Jangan Berharap ke Manusia, Tapi Berharaplah Kepada Allah SWT Supaya Tidak Kecewa

More articles

spot_img

Pada tahun 1980-an, di tempat tinggal penulis hanya ada satu rumah yang memiliki kulkas besar. Pemilik kulkas tersebut juga memiliki dua gerobak es yang setiap hari berkeliling kampung untuk menjajakan es, selama cuaca cerah. Penjual es ini masih bersekolah di Sekolah Dasar (SD) yang sama dengan anak-anak di desa tersebut. Selain bersekolah, ia juga bekerja mencuci piring di warung sekolah.

Perjuangan Seorang Penjual Es
Setiap pagi sebelum sekolah, penjual es ini membantu di warung sekolah dengan mencuci piring. Pemilik warung, meskipun awalnya ragu, akhirnya menerima bantuannya setelah melihat betapa repotnya mengurus warung yang ramai oleh siswa SD Inpres 75/76. Suatu hari, pemilik warung yang dipanggil “etek” memberinya uang sebesar 900 rupiah sebagai tanda terima kasih atas bantuannya. Penjual es itu terkejut dan merasa tidak perlu menerima uang tersebut, karena selama ini ia sudah diberi makanan dan minuman gratis. Namun, etek tersebut berkata, “Ini rezekimu. Kamu bekerja dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, hanya berharap kepada Allah.”

Etek itu menyisihkan uang sebesar 150 rupiah setiap hari dari hasil penjualannya untuk diberikan kepada penjual es tersebut. Meski awalnya penjual es merasa tidak perlu dibayar karena sudah mendapatkan makanan yang cukup, etek tetap memberikannya sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras dan ketulusan hati penjual es. Kata-kata etek tersebut meninggalkan kesan mendalam di hati penjual es. Dia menyadari bahwa kebaikan yang dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan dari manusia, pada akhirnya akan mendapatkan balasan yang lebih dari Allah.

Dedikasi dan Keikhlasan
Setiap pulang sekolah, penjual es itu tidak seperti anak-anak lain yang bermain. Ia langsung pulang, shalat, dan kemudian membantu saudaranya yang memiliki gerobak es. Pada hari Minggu, ia bahkan menjual hingga 400 es dengan jarak tempuh pulang-pergi 24 kilometer. Keikhlasannya dalam membantu saudaranya menjual es membuatnya tidak pernah merasa terbebani, meskipun harus menempuh jarak yang jauh dan mengorbankan waktu bermainnya.

Suatu hari, saat sedang berkeliling menjajakan es, ia bertemu dengan seorang bapak tua yang kesulitan membawa dua karung kulit manis. Bapak tua itu terlihat sangat lelah dan tidak sanggup membawa kedua karung tersebut. Penjual es itu, dengan hati yang tulus, menawarkan bantuan meskipun ia tahu beratnya tugas tersebut. “Bapak bisa naikan satu karung ke gerobak ini dan bawa satu lagi di sepeda,” katanya. Bapak tua itu awalnya menolak, merasa tidak enak jika harus membayar untuk bantuan tersebut. Namun, penjual es bersikeras bahwa ia tidak perlu membayar.

Malam yang Berkesan
Malam harinya, ketika penjual es hampir tiba di tujuan, ia bertemu lagi dengan bapak tua tersebut yang sudah diantar oleh anaknya menggunakan sepeda motor. Bapak tua itu memberikan uang 200 rupiah sebagai tanda terima kasih, tetapi penjual es itu menolak. “Saya ikhlas membantu, Pak. Tidak usah membayar,” katanya dengan senyum tulus. Bapak tua itu terharu dan mengucapkan terima kasih. Sang anak yang mengendarai sepeda motor juga mengucapkan terima kasih dan berkata bahwa ayahnya sangat terbantu dengan bantuan penjual es.

Keesokan harinya, anak dari bapak tua tersebut datang ke warung sekolah dan menitipkan uang 2000 rupiah kepada etek. Anak tersebut meminta maaf karena ayahnya tidak bisa memberikannya langsung kepada penjual es. Uang itu adalah bentuk terima kasih yang tulus karena penjual es telah membantu tanpa mengharapkan imbalan. Etek memberitahukan hal ini kepada penjual es ketika ia datang membantu mencuci piring di warung. “Ini rezeki yang tidak terduga. Kamu memang anak yang baik dan ikhlas,” kata etek.

Pelajaran Hidup yang Berharga
Dari pengalaman ini, penjual es yang sekarang sudah dewasa dan menulis artikel ini, menyadari satu pelajaran hidup yang sangat berharga. Berharap kepada manusia sering kali berujung kekecewaan. Namun, berharap kepada Allah tidak pernah mengecewakan. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan, akan mendapatkan balasan yang tak terduga dari Allah.

Kisah ini mengajarkan bahwa dalam hidup, kita harus selalu berbuat baik dengan niat tulus. Berharaplah kepada Allah dalam setiap perbuatan baik kita, karena Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki dan balasan. Seperti yang terjadi pada penjual es ini, ketulusan hatinya dalam membantu orang lain, baik itu etek di warung sekolah maupun bapak tua dengan karung kulit manis, telah mendapatkan balasan yang tak terduga.

Hidup memang penuh dengan tantangan dan kesulitan. Namun, dengan berharap kepada Allah dan tidak mengharapkan imbalan dari manusia, kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan sejati. Semoga kita semua bisa belajar dari kisah ini dan selalu ingat bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hambanya yang tulus ikhlas.

Penulis: Hasneril, SE

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img

Latest

spot_img