Menuju Akreditasi Internasional yang Mengakomodir MBKM, Sastra Inggris FIB Unand Kembangkan Kurikulum

PADANG, Investigasi.news – Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas mengadakan diskusi grup berfokus (FGD) dengan stakeholder, Senin (19/12/2022). Kegiatan FGD yang digelar tiap pekan dan mengundang tidak hanya alumni ini telah dimulai Unand programnya sejak Oktober 2022 lalu.

Dipimpin langsung oleh Ketua Prodi Sastra Inggris dengan melibatkan Tim Kurikulum prodi serta pendampingan dari Fakultas Ilmu Budaya Unand, beberapa agenda terkait pengembangan dan revisi kurikulum masih terus berjalan.
Kembali, pada tanggal 19-20 Desember 2022, FGD dilaksanakan dengan mengundang pengguna untuk memberikan masukan terkait kurikulum prodi Sastra Inggris. Hadir pada kesempatan ini, Yulitri Susanti selaku sekretaris Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat, Sadella Evrita selaku Pimpinan Bank Nagari Cabang Universitas Andalas, dan Delita Sartika selaku Wakil Dekan I FKIP Universitas Jambi. Acara FGD ini dihadiri oleh dosen Prodi Sastra Inggris termasuk tim kurikulum yang ditugaskan dalam melaksanakan kegiatan ini.

Kegiatan FGD sendiri, disebutkan Kaprodi Sastra Inggris Novalinda, bertujuan untuk mendapatkan masukan terkait instansi-instansi tempat lulusan Prodi Sastra Inggris bekerja, kompetensi yang diutamakan, maupun sikap perilaku yang relevan dibutuhkan oleh mereka. Masukan-masukan tersebut menjadi sumber data yang akan dimanfaatkan oleh Prodi Sastra Inggris melalui tim revisi kurikulum dalam mengakomodir perubahan-perubahan dan kebutuhan yang wajib dimiliki lulusan untuk bekerja di instansi di mana para pengguna akan memakai mereka.

“Diharapkan, masukan-masukan tersebut dapat diimplementasikan sesegera mungkin pada revisi kurikulum mengingat urgensinya pada calon-calon lulusan di masa depan,” sebut Novalinda.

Senada, Ketua Tim Kurikulum, Diah Tjahaya Iman, menjelaskan, masukan dari stakeholder akan menjadi referensi bagi tim untuk merevisi kurikulum.

“Kita akan akomodasi penilaian stakeholders terhadap lulusan kita sehingga kita semakin yakin dengan kompetensi lulusan melalui kurikulum yang dikembangkan,” ujar Diah Tjahaya Iman.

Itulah sebabnya, dikatakan, kegiatan ini dilaksanakan secara maraton agar pihak yang diundang tidak terbatas pada mereka dengan pekerjaan tertentu saja tetapi bisa mewakili stakeholder lainnya.

“Dalam kegiatan ini, memang kita melibatkan mahasiswa dan dosen sebagai internal stakeholder, dan alumni serta pengguna sebagai external stakeholders,” sebut Diah lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Dekan 1 FIB Unand Ike Revita menyebutkan, revisi kurikulum perlu dilakukan secara periodikal.

“Apalagi sekarang, pendidikan sudah berbasis luaran, dan adanya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) membuat setiap prodi harus memiliki kurikulum yang fleksibel,” jelas Ike.

Dijelaskan, kurikulum adalah rohnya program studi, karena dari kurikulum nanti akan dikeluarkan produk, yaitu kompetensi lulusan.

“Apalagi sekarang pendidikan sudah berbasis luaran atau Outcome-Based Education (OBE), sehingga jika kita tidak mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar maka lulusan yang kita lahirkan tentu tidak akan diserap. Oleh karena itu, kurikulumlah yang menjadi basisnya dan perlu ditinjau secara periodikal,” tegas Ike. Rel