaknya berita hoaks terkait vaksin Covid-19. Di mana pemerintah sudah berupaya dengan baik memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Banyak berita hoaks terkait penanganan Covid-19. Saya berpesan agar masyarakat tidak terpengaruh itu. Pemerintah pasti memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” tegas Desrizal.

Desrizal juga mengapresiasi upaya UPT BLK Melaksanakan vaksinasi covid19, ia memuji langlah yang dilakukan oleh BLK ini agar di ikuti oleh masyarakat luas. “Jangan takut di vaksin, ini demi melindungi diri kita semua dan keluarga serta orang tersayang”,. ujar Desrizal.

Tampak hadir dari pagi hari 20an orang petugas kesehatan dari Dinkes Kab. Pasaman, Desrizal berharap, kegiatan vaksinasi seperti yang dilakukan oleh BLK ini diharapkan bisa terus menekan terjadinya penyebaran Covid-19. (RIS)

Menyoal Kesiapan PPKM Darurat Non Jawa – Bali, Wako Hendri Septa Diwawancarai CNN Indonesia

0

Padang, Investigasi.news – Menanggapi penetapan Kota Padang masuk dalam 15 kabupaten/kota diluar Jawa-Bali yang diminta untuk melakukan PPKM Darurat oleh pemerintah pusat, Wali Kota Padang Hendri Septa masih menunggu instruksi dari Gubernur Sumatera Barat.

Hal tersebut disampaikannya dalam program CNN Indonesia NewsCast, yang disiarkan secara streaming melalui www.cnnindonesia.com, Minggu malam (11/7/2021).

“Kita memang telah menerima undangan dari Pemerintah Provinsi Sumbar untuk mengikuti rapat koordinasi membahas hal terkait pada Senin (12/7/2021). Untuk saat ini kita di Kota Padang masih berlakukan PPKM Mikro,” jelasnya.

Hendri mengatakan, bahwa Kota Padang merupakan kota persinggahan dan kota tujuan. Untuk penerapan PPKM darurat pihaknya perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan kota penyangga, dan dua kota lain yang masuk dalam PPKM Darurat di Sumbar yakni, Kota Padangpanjang dan Bukittinggi.

“Kami perlu juga berkoordinasi dan bersinergi dengan kota-kota lain yang berbatasan langsung dengan Kota Padang untuk pemberlakuan PPKM Darurat ini. Seperti Kota Pariaman, Solok, dan Pesisir Selatan. Jika langsung kita terapkan kami khawatir tidak adanya kesiapan masyarakat nanti. Untuk itu kami berkoordinasi dengan pemerintah provinsi,” ungkap Wako didampingi Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Amrizal Rengganis.

Wako Hendri Septa mengatakan, bahwa Pemerintah Kota Padang akan selalu siap dan patuh dalam menjalankan perintah dan arahan pemerintah pusat dalam penanganan Covid-19. Saat ini Kota Padang tengah melakukan vaksinasi Covid-19 dan fokus pada pengetatan PPKM berskala mikro.

Sebagaimana tema yang diangkat dalam acara ini adalah “PPKM Darurat Diperluas, Non Jawa-Bali Siap?”. Acara tersebut dipandu oleh prisenter Reinhard Sirait. Selain Wako Hendri Septa juga hadir menjadi narasumber Wali Kota Medan M.Bobby Afif Nasution, dan Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud.

Selain membahas kesiapan masing-masing daerah untuk PPKM Darurat, ketiga kepala daerah tersebut juga berbagi pengalaman dalam upaya mengatasi penyebaran Virus Covid-19 di kota masing-masing. Rel

Konversi Bank Nagari tak Semudah Membalik Telapak Tangan

0

Oleh : Dr Genius Umar

SUDAH jadi hukum alam penonton sepak bola itu lebih pintar “ngoceh” dibandingkan pelatih ataupun pemain sepak bola. Walau tak memiliki kepandaian dan kemampuan khusus dalam mengolah si kulit bundar namun berbekal pandangan mata saja penonton bisa “ngoceh” apa saja. Salahkah penonton? Jawabannya pasti tidak.

Dalam dunia sepak bola modern saat ini komentar dari penonton adalah hal yang lumrah dan si pemain sepak bola bersama timnya juga tak boleh “merah telinga” dengan kritikan dan masukan itu. Selain berguna untuk evaluasi diri, bisa jadi satu atau dua dari apa yang disampaikan oleh penonton ada juga benarnya. Mungkin karena penonton memiliki sudut pandang ke seluruh sisi lapangan sedangkan pemain hanya terpaku dengan pandangan ke depan saja. Sehingga apa yang terjadi di samping kanan dan samping kiri tak dapat dilihatnya dengan komprehensif.

Dalam sebuah bisnis lembaga keuangan, konversi bukanlah perkara gampang dan jangan pula sekali kali kita menggampang gampangkan. Sebab, konversi itu pada hakikinya menutup satu usaha dan melahirkan usaha baru. Begitu juga halnya dengan Konversi Bank Nagari dari sistem Konvensional ke Sistem Syariah. Konversi disini berarti menutup / melikuidasi / membubarkan / menghapus Bank Nagari dengan sistem operasional konvensional yang hari ini berassetkan lk Rp27 Triliun dan membuka bank baru benama Bank Nagari Syariah dan harus memindahkan seluruh kekayaan yang ada pada bank lama itu kepada bank baru dibentuk.

Simpelkah memindahkan itu? Jawabannya pasti tidak. Memindahkan barang dari satu ruangan ke ruangan lain saja membutuhkan waktu dan proses. Apalagi memindahkan asset yang sudah mencapai lk Rp27 Triliun yang didapatkan dengan susah payah selama hampir 60 tahun. Sekelas BPD di NTB yang selalu dijadikan role model pihak yang menginginkan konversi saja membutuhkan persiapan selama 8 tahun. Butuh dua periodenisasi Gubernur untuk menjalankan itu sehingga bisa berjalan dengan baik tanpa polemik. Itu hanya untuk meyakinkan 8 kabupaten dan kota lengkap dengan DPRD nya. Bayangkan kita di Sumatera Barat dengan 19 kabupaten/kota yang ingin ujuk-ujuk dengan cepat mengkonversi Bank Nagari. Hanya dalam waktu dua tahun sudah merasa siap dan matang melakukan konversi.

Konversi taklah semudah mengganti “baju kaus” dengan “baju gamis”. Kalau pakaian mah tinggal sorong. Namun, kalau konversi ada tahapan yang harus dilalui. Dari 16 syarat yang diamanatkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih banyak yang mesti disiapkan termasuk pondasi utamanya berupa perubahan akta perusahaan.

Perubahan akta ini taklah sesimpel yang dibayangkan pula. Diperlukan Peraturan Daerah terbaru untuk mendudukkan kembali akta perusahaan dalam bentuk peraturan daerah. Selain itu status perusahaan juga harus dipertegas kembali. Sesuai PP No 54 Tahun 2017, Bank Nagari adalah Perseroan Daerah (Perseroda). Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebagai pemegang saham pengendali harus memenuhi kewajibannya untuk memiliki 51 persen saham. Artinya, Pemprov wajib menyetor modal kembali sebanyak Rp1 Trilun agar bisa menjadi pemegang saham 51 persen sesuai amanat PP 54 Tahun 2017 tersebut. Sanggupkah Pemprov melakukan itu?

Itu baru salah satu syarat dan kebetulan itu syarat utama. Belum lagi syarat lainnya seperti risalah RUPS LB yang tak bulat dari keputusan RUPS LB tanggal 30 November 2019 yang lalu. Selain itu juga ada kewajiban untuk merinci kembali siapa saja pemegang sahamnya pasca dilaksanakan amanat PP 54/2017. Regulasi juga mengamanatkan untuk mendaftarkan kembali calon pengurus perusahaan, dewan pengawas Syariah, ada lagi surat penyataan dari pemegang saham yang bersedia modalnya dialihkan ke sistem syariah. Khusus surat peryataan ini belum satupun Kepala Daerah di Sumbar yang menanda tangani itu.

Tak sampai di situ manajemen juga wajib membuat kajian bisnis tentang potensi dan risiko yang akan dihadapi jika konversi dilaksanakan. Kajian ini juga harus komprehensif dengan beragam alternatif pilihan. Konversi juga meminta harus ada roadmap bisnis sementara waktu terus bergulir. Sedangkan deadline untuk pengajuan Rencana Bisnis Bank saja sudah terlewati akibat kita sibuk berdebat dan berpolemik konversi. Kondisi ditambah pula oleh wabah Covid–19 yang tak kunjung mereda. Intinya, ada banyak acuan dan ketentuan yang belum terpenuhi. Jika satu saja dari ketentuan tersebut tak terpenuhi maka konversi tak akan pernah bisa dilaksanakan.

Bulat tak Berlonjong

Konversi itu tak semudah membalik telapak tangan. Keputusan politik yang diambil untuk mengubah bentuk operasional dari konvensional ke syariah haruslah bulat tak berlonjong. Artinya, dari 21 pemegang saham Bank Nagari yang ada saat ini harus bulat tak sumbing untuk bersepakat dan berkomitmen penuh berkonversi. Jangan seperti RUPS LB 30 November 2019 yang lalu, kitapun harus jujur mengatakan itu adalah bulat masih berlonjong. Pilihan untuk mengikuti keinginan pemegang saham pengendali tak terlepas dari rasa segan dan menghargai pemegang saham pengendali. Kalau tak percaya bukalah rekaman RUPS LB itu kembali. Begitu juga hasil survei yang dilakukan Lembaga Pelatihan Perbankan Indonesia (LPPI) yang menyatakan 55 : 45. Artinya, keputusan yang ada saat itu tak lah bulat bundar seperti yang kita bayangkan.

Ibarat mata rantai, 21 pemegang saham Bank Nagari saat ini saling bertali temali antara satu dengan yang lainnya. Jika satu mata rantai itu putus jangan berharap rotasi bisa berjalan. Begitu juga dengan pemegang saham. Harus bulat 100 persen bersepakat untuk konversi. Jika satu saja dari 21 pemegang saham tadi tidak setuju maka Otoritas Jasa Keuangan juga tak akan melanjutkan prosesnya. Begitu juga dengan 16 syarat yang diamanatkan Otoritas Jasa Keuangan. Satu di antara 16 syarat tersebut tak terpenuhi maka konversipun tak akan bisa diproses. Fakta ini kembali mempertegas kepada kita semua bahwa konversi itu taklah semudah membalik telapak tangan.

Mengubah Bentuk Vs Mengubah Hati

Manakah yang lebih berat membangun gedung berlantai 100 dibanding mengubah hati 100 orang? Asal rasional pasti akan berkata berat mengubah hati 100 orang.

Fakta mengatakan seberat apapun membangun gedung bertingkat, teknologi dan material tersedia dengan cukup untuk melakukannya. Ada panduan instruksi kerja yang dapat diikuti, ada gambar tiga atau empat dimensi yang lengkap kajian teknis yang bisa dipedomani.

Bagaimana mengubah hati manusia? Inilah yang sangat sulit. Apalagi adegium di Ranah Minang sering mengatakan “nan angguak alun tantu iyo, nan geleng alun tantu tido”. Di bibir bisa saja dia berkata mendukung dan sangat setuju, tapi dalam tindakan bisnisnya justru bertolak belakang. Tak tertutup kemungkinan itu terjadi pada pemegang saham yang setuju dan sangat ingin melaksanakan konversi. Sudahkah keinginan itu linear dengan komitmen penempatan dananya? Justru yang terjadi sebaliknya. Sebagian daerah membagi kas daerah ke sejumlah bank umum konvensional BUMN.

Jika di tingkat pemegang saham saja lain di mulut namun lain pula di hati, tentulah jauh lebih rumit di tingkat nasabah lain dan calon nasabah lainnya. Ini linear dengan survei literasi syariah yang dilakukan setahun terakhir. Dikutip dari tulisan Dr Asyari dengan judul “Konversi Bank Nagari dan Dakwah Ekonomi” tanggal 3 Juli 2021 terlihat dengan nyata literasi syariah termasuk di Sumatera Barat sendiri sangatlah rendah.

Dari 100 orang yang diwawancarai hanya 14 orang yang memahami tentang perbankan syariah sementara 86 lainnya tidak memahami. Artinya, hanya 14 persen pemahaman publik Sumatera Barat terhadap perbankan syariah itu sendiri. Literasi ini malah mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 yang lalu. Inilah tugas terberat kita bersama terutama Masyarakat Ekonomi Syariah dan para pendakwah. Maksimumkanlah edukasinya, bukan merongrong masuk ke dalam bidang teknis operasional. Apalagi sampai mendukung dan tak mendukung konversi.

Begitu juga dengan market share perbankan di Sumbar saat ini. Dari 100 persen market share perbankan 93 persennya dikuasai perbankan kovensional sedangkan kurang dari 7 persennya dipegang perbankan syariah. Ini juga linear dengan total asset Unit Usaha Syariah Bank Nagari dengan total asset konsolidasi Bank Nagari. Unit Syariah berassetkan lk Rp2,3 triliun sedangkan Bank Nagari konvensional berassetkan lk Rp27 Triliun.

Kalaulah tiga indikator ini dikomparasikan maka sama artinya 14 % : 86 % (Literasi), 7 % : 93 % (Market Share Perbankan) dan Rp2,3 Trliun : Rp27 Triliun (Perbandingan total asset). Data ini menunjukan kepada kita betapa sulit dan beratnya menundukkan dan mengubah hati masyarakat untuk beralih dari kovensional ke Syariah.

Parpol Vs Industri Keuangan Vs Risiko

Ada perbedaan yang sangat mendasar antara partai politik, permainan politik dengan lembaga keuangan (perbankan). Partai politik dibangun dengan konsituen dan platform politik sedangkan perbankan dibangun dengan modal uang dan diperkuat dengan trust publik.

Dua entitas ini salinglah bertolak belakang. Jika partai politik akan semakin besar dan menarik jika terus digulirkan isunya di ruang publik dan mendapat atensi dari publik luas sedangkan perbankan justru sebaliknya. Makin digulirkan isunya ke ruang publik dengan cara-cara politis seperti saat ini maka semakin terganggu kepercayaan nasabahnya kepada lembaga keuangan tersebut.

Kenapa terganggu? Lumrah saja. Bagi kita yang berkantong cekak kalau menitipkan dan menyimpan dana di sebuah wadah sementara wadah itu selalu diributkan dengan gonjang ganjing tak jelas tentulah rasa cemas dan takut akan muncul. Untuk itu hentikanlah mempolitisir polemik ini. Bukankah masyarakat sudah memberikan amanat kepada Kepala Daerah, berikanlah kepercayaan kepada kami. Kami juga ingin menyampaikan bahwa kami sebagai kepala daerah tak lah bodoh-bodoh amat. Sebagai kepala daerah pun kami menginginkan Bank Nagari Syariah. Perbedaan kita hanyalah pada cara mewujudkan bank syariahnya, ingat cara bersyariahnya.

Ada satu hal yang mesti kita ingat saat ini. Kondisi ekonomi bangsa dan Sumbar sangatlah jauh berbeda dibandingkan tahun 2019 yang lalu. Kini ekonomi kita sedang rontok, ekonomi kita tumbuh minus. Jangankan untuk survival, untuk bertahan saja dunia usaha sangatlah sulit sekali. Untuk itu, biarkan Bank Nagari saat ini berkerja dengan tenang dan nyaman. Janganlah diusik-usik dulu.

Begitu juga dengan aspek risiko. Sebagai pemegang saham kamipun harus mempertimbangkan banyak hal termasuk risiko yang akan muncul pascakonversi. Sudah jadi rahasia umum konversi menghasilkan “turbulensi” kinerja seperti yang terjadi pada BPD NTB. Intermediasi bank melambung, portofolio kredit terkendala, pendapatan bunga menurun, biaya operasional cenderung merangkak naik akibat penyesuaian sistem operasional termasuk jasa untuk fee consultan konversi yang nilainya mencapai miliaran, pencadangan (CKPN dan PPAP) meningkat. Muara akhirnya adalah menurunnya laba bersih usaha dan menciutnya deviden yang menjadi sumber PAD utama pemerintah daerah se Sumatera Barat saat ini. Bila kondisi sulit seperti itu terjadi siapa yang akan bertanggungjawab. Sudah tentu kami sebagai kepala daerah yang akan disalahkan oleh masyarakat.

Itu baru dari sisi risiko bisnis, belum lagi kita bicara konsekuensi dari keputusan. Khusus untuk konversi ini adalah hal yang jauh lebih sulit. Konversi ini bukanlah untuk coba-coba. Artinya, begitu diputus dan bila kita mengalami turbulensi kinerja lalu kita ingin kembali lagi seperti semula dipastikan tidak bisa. Artinya, kalau sudah terlajur dikonversi menjadi Bank Umum Syariah, kita tak bisa lagi surut ke belakang dengan kembali menjadi Bank Umum Konvensional. Kalau kita ingin kembali ke konvensional maka kita harus memenuhi aturan layaknya membuat bank umum konvensional yang baru. Sanggupkah kita menyediakan modal Rp1 Triliun hingga sampai Rp3 Triliun dalam kondisi keuangan daerah yang berat akibat recofusing saat ini?

Sebagai salah satu pemegang saham saya melihat dan mengajak marilah kita berpikir jernih. Konversi tidaklah seperti membalik telapak tangan. Lebih baik bila besarkan saja Unit Usaha Syariah yang ada saat ini beriringan dengan membesarkan Bank Konvensional yang ada. Masyarakat kita akan lebih memiliki pilihan, bisa konvensional atau syariah untuk bermitra dengan Bank Nagari. Tegasnya bagi yang tak ingin dengan konvensional maka bisa menempatkan dananya di Unit Usaha Syariah yang sudah ada, bagi yang tak ingin dengan sistem syariah bisa bermitra dengan yang konvensional.

Terakhir saya mengimbau akan jauh lebih arif dan bijak bila kita sebagai kepala daerah memaksimalkan pikiran dan waktu kita untuk membatasi penyebaran Covid-19 dan membenahi ekonomi daerah yang sudah rontok akibat Covid-19. Ini jauh lebih urgen dan lebih menyentuh kepentingan hidup orang banyak. *)

Penulis adalah Walikota Pariaman

(Tulisan yang sama sudah terbit di “Teras Utama”, Harian Padang Ekspres, dan “Komentar” Harian Singgalang, Senin 12 Juli 2021)

Gubernur Sumbar Ikuti Prosesi Doa Untuk Indonesia Bersama Presiden RI

0

Padang, investigasi.news Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi mengikuti prosesi doa bersama lintas agama bertajuk #PrayFromHome: Dari Rumah untuk Indonesia, yang dilaksanakan secara virtual bersama Presiden Joko Widodo, Minggu (11/7/2021)

Doa itu sebagai salah satu ikhtiar untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia.

Dalam acara itu Presiden Joko Widodo mengatakan untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia, selain berbagai upaya secara lahir, diperlukan juga upaya secara batin dengan memanjatkan doa kepada Allah Swt.

“Dalam menghadapi situasi sulit ini, selain ikhtiar dengan berbagai usaha lahiriah, kita juga wajib melakukan ikhtiar batiniah, memanjatkan doa, memohon pertolongan Allah Swt., agar beban kita diringankan, agar rakyat, bangsa, dan negara juga dunia segera terbebas dari pandemi,” ujar Presiden yang mengikuti acara dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat.

Menurut Presiden, saat ini seluruh dunia masih berjuang untuk bebas dari pandemi Covid-19. Untuk menghadapinya, diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa karena pemerintah juga tidak bisa bekerja sendirian.

“Semua pihak harus berkolaborasi, bekerja sama, saling tolong-menolong, bergotong royong untuk mengatasi ujian yang maha berat ini,” imbuhnya.

Presiden juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh elemen bangsa yang setia membangun optimisme dan semangat kebersamaan dalam berbagai gerakan kerelawanan sosial dan ekonomi demi meringankan beban masyarakat. Presiden bersyukur bahwa pandangan ormas-ormas keagamaan senafas dengan kepentingan untuk menjaga kepatuhan umat dalam melaksanakan protokol kesehatan.

“Kerja keras pemerintah mengatasi persoalan wabah Covid-19 ini tidak mungkin berhasil tanpa dukungan dan kesadaran, serta partisipasi masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga menyampaikan ungkapan dukacita yang mendalam kepada seluruh korban pandemi yang telah wafat. Presiden mengajak semua pihak untuk mendoakan mereka, sekaligus mendoakan semua masyarakat yang saat ini sedang terpapar Covid-19 agar segera bisa sehat kembali.

“Dari rumah masing-masing, mari kita tundukkan kepala, menghentikan cipta, doa dari rumah kita panjatkan, dan berikhtiar agar ujian pandemi ini segera berakhir. Yakinlah, yakinkan keluarga dan lingkungan terdekat agar beraktivitas di rumah saja,” ujarnya.

“Mengatasi persoalan Covid-19 merupakan ijtihad kebangsaan kita hari ini karena bertujuan menyelamatkan jiwa dan kemaslahatan kita bersama. Semoga Tuhan melindungi bangsa Indonesia dan menjadikan negara ini aman, maju, dan sejahtera,” tutupnya.

Sementara itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam laporannya mengatakan, acara #PrayFromHome ini merupakan kelanjutan dari acara Hening Cipta Indonesia yang telah dilaksanakan pada Sabtu, 10 Juli 2021, pukul 10.07 WIB. Menteri Agama juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa berdoa sesuai agama dan keyakinan masing-masing agar Tuhan Yang Mahakuasa memberi rahmat, ampunan dan perlindungannya kepada bangsa Indonesia dan seluruh umat manusia.

“Dalam agama diajarkan bahwa doa adalah senjata orang yang beriman, doa adalah penenang jiwa, dan doa merupakan penumbuh optimisme di dalam kehidupan. Semoga kejadian luar biasa Covid-19 ini disegerakan berakhirnya. Sebagai orang yang beriman, kita yakin bahwa hanya Allah Swt., hanya Tuhan Yang Maha Pencipta yang bisa menolong dan menyelamatkan kita semua, setelah semua usaha lahir dilakukan,” kata Yaqut.

Pada acara #PrayFromHome tersebut, pembacaan doa disampaikan oleh enam pemuka agama yakni K.H. Quraish Shihab (Islam), Pendeta Lipius Biniluk (Protestan), Kardinal Suharyo (Katolik), I Nengah Dana (Hindu), Bhante Sri Pannavaro Mahathera (Buddha), dan Xs. Budi Tanuwibowo (Konghucu).

Rel

Sumbar Segera Miliki Insenerator Limbah B3 Berkapasitas 7 Ton

0

Padang, INVESTIGASI.NEWS – Sumatera Barat segera memiliki insenerator atau alat pemusnah sampah limbah B3 dengan kapasitas mencapai 7 ton perhari yang merupakan bantuan dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI.

“Insenerator ini mampu memusnahkan 300 kg sampah perjam dan bisa terus-menerus beroperasi selama satu hari penuh sehingga kapasitasnya bisa mencapai 7 ton per hari,” Kata gubernur Sumatera Barat Mahyeldi saat meninjau insenerator di TPA Air Dingin,Kelurahan Balai Gadang,Kec. Koto Tangah,Kota Padang,Minggu.

Menurut Gubernur agar fungsi insenerator dapat digunakan secara maksimal maka perlu dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang memadai, diantaranya jalan yang cukup lebar menuju lokasi, sehingga truk pengangkut sampah B3 bisa melewatinya.

“Ini yang sedang kita tinjau hari ini, untuk persiapan fasilitas-fasilitas penunjang Karena tanpa itu nanti alat ini tidak bisa bekerja secara maksimal,”ujar gubernur.

Diharapkan pada awal 2022 semua fasilitas tersebut telah terbangun dan insenerator bisa segera dimanfaatkan untuk memusnahkan limbah B3 dari seluruh rumah sakit di Sumatera Barat.

Kepala Dinas Lingkungan hidup Sumbar mengatakan insenerator itu tidak bisa dioperasikan hanya satu atau dua jam saja perhari karena tidak efektif dan efesien karena menyebabkan pemborosan BBM.

Agar lebih efektif alat itu harus bekerja cukup lama atau bahkan nonstop selama 24 jam sehingga biaya operasional bisa lebih murah.

Untuk itu maka perlu dikoordinasikan agar seluruh sampah B3 di Sumatera Barat baik dari rumah sakit atau dari fasilitas lain yang menghasilkan limbah harus dimusnahkan di insenerator tersebut.

Kepala Dinas PU Sumbar Fathul bari menyebutkan pihaknya akan segera berupaya membangun jalan agar lokasi insenerator tersebut bisa dijangkau oleh truk truk yang berkapasitas besar.

“Kalau untuk operasional butuh jalan sepanjang 300 meter dengan lebar 7 meter. Untuk itu dibutuhkan dana sekitar Rp4 miliar. Namun karena alat ini segera digunakan, maka diperubahan bisa kita upayakan cor di titik-titik tertentu agar bisa dilewati truk,” katanya.

Pembangunan jalan yang lebih representatif akan dikerjakan pada 2022.

REL